PIK R dan BKR Sebagai “Emak Garang” BKKBN

Di suatu sore yang cerah, saya berjalan-jalan di Kawasan Jembatan Samota, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dengan tujuan olahraga ringan. Banyak yang melakukan aktivitas olahraga di sana. Ada yang lari, jalan santai, maupun bersepeda mengitari area taman di sepanjang jalan. Di tengah perjalanan jalan santai saya melihat  dua bapak-bapak paruh baya yang menegur dua bocah cilik yang hampir saja memetik tanaman bunga di taman tersebut. Kontan saja, bocah berusia lima tahun dan tujuh tahun itu langsung lari ketakutan. Sungguh bapak-bapak yang perduli lingkungan.

Setelah menegur dua bocah cilik tadi, kedua bapak itu lanjut melakukan aktifitas jalan sehatnya. Masih di kawasan tersebut. Begitu pula dengan saya yang melanjutkan jalan santai. Lalu saya terkejut melihat pemandangan sekelompok remaja yang bertengkar dan hampir melakukan adu fisik. Padahal mereka adalah remaja perempuan. Sedangkan remaja laki-laki bersorak sorai hendak merekam kejadian tersebut dengan kamera ponsel. Kemudian, dua bapak-bapak yang menegur bocah cilik yang hampir memetik bunga di taman juga melihat kejadian itu. Namun mereka cuek saja. Tidak menegur. Bahkan terkesan tidak perduli dan melanjutkan jalan santainya. Kok begitu ya? Tanya saya dalam hati.

Lalu, seorang emak-emak garang meneriaki gerombolan remaja tersebut. “Bubar….bubar…kalian bubar atau saya telp polisi?,” ancamnya sambil menunjuk ke arah remaja-remaja itu. “Pulang!!!!,” teriak emak garang itu lagi. Nampaknya, remaja-remaja itu takut pula dengan ancaman sang emak-emak garang. Akhirnya remaja-remaja yang hampir adu jontos itu pun bubar. Semoga saja mereka tidak pindah lokasi lain untuk melanjutkan pertengkarannya, di suatu tempat di luar jangkauan emak-emak garang.

Sikap Permisif Salah Tempat

Ada yang berbeda dengan masyarakat kita kini. Dulu, di era 90-an ketika saya kecil, kita masih saling mengenal tetangga, bahkan yang berada di ujung jalan pun, semua saling mengenal dan mengetahui kondisi aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Tidak hanya mengenal orangtua, bahkan semua anak-anaknya pun kita kenal. Sehingga, jika bertemu di jalan, dan suatu saat mendapat musibah, dapat langsung saling menolong.

Sedangkan, di jaman sekarang, tetangga samping rumah pun kadang tidak saling mengenal. Satu tembok rumah, namun tidak pernah bersua dan tidak tahu kegiatan apa yang dilakukan masing-masing. Maka jangan heran, jika terjadi tindak kejahatan yang melibatkan tetangga kita. Bisa jadi semua itu adalah bagian dari kesalahan kita sendiri yang tidak turut ambil bagian dalam mengamankan kondisi wilayah sekitar, dengan mau tahu, dan mengenal tetangga sekitar. Sehingga pergerakan-pergerakan kejahatan di lingkungan dapat diminimalisir, karena mereka akan merasa sulit beraktifitas, sebab senantiasa dipantau dan diawasi masyarakat.

Beberapa waktu lalu, kita digemparkan dengan pemberitaan media massa mengenai kejadian kriminal yang tergolong sadis, seperti pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh remaja kepada remaja lainnya. Berbagai latar belakang alasan motif namun berujung maut. Ada yang bermotif cinta, uang, perampasan barang, bahkan dendam perkelahian. Pertanyaannya adalah, mengapa remaja yang seharusnya begitu imut dan manis berubah menjadi sadis dan menakutkan??? Mengapa remaja kini begitu berani melakukan tindakan kriminal dan amoral? Bisa jadi semua itu adalah karena sikap kita sendiri yang terlalu permisif atas apa yang terjadi di sekitar kita. Kita terlalu cuek pada kondisi remaja. Selama mereka tidak mengganggu pribadi kita, keluarga kita, maka, ya biarkan saja meski mereka jelas-jelas sedang melakukan tindakan tidak terpuji bahkan kriminal kadang  didiamkan saja. Lalu, mengapa kaget? Mengapa ketakutan mendengar kejatahan dan kriminalitas yang dilakukan oleh remaja? Toh pelaku dan korbannya tidak kita kenal dekat? Bukan sanak saudara kita? Bukan siapa-siapa kita. Melainkan orang lain yang tidak ada hubungan apapun dengan diri kita. Namun, kita pasti tetap kaget, miris, bahkan takut kan? Padahal, secara sadar maupun tidak sadar, secara langsung maupun tidak langsung kitalah yang merakit bom waktu itu. Karena kita sendiri yang sebenarnya secara tidak sadar memberi jalan. Sikap permisif salah tempat kita yang jadi masalah selama ini.

