KETIKA GADGET MENGALAHKAN KEHANGATAN DAN KEHARMONISAN KELUARGA

(PERSEMBAHAN HUT IPEKB KE 12)

OLEH : H. SAIT MASHURI (PKB Madya Kecamatan Sikur)

Keluarga adalah unit terkecil bagi sebuah bangsa. Dalam Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dalam Ketentuan Umum pasal 1 ayat 6 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

Di era milenial saat ini, kehidupan keluarga dihadapkan pada banyak tantangan yang harus disikapi dengan bijak. Tantangan terberat yang dihadapi oleh keluarga keluarga Indonesia saat ini adalah bagaimana menemukan kembali jatidiri, keakraban dan keharmonisan keluarga di tengah-tengah serbuan teknologi informasi yang tak mengenal batas ruang dan waktu. Dari bangun tidur sampai dengan tidur lagi kita sudah disibukkan dengan gadgetnya masing-masing.

Manusia sudah tidak bisa lagi dipisahkan dengan gadgetnya. Mulai dari bangun tidur yang pertama dilihat adalah media sosialnya, pun demikian menjelang tidur, tidak nyenyak rasanya memejamkan mata sebelum melihat media sosialnya; mulai dari WA, Facebook, Instagram dan lain lainnya.

Kecanduan teknologi membuat banyak orang yang lebih nyaman berinteraksi dengan gadgetnya dibanding dengan sekelilingnya. Interaksi dalam dunia maya  seakan menjadi nyata, sebaliknya interaksi dalam dunia nyata hanya angan belaka. Tidak dipungkiri kemajuan teknologi memang memberi kemudahan dalam segala hal termasuk dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Namun di lain pihak jika salah mensikapi justru kemajuan IT banyak menjadikan interaksi kita dengan sesama dalan dunia nyata semakin tergerus oleh interaksi kita dengan  dunia maya yang semakin menggila. Oleh karena itu diperlukan kearifan kita dalam mensikapi kemajuan IT yang semakin pesat ini.

LANGKAH LANGKAH MEWUJUDKAN KELUARGA HARMONIS

            Untuk mewujudkan keluarga yang harmonis, setidaknya ada 6 tahapan yang harus diperhatikan oleh generasi milenial sebelum memasuki kehidupan berkeluarga

  1. Menikah di usia ideal.

Berdasarkan Surat Edaran Gubernur NTB nomor 180/1153/KUM 2014 tentang PUP,usia yang ideal bagi seorang wanita untuk melangsungkan perkawinan adalah 21 tahun sedangkan untuk pria adalah 25 tahun. Usia ini dianggap ideal baik untuk wanita maupun untuk pria, karena di usia ini secara psycologis dan biologis sudah siap untuk menjalankan kehidupan baru sebagai suami istri disamping kesiapan secara ekonomi.

  1. Kembangkan Hubungan Sosial

Setelah menikah masing-masing pihak hendaknya menjalin hubungan sosial dengan kerabat dekat masing-masing agar terjalin hubungan sosial yang akrab diantara keluarga yang telah disatukan dengan tali pernikahan. Disamping itu juga perlu menjalin hubugan sosial dengan masyarakat sekitar seperti tetangga dan kelompok-kelompok sosial lainnya agar tercipta hubungan yang baik dengan lingkungan sosial sekitarnya sebagai bagian dari masyarakat yang baru memulai hidup berkeluarga.

  1. Rencanakan jumlah anak

Tahap berikutnya setelah melangsungkan pernikahan adalah merencanakan berapa jumlah anak yang ideal yang ingin dilahirkan. Keluarga hendaknya menghindari 4 T yaitu : Terlalu banyak melahirkan, Terlalu dekat jarak antara anak yang satu dengan anak yang kedua, Terlalu muda melahirkan dan terlalu tua. Jadi usia yang baik untuk melahirkan adalah kisaran usia 21 – 35 tahun. Di rentan usia ini pasangan suami istri dapat merencanakan jumlah anak yang ideal yang diinginkan dan member ASI ekslusif  selama enam bulan dan memberikan asi  sampai usia dua tahun.

