Melihat TFR Indonesia dalam Konteks Global

Oleh : Agus Netral, SE Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Pertama desa Santong dan Embung Raja Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB

Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate yang sering disingkat TFR adalah jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang wanita selama masa usia suburnya (antara umur 15-49 tahun). Indikator ini penting dan strategis untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan suatu negara ataupun seluruh negara dalam mengendalikan jumlah penduduknya melalui program Keluarga Berencana. Dalam hal ini, TFR sebesar 2,1 merupakan angka standar capaian ideal bagi seluruh negara (penduduk tumbuh seimbang). Dengan TFR 2,1 maka 2 orang anak yang dilahirkan hanya akan menggantikan kedua orang tuanya. Dalam jangka panjang penduduk di suatu negara dengan TFR 2,1 akan mengalami pertumbuhan nol (zero population growth). Angka tidak tepat 2,0 karena memperhitungkan faktor mortalitas dari bayi yang dilahirkan.

Apabila TFR berada dibawah angka 2,1 maka penduduk cenderung akan mengalami penurunan dalam hal jumlahnya serta akan mengalami penuaan, lalu apabila lebih dari 2,1 maka akan mengalami pertumbuhan, yang besarnya sangat ditentukan oleh angka TFR itu.

Pelaksanaan program Keluarga Berencana yang sudah secara intensif sejak tahun 1960-an oleh sebagian besar negara, berakibat pada penurunan angka TFR yang cukup signifikan. Menurut data yang dipublikasikan oleh United Nations, Department of Economic and Social Affairs (UN DESA), Population Division  yaitu World Population Prospects 2019 dikemukakan bahwa angka TFR selama 50 tahun terakhir menunjukkan penurunan yang cukup berarti. Angka TFR menurun dari 4,7 anak per wanita usia subur tahun 1950 menjadi 2,5 tahun 2019. Diproyeksikan akan menjadi 2,2 tahun 2050 dan 1,9 tahun 2100.

Hampir setengah dari 235 negara dan kawasan yang dilakukan perhitungan dan proyeksi oleh UN DESA berada pada posisi TFR kurang dari 2,1 atau dibawah replacement level, yang akan berpotensi mengalami pertumbuhan nol dalam jangka panjang. Bahkan di tahun 2019 sudah ada 25 negara yang sudah berada dibawah angka TFR 1,5.

Dalam hal ini seluruh negara di Eropa dan Amerika termasuk Australia dan Selandia Baru masuk pada katagori TFR dibawah 2,1. Kemudian 4 negara di Asia Tengah dan Selatan, 12 negara di Asia Timur dan Asia Tenggara, 20 negara di Amerika Latin dan Karibia, 10 di Afrika Utara dan Asia Barat, 2 negara di Pasifik dan 1 negara di Sub sahara Afrika.

Sedangkan secara keseluruhan di sub sahara Afrika, TFR masih tetap tinggi yaitu rata-rata 4,6, lalu di wilayah Oceania (tidak termasuk Australia dan New Zealand) mencapai 3,4, di Afrika bagian utara serta Asia Barat masih rata-rata 2,9 dan di Asi Tengah serta Asia Selatan rata-rata 2,4.

Selengkapnya 10 negara dengan TFR tertinggi dan 10 negara dengan TFR terendah terlihat pada tabel berikut;

Menurunnya rata-rata jumlah anak per wanita usia subur berakibat pada menurunnya laju pertumbuhan penduduk secara global. Puncak pertumbuhan penduduk sebelumnya terjadi pada kurun waktu 1965 – 1970, yaitu rata-rata mencapai 2,1 persen per tahun dan terus mengalami penurunan yaitu sampai dengan 1,1 persen per tahun dalam kurun waktu 2015 – 2020.

Walaupun terjadi penurunan rata-rata jumlah anak per wanita usia subur menjadi 2,5 anak tahun 2019, bukan berarti jumlah penduduk akan semakin menurun. Pertambahan penduduk secara absolut akan terus terjadi dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2100. Pertambahan penduduk di abad 21 ini merupakan akibat dari jumlah penduduk yang terus mengalami pelonjakan selama abad 20. Pada tahun 1900 jumlah penduduk dunia masih 1,6 milyar, tetapi tahun 2000 meningkat menjadi 6,1 milyar. Terjadi pertambahan sebanyak 4,5 milyar. Jumlah inilah yang beranak pinak untuk abad 21 sekarang ini.