Tidak ada kontrol dari masyarakat terhadap ulah remaja. Sehingga mereka terkesan bebas melakukan aksinya. Mulanya, hanya ngebut-ngebutan di jalan. Lalu berkembang menjadi begal perampas motor. Mulanya, sembunyi-sembunyi merokok di kamar mandi, lalu di tempat umum, kemudian, merokok dan minum alkohol di pinggir jalan. Lagi-lagi, kita permisif di tempat yang salah. Kita memberi mereka ruang bertindak jahat. Semua karena sikap permisif salah tempat kita.

Penulis tidak meminta masyarakat untuk menjadi jagoan, bila dirasa bahwa tak mungkin menegur remaja tersebut, maka kita dapat menghubungi ketua RT, RW, Camat,  atau bahkan polisi untuk segera menangani kasus tersebut. Tidak selalu, harus action langsung menghadapi remaja tersebut. Bisa jadi, remaja yang sedang dalam pengaruh alkohol dan obat terlarang tak segan menghabisi kita. Telp atau hubungi pihak berwajib, jika kita merasa tak mampu menegur langsung.

Remaja Butuh Sosok Emak-emak Garang

Menurut Ericson dalam Sandrok (2003); remaja berada dalam tahapan perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, dengan tugas perkembangan untuk mencari jati diri, tentang seperti apa dan bagaimana mereka nantinya. Bila berhasil, maka anak-anak akan mencapai tahap perkembangan yang dipenuhi rasa identitas diri yang jelas. Sebaliknya, bila gagal maka mereka akan mengalami kebingungan identitas. Apa bahayanya kebingungan  identitas?  Resikonya adalah kondisi psikologis remaja memiliki karakteristik yang labil, sulit dikendalikan, melawan dan memberontak,  memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, agresif, mudah terangsang, (Tutut Chusniyah, FPPsi, UNM). Pemaparan tersebut merupakan faktor internal yang menyebabkan kenakalan remaja. Sedangkan faktor eksternal juga turut menjadi pemicu kenalan dan kriminalitas remaja. Diantaranya adalah pola asuh keluarga, kondisi lingkungan sekolah dan lingkungan teman sebaya. Semua itu sangat berpengaruh pada remaja.

Tindak kriminal dan berbagai masalah remaja bisa dicegah jika masyarakat mau bertindak sebagai emak-emak garang kepada semua remaja di lingkungannya. Emak-emak garang yang senantiasa memantau, mengawasi, memperingati remaja yang “nakal” di mana pun, kapanpun. Sebagai masyarakat kita wajib mengeluarkan naluri kita sebagai orangtua bagi semua remaja di lingkungan sekitar kita. Segarang-garangnya seorang emak pada anaknya, ia tetaplah emak, semua kegarangan itu dimaksudkan untuk kebaikan anak-anaknya. Menjaga remaja dengan senantiasa aktif melakukan pengawasan yang tegas adalah hal yang sangat penting. Karena menjaga remaja kini, sama artinya dengan merawat masa depan nanti.

PIK R dan BKR sebagai “Emak Garang” BKKBN

BKKBN telah lama memikirkan proses pencegahan kenakalan dan kriminalitas remaja. Ia memerankan posisinya sebagai “Emak Garang” melalui program KKBPK yang terbentuk dalam wujud PIK R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) dan BKR (Bina Keluarga Remaja). BKKBN memberi solusi tidak hanya menyasar remaja nya saja tapi juga orangtua dari remaja itu sendiri. Karena BKKBN sadar betul betapa pentingnya remaja bagi masa depan bangsa.

Melalui program PIK R yang berbasis pendidikan maupun masayarakat, remaja diajak untuk lebih sadar akan masalah kesehatan reproduksi, resiko dan Triad KRR yaitu pengenalan atas resiko bahaya pernikahan dini, penggunaan narkoba dan seks bebas. Kegiatan-kegiatan PIK R pun dapat dikolaborasi kan dengan kegiatan lain yang bersifat seru dan asik. Misalnya, dipadukan dengan kegiatan seni, pengajian, olahraga dan kegiatan lainnya. Pertemuannya tidak hanya di dalam ruang kelas. Namun, bisa di lakukan di luar kelas. Pembina PIK R dan PKB  dapat saling bekerja sama untuk melakukan pembinaan guna menciptakan remaja yang percaya diri dan positif.