  1. Mengatur Jarak Kelahiran Anak.

Mengatur jarak kelahiran antara anak yang satu dengan anak berikutnya adalah hal penting untuk diperhatikan demi untuk kesehatan ibu dan anaknya. Dengan mengatur jarak kelahiran, seorang ibu dan ayah dapat mengasuh dan membesarkan anaknya secara baik. Jarak yang baik untuk anak yang pertama dengan anak selanjutnya adalah antara 3 sampai 5 tahun. Prinsipnya jangan sampai ada dua balita dalam sebuah keluarga, sebab bila ini terjadi maka anak akan kehilanagan kasih sayang orang tua. Oleh karena itu agar hal ini terjadi hendaknya para keluarga milenial memakai alat kontrasepsi sebagai upaya untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Maka alat kontrasepsi yang disarankan adalah implant atau IUD.

  1. Rawat dan Asuh Anak Balita Dengan Optimal.

Untuk menciptakan SDM yang berkualitas diperlukan perencanaan yang matang dari para keluaga-keluarga Indonesia. Seorang ibu adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dan rumah adalah sekolah yang pertama bagi anak-anak kita.  BKKBN telah menyusun berbagai program untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-undang nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Sejak usia balita ada poktan BKB yang member ketrampilan kepada ibu-ibu tentang pola asuh anak dan memantau tumbuh kembang anaknya melalui KKA yang ada di dusun-dusun. Setelah remaja ada namanya kelompok BKR dan PIK-R yang memberI informasi-informasi yang penting tentang masalah remaja. Dan ketika telah memasuki usia lansia ada poktan khusus untuk keluarga lansia yang bernama BKL (Bina Keluarga Lansia).

Boleh dikatakan dari sejak dalam kandungan BKKBN telah merumuskan banyak program untuk membetuk keluarga yang berkualitas dan harmonis yang tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan sebuah norma keluarga kecil yang hidup dalam kebahagian dan kesejahteraan atau yang familiar ditelinga bangsa kita dengan singkatan “NKKBS” sebuah norma keluarga yang kini menjadi budaya keluarga-keluarga Indonesia.

6.Berhenti Melahirkan di Usia 35 Tahun.

Ketika pasangan usia subur telah memasuki usia 35 tahun ke atas hendaknya pasangan suami  istri sudah merencanakan untuk berhenti melahirkan. Usia 35 tahun keatas adalah usia yang rentan dan beresiko tinggi untuk melahirkan. Maka sebaiknya pada tahap ini PUS dianjurkan untuk memakai metode alat kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD  atau MOW untuk wanita dan MOP untuk pria. Keputusan untuk berhenti melahirkan hendaknya disepakati oleh suami istri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari, sehingga pada tahap ini keluarga dapat mencurah sebagian besar waktu dan kasih sayangnya untuk mengasuh dan mendidik anaknya dengan baik. Perencanaan yang matang tentang jumlah anak dan pendidikannya akan dapat mempermudah keluarga untuk mencetak keluarga yang berkualitas dan SDM yang handal untuk kepentingan bangsa, sehingga kedepan ketika anak akan membentuk keluarga baru tidak akan menjadi beban bagi orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Segala sesuatu yang direncanakan dengan baik maka endingnya akan terasa indah dan memuaskan.

KETIKA GADGET MENGALAHKAN KEHANGATAN DAN KEHARMONISAN KELUARGA DAN PASANGAN HIDUP

Lima belas abad yang silam sebelum BKKBN memprogramkan Keluarga Harmonis, sebelum ada drama seri Keluarga Cemara Baginda Rosul pernah mengatakan “Baitii Jannatii” Rumahku adalah Surgaku. Ungkapan ini begitu popular dan familiar di masyarakat karena sering disuarakan dalam khutbah-khutbah Jumat atau di majlis-majlis ilmu.

