TATAP MUKA KEPALA BKKBN RI DENGAN PERWAKILAN PKB/PLKB SE INDONESIA

Oleh : Saiful Anugrahadi

Di tengah-tengah kesibukannya mengikuti rangkaian acara Hari Keluarga Nasional ke 26 yang padat, Kepala BKKBN RI yang baru, Dr. Hasto Wardoyo, SP.OG.(K) menyempatkan diri untuk bertemu dan bertatap muka dengan sekitar 150 orang perwakilan PKB/PLKB dari seluruh Indonesia. Kegiatan di laksanakan hari Jum’at siang tanggal 5 Juli 2019 di Balai Pelatihan dan Pengembangan (Latbang) Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan. Pertemuan yang berlangsung dengan penuh keakraban tersebut dihadiri pula oleh seluruh Pejabat Tinggi Madya BKKBN Pusat.

Dalam pengarahannya, Kepala BKKBN Pusat yang baru dilantik pada tanggal 1 Juli 2019 tersebut menyebutkan bahwa menjadi seorang Penyuluh KB tidaklah mudah karena harus mengenal karakter dan prilaku masing-masing individu yang akan disuluh, dengan filosofinya masuk melalui pintu dia/sasaran namun keluar harus melalui pintu kita/penyuluh. Artinya bahwa seorang Penyuluh KB pada awalnya harus mengikuti dan merespon kemauan sasaran, namun di akhir proses sasaran sudah dapat mengikuti kemauan penyuluh. Karena itu sangat penting bagi seorang Penyuluh KB untuk mempelajari atau paling tidak mengetahui ilmu Fisognomi atau ilmu membaca karakter seseorang melalui wajah karena wajah merupakan organ tubuh yang biasanya tidak tertutup. Selain itu, untuk melihat wajah sesorang, kita tidak perlu meminta izin kepada yang bersangkutan. Penguasaan ilmu Fisognomi akan member manfaat yang besar sekali terutama yang berhubungan antar manusia.

Lebih lanjut, dokter yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Kulon Progo Yogyakarta dan Konsultan Kesehatan Reproduksi dan bayi tabung menambahkan bahwa kunci sukses jadi Penyuluh KB adalah sederhana, yaitu mengulang-ulang kata-kata klien/sasaran dan memperbanyak reward non-material. Profesi Penyuluh KB sama dengan guru, dan Penyuluh KB yang senior seringkali terkena sindrom penyakit “I know – I Know” atau penyakit sombong, merasa paling tahu dan paling ngerti dan paling bisa. Oleh karena itu, setiap Penyuluh KB perlu juga melakukan down-grade diri untuk tetap bisa merasa rendah, tetap belajar dan tidak sombong. Selain itu, PKB/PLKB juga harus mencintai profesinya dan setiap hari harus memiliki target kegiatan yang harus di eksekusi.

Sementara itu, dalam kesempatan dialog dengan PKB/PLKB dan PLKB Non-PNS Dr. Hasto Wardoyo berjanji akan memperjuangkan untuk meningkatkan status para tenaga penyuluh non PNS agar diterima melalui jalur rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Pernyataan tersebut setelah mendengar dari keluhan dan curhatan pengurus ikatan penyuluh KB (IPeKB) beberapa provinsi di Indonesia yang diberikan kesempatan untuk berbicara pada kesempatan itu. “Kalau rekrutmen P3K ini tidak diintervensi, maka saya khawatir bukan penyuluh non PNS kita yang akan diterima, tetapi orang lain sehingga saya sedang memikirkan agar rekrutmen P3K khusus tenaga penyuluh ada kriteria atau perlakuan khusus sehingga semua penyuluh kita yang non PNS memiliki peluang besar untuk bisa terakomodir,” katanya.

Hasto Wardoyo sangat mengapresiasi semangat para tenaga penyuluh KB yang ada di lapangan baik yang PNS maupun non PNS yang menjadi ujung tombak keberhasilan program KKB0K di lapangan, meskipun dengan kondisi jumlah tenaga yang terbatas tidak sebanding dengan jumlah penduduk atau keluarga yang didampingi, termasuk luasnya wilayah yang dijangkau. (Saiful A).