Sebenarnya, yang berperan aktif dalam kelompok PIK R adalah remaja itu sendiri. Karena mereka akan dibina oleh PKB untuk menjadi konselor sebaya bagi remaja lainnya. Artinya, mereka akan diberi pengetahuan lebih tentang kesehatan reproduksi dan triad KRR sehingga dapat melakukan kegiatan konselor kepada teman remaja lainnya. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kecendrungan remaja yang lebih suka curhat ataupun bercerita tentang segala hal mengenai diri dan perasaannya kepada teman sebayanya dibandingkan kepada orangtua maupun keluarga. Jika teman yang dijadikan teman curhat adalah remaja yang bermasalah juga, maka ditakutkan akan muncul konspirasi kenakalan remaja dan menimbulkan masalah baru. Nah, BKKBN melihat celah ini. Maka, muncullah program PIK R, dan dilatihlah anggota PIK R yang ingin menjadi konselor sebaya untuk dijadikan tempat curhat yang baik bagi sesama remaja lainnya. Sehingga jika ditemukan kasus-kasus yang sekiranya menghawatirkan, maka sang konselor dapat memberikan nasihat pada remaja yang memiliki masalah tersebut untuk selalu memilih jalan yang benar dan baik. Seorang konselor harus dapat menjaga rahasia teman curhatnya. Jika suatu saat sang konselor remaja menemukan masalah yang tidak sanggup dihadapinya, maka konselor dapat merujuk kasus tersebut kepada guru atau pun Pembina PIK R setempat.

Selaku PKB yang membina kelompok PIK R, penulis kerap melakukan pertemuan dan pembinaan rutin di wilayah tugas. Salah satunya adalah, melakukan pembinaan PIK R di SMPN 1 Labuhan Badas. PKB memberi ruang seluas-luasnya bagi anggota binaan untuk berdiskusi tentang hal apapun. Mulai dari materi PIK R, gaya hidup remaja, pergaulan, cita-cita dan impian, serta segala pembahasan lainnya yang dianggap tabu dan layak diperbincangkan untuk dapat dipahami akar permasalahannya.

Anggota PIK R dibiasakan untuk berdiskusi atas kasus-kasus yang sengaja dicuatkan oleh PKB. Tujuannya adalah untuk mengasah pikiran dan hati mereka. Karena penulis percaya, sesuatu yang dapat menyentuh jiwa, akan tetap melekat diingatan. Karena itu, setiap yang PKB lakukan, senantiasa dipilih strateginya untuk dapat melekat di jiwa sasaran dan melekat diingatan, harapannya agar dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mereka diharapkan mampu menularkan virus-virus kebaikan pada remaja lainnya.

Bina Keluarga Remaja (BKR) ditujukan untuk orang tua ataupun keluarga yang memiliki remaja. BKR tersedia hampir di setiap Desa dan Kecamatan. Syarat untuk bergabung sangat mudah, cukup memiliki anak remaja. Jika butuh informasi lebih lanjut dapat menghubungi Kantor Balai Penyuluhan Keluarga Berencana yang ada di setiap Kecamatan, biasanya letak kantornya, berada satu lingkup dengan Kantor Kecamatan. Mari menjadi orang tua yang lebih aktif. Karena dengan bergabung di BKR para orangtua / wali  akan diberikan informasi, edukasi tentang pola asuh terhadap remaja. Apalagi mengurus anak remaja, banyak diakui sebagai tugas yang susah-susah gampang. Di dalam kelompok BKR orangtua akan diberi tips dan cara untuk membina anak remaja mereka di rumah. Sehingga terjalinlah hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak remaja. Jika hubungan keduanya telah harmonis, niscaya tidak akan muncul remaja yang bermasalah. Justru akan hadir remaja-remaja sehat, cerdas, berakhlak mulia, yang mampu mengimbangi perkembangan jaman dengan pikiran, ilmu, akal, dan ahklak mulia.

Penulis: HENNY ANDARESNI MARTIANENGTIAS, S.IKOM

PKB DESA LABUHAN SUMBAWA

NIP: 198703162011012028

NO HP/WA: 087865003615