Rumahku adalah Surgaku merupakan gambaran keluarga Sakinah,Mawaddah Warohmah (SAMARA), keluarga yang penuh keharmonisan dan kehangatan antar anggotanya, keluarga yang penuh tawa canda ria cinta dan kasih sayang dan penuh dengan nilai-nilai religius antar warganya. Rumahku adalah Surgaku merupakan gambaran sebuah keluarga dan rumah tangga yang penuh dengan kedamaian, keharmonisan dan kehangatan antar anggota. Lalu bandingkan dengan keluarga-keluarga kita di jaman milenial ini.

Kemajuan IT telah merubah segalanya dalam keluarga kita, Hampir sebagian besar waktu kita tersita oleh medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram WA dan medsos lainnya. Ayah dan Ibu disibukkan dengan smartponenya masing-masing dan anak-anak kecanduan dengan game online mobile agent dan game-game online lainnya. Ketika bangun tidur hal yang pertama dibuka adalah Hp pun demikian sebelum tidur, belum nyenyak rasanya tidur malamnya sebelum membuka medsos.Suami istri lebih sibuk dengan dunia mayanya daripada berbagi cerita tentang anak-anak dengan pasangan tidur yang ada disampingnya. Bahkan maaf dalam sehari mungkin lebih banyak menyentuh layar HP daripada memberikan kehangatan pada pasangan hidupnya. Dunia maya seolah lebih menarik daripada dunia nyatanya. Inilah realitas jaman milenial saat ini. Keharmonisan dan kehangatan keluarga dan pasangan hidup seolah hampa dan hambar di dalam kehidupan keluarga-keluarga Indonesia. Kemajuan gadget telah merampas kehangatan dan keharmonisan keluarga dan pasangan hidup kita Menonton TV yang dulu banyak menyita waktu bergeser dan beralih ke ponsel yang tiap tahun berganti model dan typenya.Ponsel seolah menjadi barang yang tidak bisa dipisah dalam hidupnya. Ponsel seolah menjadi kekasih yang tak bisa jauh dalam hidupnya bak legenda Romeo dan Juliet.

MARI KEMBALI KE MEJA MAKAN

Dalam salah satu indicator pendataan keluarga disebutkan bahwa salah satu kriteria keluarga sejahtera apabila minimal dalam satu hari keluarga makan bersama dengan seluruh anggota keluarganya. Meja makan dan saat-saat makan bersama adalah saat-saat yang membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga. Hal ini dapat kita rasakan pada momen beberapa bulan yang lalu saat kita makan sahur dan berbuka bersama keluarga. Oleh karena itu gerakan kembali ke meja makan adalah upaya strategis untuk menemukan kembali keharmonisan dan kehangatan keluarga dalam keluarga-keluarga kita.

Meja makan adalah media yang ampuh untuk menjalin kembali keharmonisan yang telah retak. Beberapa hari yang lalu media TV Nasional ramai-ramai meberitakan bagai mana ampuhnya “makan nasi goreng bersama” ala Prabowo Subianto dan Megawati  telah mampu menemukan kembali keharmonisan yang telah retak yang disebabkan oleh perbedaan pilihan politik pada Pilpres 2019 yang lalu. Maka untuk menemukan kembali keharmoisan dan kehangatan keluarga kita, mari segenap PLKB dan PKB untuk menggaungkan kembali  “gerakan kembali ke meja” kepada keluarga-keluarga Indonesia terutama keluarga milenial agar jangan sampai gadget mengkudeta keharmonisan kehidupan keluarga. Semoga momentum Harganas 2019 dan Hari lahirnya IPEKB tanggal 26 Juli 2019 ini mampu menggerakkan keluarga-keluarga Indonesia menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera. Selamat ulang tahun yang ke dua belas, semoga di usia yang masih belia ini IPEKB tetap berkiprah untuk kesejahteraan dan kebahagian keluarga-keluarga Indonesia.

 

Sikur, medio 26 Juli 2019

Penulis

H, SAIT MASHURI, SH.