LOKUS DESA STUNTING LOTIM BERTAMBAH

Jumlah Desa/kelurahan stunting di Lombok Timur tahun 2019 ini bertambah sebanyak 32 desa dengan jumlah penderita sebanyak 4.329 anak  Tambahan desa/kelurahan stunting tersebut terdapat pada 13 kecamatan, yaitu kecamatan Sikur 5 desa, Sembalun 4 desa, Aikmel 6 desa, Priggabaya 3 desa, Jerowaru 3 desa, Lenek, Sambelia dan Suralaga 2 desa serta Kecamatan Suela, Selong, Sakra Timur, Terara dan Masbagik masing-masing 1 desa, Penentuan lokus tambahan desa/kelurahan stunting didasarkan melalui rangking tertinggi jumlah balita stuntingnya melebihi rata-rata kabupaten, yaitu 67 anak/desa.. Dengan demikian, jumlah total desa/kelurahan stunting di kabupaten Lombok Timur telah mencapai 100 desa/kelurahan dengan jumlah penderita sebanyak 5.521 anak. Prevalensi bayi di bawah lima tahun (balita) penderita stunting di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) tertinggi di NTB. Sesuai hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 lalu menyebutkan jumlah anak yang stunting di Kabupaten Lombok Timur sebesar 43, 52 persen.


Stunting sebagai salah satu persoalan kesehatan yang berdapak pada kualias sumberdaya manusia menjadi perhatian pemerintah. Stunting merupakan implikasi pola asuh yang kurang baik. terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses keluarga terkait makanan bergizi, juga akses air bersih yang kurang. karenanya dibutuhkan upaya tepat melalui program intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. Menurut UNICEF, stunting terjadi pada anak-anak usia 0 sampai 59 bulan dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak. Bedasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sekitar 37,2 persen anak Indonesia di bawah usia 5 tahun mengalami stunting. Hal ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dengan manifestasi kegagalan pertumbuhan (growth faltering) yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Kekurangan gizi pada masa janin dan usia dini akan berdampak pada perkembangan otak, rendahnya kemampuan kognitif yang akan mempengaruhi prestasi sekolah dan keberhasilan pendidikan. Dalam jangka panjang, kekurangan gizi pada awal kehidupan akan menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indoneisa (FK-UI) Damayanti S Sjarif mengatakan bahwa masalah stunting akan sulit diperbaiki pada anak jika sudah melewati masa 1000 hari pertama kehidupan. Meskipun demikian, kalau melihat grafik pertumbuhan, masih ada satu kesempatan saat jelang pubertas. Kita berikan makanan yang benar, dengan memperbanyak protein hewani yang cukup.

Lebih lanjut, menurut Damayanti, pencegahan Stunting bisa dilakukan dengan cara-cara memberikan anak gizi seimbang agar tubuhnya bisa bertambah tinggi  dan untuk perkembangan otak anak, melakukan aktivitas fisik, minimal olah raga 30 menit setiap hari, serta jangan biarkan anak tidur larut malam agar anak mendapat istirahat yang cukup. Hasil pengamatannya menyatakan bahwa, “Ternyata hormon pertumbuhan itu kerjanya pukul 00.00 sampai 01.00 malam. Dia (hormone tersebut) bekerja kalau tidur nyenyak. Dengan cara itu anak bisa akan bias tumuh tinggi.

Stunting merupakan persoalan bersama karena menyangkut masa depan bangsa dan harus diselesaikan dengan menyatukan gerak langkah dalam pembangunan di semua sektor. dan langkah tersebut harus dirumuskan bersama. Banyaknya anak stunting akan memengaruhi kualitas generasi muda Lombok Timur khususnya, dan Indonesia di masa mendatang, maka dari itu orang tua wajib memperhatikan tumbuh kembang anak sebelum terlambat. Dalam jangka panjang, kekurangan gizi pada awal kehidupan akan menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat. (Saiful A.)