Dan pada tahun 2019 ini pada bulan Juni yang lalu UN Population Division sudah menghitung penduduk bumi mengacu pada analisis sensus yang dilaksanakan di seluruh negara yaitu mencapai 7,7 milyar. Angka ini akan terus bertambah yaitu menjadi 8,5 milyar tahun 2030 (bertambah 800 juta dalam 10 tahun kedepan), lalu 9,7 miliar tahun 2050 dan diperkirakan akan mencapai puncaknya menjadi 10,9 miliar tahun 2100. Setelah itu penduduk bumi diperkirakan akan terus mengalami penurunan.

TFR Indonesia

Program Keluarga Berencana di Indonesia dimulai secara intensif sejak tahun 1970 sejalan dengan berdirinya lembaga BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Dibawah pemerintahan Orde Baru, program KB menjadi prioritas dan unggulan yang dilaksanakan dengan gegap gempita. Sebagai hasilnya, angka TFR yang sebelumnya mencapai 5,6 tahun 1970 menurun menjadi 2,8 (SDKI tahun 1997). Lalu laju pertumbuhan penduduk juga menurun dari  2,32 persen menjadi 1,3 persen. Akibatnya  menurut perkiraan para ahli program KB masa Orde Baru bisa menghidari pertambahan sekitar 80 juta penduduk, karena seharusnya pada tahun 2000 Indonesia diproyeksikan akan memiliki 285 juta, tetapi bisa ditekan menjadi 205 juta jiwa.

Setelah otonomi daerah di tahun 2001 TFR Indonesia bisa diturunkan menjadi 2,6 yaitu hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002. Akan tetapi sampai dengan SDKI 2007 dan SDKI 2012, TFR tetap bertahan (stagnan) pada posisi 2,6 (bertahan sekitar 15 tahun). Padahal visi BKKBN 2010 – 2014 adalah menuju penduduk tumbuh seimbang tahun 2015.

Baru pada SDKI 2017, TFR bisa turun lagi ke posisi 2,4. Angka inipun terjadi perbedaan yang mencolok, dimana TFR pedesaan masih 2,6 lalu TFR perkotaan sudah 2,3 anak per wanita usia subur. Berikut angka TFR Indonesia per provinsi dari terendah hingga tertinggi berdasarkan hasil SDKI 2017 serta proyeksi tahun 2025;

Dari data TFR hasil SDKI 2017 diatas terlihat tidak ada satu provinsipun yang sudah berada dibawah TFR 2,1. Provinsi yang memiliki TFR sebesar 2,1 adalah Jawa Timur dan Bali. Kemudian dari data diatas juga terlihat provinsi yang TFR-nya sama dan dibawah rata-rata nasional yaitu TFR 2,4 adalah sebanyak 15 provinsi. Sehingga sisanya 19 provinsi berada pada posisi TFR diatas 2,4.

Seluruh provinsi yang memiliki penduduk besar di pulau Jawa, memiliki TFR sama serta dibawah rata-rata nasional 2,4. Hanya satu provinsi yaitu Sumatra Utara yang memiliki penduduk besar (14.415.000) masih berada pada TFR 2,9.

Ditargetkan pada 2025 yang akan datang (sebagaimana RPJP 2000 – 2025) Indonesia akan diupayakan untuk memiliki TFR 2,1. Sementara untuk 3 kali pelaksanaan SDKI berikutnya BPS sudah melakukan proyeksi besaran TFR yaitu pada SDKI 2022; 2,212, SDKI 2027; 2,096 dan SDKI 2035; 1,990.

Akan tetapi target ini disangsikan pencapaiannya kalau melihat pelaksanaan SDKI 1991 sampai 2017 yaitu dalam 26 tahun perjalanan, ternyata TFR turun hanya 0,6 point dari 3,0 menuju 2,4. Sehingga dalam kurun waktu 5 tahun kedepan (2020 -2025) untuk turun dari 2,4 menjadi 2,1 (0,3 point) sepertinya akan cukup berat.

