KADIS DP3AKB BUKA SOSIALISASI DAN ORIENTASI BKL KAB. LOTIM

Data BPS menyebutkan bahwa penduduk lansia di Indonesia pada tahun 1970 berjumlah sekitar 5,3 juta jiwa (4,48%). Tahun 1990 berkembang menjadi 12,7 juta jiwa (6,29%) dan 2010 mencapai 18 juta jiwa (7,6%). Sementara 2020 diprediksikan jumlah lansia Di Indonesia sebanyak 28,8 juta jiwa (11,34%). Peningkatan jumlah penduduk lansia di Indonesia setiap tahunnya yang meningkat secara drastis, perlu mendapat perhatian khusus. Ini merupakan implikasi dari meningkatnya derajat kesehatan hidup penduduk di Indonesia.  Oleh karena itu diperlukan upaya khusus bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif agar lansia dapat tetap mandiri.

“Guna meningkatkan fungsi keluarga dalam memberdayakan lansia agar tetap sehat dan produktif serta menjadi lansia tangguh, telah dikembangkan kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL) yang saat ini telah terbentuk di seluruh kecamatan di Lombok Timur. Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) adalah wadah kegiatan bagi keluarga yang mempunyai lansia yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta keluarga dalam mewujudkan lanjut usia tangguh, yaitu lansia yang sehat, mandiri, poduktif dan bertaqwa sehingga tetap dapat diberdayakan dalam pembangunan dengan memperhatikan kearifan, pengetahuan, keahlian, keterampilan dan pengalamannya sesuai usia dan kondisi fisiknya.”

Hal tersebut disampaikan oleh drg. Asrul Sani M.Kes, Kepala Dinas Pemberbayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Lombok Timur pada Pembukaan Sosialisasi dan Orientasi Bina Keluarga Lansia (BKL) Tingkat Kabupaten Lombok Timur bagi kader di Kantor Balai Penyuluhan KB Kecamatan Selong, Senin 16 September 2019. “Yang dimaksud lansia disini adalah lansia awal 44-45 tahun, pra lansia 56-59 tahun dan lansia yang usianya lebih dari 60 tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut Asrul Sani mengatakann, Bina Keluarga Lansia atau BKL merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara berkelompok dengan tujuan meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan bagi keluarga yang mempunyai orang tua atau lanjut usia. Pengetahuan ini meliputi pola perawatan, pengasuhan, dan pemberdayaan kaum lansia agar kesejahteraannya dapat meningkat. Kelompok BKL merupakan sebuah terobosan, dalam rangka memberdayakan peran Lansia. Tujuan mulia program BKL ini akan terwujud apabila kelompok BKL yang ada dimasyarakat dikelola dengan baik oleh para kader. Sehingga para kader BKL perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan ini.

“Kami berharap setelah pelatihan ini, para kader dapat menerapkan ilmu yang diperolehnya, sehingga kelompok-kelompok BKL yang sudah terbentuk dapat lebih aktif berkegiatan dan kehidupan lansia di di Kabupaten Lombok Timur dapat menjadi lebih baik,” ujarnya lebih lanjut.

Sementara itu, Ir. Saiful Anugrahadi, nara sumber pada kegiatan sosialisasi dan orientasi tersebut menjelaskan bahwa Bina Keluarga Lansia (BKL) bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keluarga yang memiliki Lansia dan Lansia itu sendiri untuk meningkatkan kualitas hidup Lansia dalam rangka mewujudkan Lansia Tangguh. Lansia Tangguh adalah  seseorang atau kelompok yang mencapai optimalisasi masa tuanya secara berkualitas, sehingga tetap sehat  secara fisik, sosial dan mental selama siklus hidupnya, mandiri, aktif dan produktif dengan rasa aman yang didukung oleh lingkungan yang aman dan nyaman.

 

Adapun sasaran langsung Kelompok Bina Keluarga Lansia adalah keluarga yang mempunyai lansia atau keluarga yang semua anggotanya merupakan kaum lansia. Sedangkan sasaran tidak langsungnya, yang pertama adalah perorangan seperti guru, ulama atau pemuka agama, tokoh adat, pemuda, pemimpin organisasi dan para ahli yang memiliki ketrampilan di bidang psikolog, perawatan, kebidanan, dan dokter. Kemudian, yang kedua adalah lembaga pemerintah maupun swasta, seperti sekolah, organisasi perempuan, dan LSM atau Lembaga Swadaya Masyarakat.

Saiful lebih lanjut menjelaskan bahwa untuk membentuk lansia tangguh, ada tujuh dimensi yang harus dibangun pada diri lansia, yaitu dimensi spiritual, dimensi intelektual, dimensi fisik, dimensi emosional, dimensi sosisal kemasyarakatan, dimensi profesional vokasional dan dimensi lingkungan. Adanya program pembangunan dan penguatan tujuh dimesnsi lansia tersebut pada kelompok BKL, maka BKL dapat memberikan kontribusi terhadap terwujudnya Lansia tangguh. BKL mempunyai peran untuk memberdayakan mereka, sehingga kaum lansia tetap bisa berkarya dan memberi manfaat baik untuk dirinya sendiri atau orang lain. Pada akhirnya, mereka tidak akan merasa tersingkirkan lagi dari keluarga atau pergaulannya di masyarakat. (Saiful A).