Program Ketahanan Keluarga Gandeng KKN Perguruan Tinggi

Mataram – BkkbN Online : Undang-undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pasal 47 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menetapkan Kebijakan Pembangunan Keluarga melalui Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga. Ketahanan keluarga adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.

Dra. Baiq Nurhayati Kabid KSPK Perwakilan BKKBN Provinsi NTB Mengatakan  Upaya Peningkatan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga yang dilakukan oleh BKKBN Untuk mengoptimalkan 8 fungsi keluarga melalui pembentukan karakter yang dilaksanakan dengan pembentukan dan pengembangan kelompok Bina Ketahanan Lansia (BKL), serta penyediaan akses informasi dan pelayanan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga melalui Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) yang tersebar diseluruh Indonesia. Untuk itulah peran KKN di perguruan tinggi sangat strategis untuk membantu program – program pemerintah tambah Nurhayati.

Dunia telah memasuki revolusi industri 4.0 ditandai hadirnya sistem siber fisik, yakni sistem menggabungkan teknologi fisik dengan kekuatan siber atau internet. Teknologi komputer tak lagi sekedar perangkat fisik tapi lebih ke teknologi perangkat lunak yang berbasis internet dan kecerdasan buatan. “Informasi beredar begitu bebas, tak hanya orangtua dan orang dewasa tapi juga menerpa anak-anak. Saat ini, anak-anak pun sudah dapat memesan makanan via gadget dengan begitu mudah,” demikian ungkap Wahyu Hidayat Yusuf, S.S.,M.Sc Kasubbid BKBAKKL Perwakilan BKKBN Provinsi NTB. Hal ini bisa berdampak baik dan buruk dan menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga hubungan yang seharusnya terjalin dengan baik  bersama lansia tapi terhalang dengan penggunaan gadget yang berlebihan. Pengaruh gawai menyebabkan kurangnya komunikasi di antara anggota keluarga, ujarnya.

Wahyu menambahkan akibat penggunaan gadget berlebihan berdampak pada masalah berikutnya, antara lain bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap anak, obesitas, kurang olahraga, meningkatnya penggunaan obat ilegal, dan tentunya lansia akan merasa semakin terpinggirkan dan  sebagainya. Jadi pembentukan kelompok BKL dan PPKS sangat diperlukan di era Revolusi Industri 4.0 ini, tutup Wahyu.

Kegiatan Pendampingan Pengelolaan dan Pembinaan BKL dan PPKS Melalui Peran KKN Perguruan Tinggi tersebut diselengarakan di Desa Stanggor kabupaten Lombok Tengah dengan melibatkan 100 peserta yang terdiri dari Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Lansia, pelajar dan Mahasiswa KKN Universitas Islam Negeri Mataram. (why)