Selanjutnya rangking Indonesia dalam hal pencapaian TFR di lingkup global terlihat Indonesia berada di posisi tengah. Dari data 200 negara yang dirangking yang dimuat di halaman web; worldpopulationreview.com (Fertility Rate By Country 2019), yang mengacu pada data UN DESA, Indonesia berada pada posisi ke-94 (dari besar ke kecil) dengan TFR sebesar 2.32 anak per wanita usia subur.

Kalau TFR ini disetujui sebagai indikator dalam keberhasilan dalam pelaksanaan program KB maka              Indonesia termasuk kalah oleh Banglades yang sudah berhasil meraih TFR sebesar 2.05 dengan rangking 117 di tahun 2019.

Untuk lingkup di negara ASEAN, Indonesia berada pada posisi 4 dengan pencapaian dibawah Myanmar (2,17) dan Vietnam (2,05), dan tentu saja Singapura (1,2).

Pada tahun 2019 UN Desa melakukan proyeksi TFR, Laju Pertumbuhan Penduduk, jumlah penduduk dan lainnya untuk pertama kalinya sampai dengan tahun 2100. Dengan proyeksi ini (World Population Prospects 2019 Revision) Indonesia diprediksi akan terus mengalami penurunan TFR yang akan berimplikasi pada jumlah penduduknya. Periode 2045-2050 TFR Indonesia diprediksi sebesar 1,91 dengan jumlah penduduk 331 juta lalu untuk periode 2095-2100 TFR diproyeksi mencapai 1,78 dengan jumlah penduduk menurun menjadi 321 juta.

Mengacu pada proyeksi ini, maka urutan negara-negara di dunia dalam hal jumlah penduduknya akan berubah dimana Indonesia tidak lagi berada pada posisi 4 tapi turun pada urutan ke-6, disalip oleh Nigeria (negara di Afrika Barat) dan Pakistan. Dan pada tahun 2100 akan turun pada posisi 7 karena naiknya Congo di urutan 6.

Akan tetapi tidak ada kepastian dari proyeksi ini, karena dalam rentang waktu yang sekian lama akan banyak hal yang terjadi terutama dalam hal kebijakan Keluarga Berencana di masing-masing negara utamanya di Sub Sahara Afrika.

Rankings of the world’s ten most populous countries, 1990 and 2019,

and medium-variant projection, 2050 and 2100 (numbers in parentheses refer to total population in millions)

Menuju Tumbuh Seimbang

Dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana untuk pengendalian penduduk, salah satu ekses yang muncul di sejumlah negara maju adalah sangat rendahnya fertilitas. Angka TFR berada dibawah 1,5 dan ini diprediksi akan memunculkan masalah penduduk yang menua serta menurunnya jumlah angkatan kerja sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Karena itu negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Italia, Spanyol dan lainnya terus berupaya mengupayakan agar penurunan TFR itu tidak terus terjadi yaitu dengan berbagai kebijakan berupa pemberian hadiah, subsidi, dan kebijakan khusus untuk pasangan yang mau menambah anaknya. Targetnya adalah TFR stabil pada angka 2,1.

Akan tetapi sudah puluhan tahun kebijakan itu diberlakukan, hingga kini belum juga mempan meningkatkan fertilitas dari pasangan usia subur di negara bersangkutan.

Itu menunjukkan bahwa masyarakat di negara-negara itu, menyadari arti pentingnya kualitas kehidupan keluarga, dan tidak ingin menurunkan standar kualitas itu dengan menambah anggota keluarga baru. Harga-harga yang tinggi untuk biaya hidup, perumahan, pendidikan, dan lainnya termasuk kenyamanan, tak bisa dipenuhi dengan pemberian subsidi.

Walaupun demikian untuk di Indonesia diperkirakan akan berbeda dampaknya apabila kebijakan subsidi itu diberlakukan. Seandainya ada hadiah 1 juta rupiah untuk setiap bayi yang lahir diberlakukan, maka dalam kurun waktu 10 tahun saja bisa dilihat penduduk di Indonesia akan bertambah dua kali lipat, karena banyaknya peminat dari hadiah itu.

Ini artinya tidak mudah mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dengan TFR 2,1 dalam waktu kedepan ini.@