PERAN DAN KEDUDUKAN PEMUDA DALAM PROGRAM KKBPK (Memperingati 91 tahun Sumpah Pemuda)

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

 

Tiga kalimat monumental, berejaan Van Ophuysen tersebut, yang merupakan keputusan Kongres Pemuda Indonesia Kedua yang diselenggarakan di Batavia (Jakarta), tanggal 27-28 Oktober 1928. Ikrar dimaksud, hasil kongres yang dipimpin Soegondo Djojopoespito, yang pada saat itu beliau berusia 23 tahun. Tiga kalimat diatas, yang kemudian dikenal dengan “Sumpah Pemuda,” meneguhkan spirit untuk meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia. Walaupun kita tahu, dalam goresan sejarah, kebebasan dari kolonialisme itu baru diraih 17 tahun kemudian.

Semangat membara barisan muda, telah meletakkan pondasi komunitas beribu-ribu pulau, beribu suku dan beratus bahasa ke dalam balutan “Indonesia”. Konsep nation state yang dibayangkan, dikemas dengan ketegasan untuk menjunjung hanya satu lingua franca, yaitu Bahasa Indonesia. Adapun kata “Indonesia” sendiri, telah berpuluh tahun melekat dengan empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Visi pemuda 91 tahun yang lalu, masih terasa ketangguhan makna, yang sarat dengan kebersamaan dalam mengusung semangat anti kolonialisme. Sejatinya, ikrar Sumpah Pemuda tersebut merupakan kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam pidato pelantikannya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa fokus pembangunan di masa pemerintahannya yang kedua adalah membangunan SDM unggul untuk Indonesia maju. Dan benar bahwa SDM unggul untuk Indonesia maju serta masa depan bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para pemuda bangsa ini. Pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupan faktor-faktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatannegara. Pemuda adalah generasi masa depan bangsa yang akan sangat menentukan hitam putihnya bangsa di kemudian hari. Hal ini dapat dipahami karena para pemuda selain  jumlahnya yang  sangat  besar  (menurut  BPS  tidak  kurang  dari  43,6  juta  jiwa  atau 19,64% dari total penduduk Indonesia), pemuda juga termasuk dalam kategori usia produktif pengisi bonus demografi, yang apabila  dimanfaatkan  dengan  sebaik-baiknya  akan  menjadi  modal  pembangunan yang  tidak  ternilai  harganya,  mengingat  mereka  adalah  generasi  terdidik  yang memiliki semangat kerja dan idealisme yang tinggi.

Peran pemuda dalam kemajuan bangsa menjadi hal yang sangat penting. Dikarenakan pemuda adalah generasi harapan bangsa. Pernyataan ini akan sangat membanggakan bagi masyarakat Indonesia apabila menjadi kenyataan. Akan tetapi, faktanya membuktikan bahwa pemuda di Indonesia saat ini cendrung megkhawatirkan perilakunya bagi kelanjutan masa depan bangsa. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya kasus yang melibatkan atau yang terjadi pada pemuda dimana diantaranya kasus nikah dini, narkoba, kejahatan, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Peran pemuda tentunya masih sangat dibutuhkan bagi regenerasi dalam mewujudkan dan melanjutkan cita-cita bangsa ini yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan terdahulu.

Potret Pemuda Masa Kini

Pemuda merupakan garda terdepan dalam proses perjuangan, pembaruan dan pembangunan bangsa. Segala potensi yang ada pada pemuda menjadi penentu kualitas bangsa di masa depan. Menyadari pentingnya peran dan fungsi yang melekat pada pemuda, maka pemerintah Indonesia berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang ada melalui penyadaran, pemberdayaan, pengembangan kepemudaan di segala bidang, sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan disebutkan bahwa Pemuda adalah warga negara Indonesia berusia 16 sampai 30 tahun yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan. Menurut hasil Susenas Tahun 2017, Indonesia adalah rumah bagi 63,36 juta jiwa pemuda, jumlah tersebut merupakan seperempat dari total penduduk Indonesia. Pemuda laki-laki lebih banyak daripada pemuda perempuan, dengan rasio jenis kelamin sebesar 102,36, yang berarti setiap 102 pemuda laki-laki terdapat 100 pemuda perempuan. Persentase pemuda di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan (25,22 persen berbanding 23,19 persen).

BPS dalam bukunya Statistik Pemuda Indonesia, menyebutkan kualitas pemuda terutama dilihat dari capaian pendidikan dan kesehatannya. Pada tahun 2017, hampir tidak ada pemuda yang tidak bisa membaca dan menulis. Sekitar satu dari empat pemuda tercatat sedang bersekolah, dengan angka partisipasi sekolah (APS) pada kelompok umur 16-18 tahun, 19-24 tahun dan 25-30 tahun masing-masing sebesar 71,42 persen, 24,77 persen dan 2,93 persen. Secara umum, APS pemuda di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan.

Pada tahun 2017, separuh pemuda Indonesia bekerja (51,47 persen), sisanya aktif sekolah, mengurus rumah tangga, serta sibuk mencari dan mempersiapkan pekerjaan. Persentase pemuda laki-laki yang bekerja lebih besar daripada perempuan, yaitu 63,10 persen berbanding 39,47 persen. Lebih dari separuh pemuda bekerja berada pada kelompok umur 19-24 tahun dan 25-30 tahun (54,43 persen dan 69,12 persen). Selain itu, masih terdapat sekitar 19,95 persen pemuda usia 16-18 tahun yang bekerja, padahal usia tersebut masih termasuk usia sekolah.

Oleh sebab itu, banyak karakter yang terdapat pada pemuda, mulai karakter positif sampai karakter negatif pun ada. Di era globalisasi ini, karakter positif yang terdapat pada pemuda sekarang banyak, seperti semakin optimistis dan kreatif mereka dalam banyak hal, di antaranya teknologi, otomotif, seni, olahraga dan lain-lain. Hal itu disebabkan banyak fasilitas yang mendukung dan dengan mudah didapatkannya. Sebut saja fasilitas seperti akses internet dengan mudah ataupun sarana olahraga atau sarana kesenian yang banyak.

Selain karakter positif seperti diatas, karakter negatif yang terdapat pada pemuda  Indonesia saat inipun cukuplah banyak dan menjadi ancaman bagi generasi kedepan. Lemahnya iman dan minimnya pendidikan menjadi salah satu faktor besar yang menyebabkan pemuda berprilaku negatif. Di antara karakter negatif yang dilakukan remaja atau pun kenakalan remaja adalah nikah dini, narkoba, seks bebas sebelum nikah, tawuran antarkelompok, perkehalian, dan tindakan-tindakan kriminalitas lainnya. Kita kerap melihat sebagian para pemuda melakukan hal bodoh tersebut.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa sekitar satu dari empat pemuda di Indonesia adalah perokok, dimana hampir separuh pemuda laki-laki merokok dalam sebulan terakhir. Jumlah batang rokok yang dihisap meningkat seiring peningkatan umur pemuda. Pemuda di setiap kelompok umur terbanyak menghabiskan rata-rata rokok 7-12 batang sehari, dengan persentase tertinggi pada kelompok umur 25-30 tahun, yaitu 40,51 persen.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,1 juta orang, dan itu terbesar di Asia. Dari jumlah itu, 40% di antaranya berasal dari kalangan pemuda (pelajar dan mahasiswa). Mereka umumnya ada yang penasaran lalu mencoba, ada yang sudah berapa kali terus ketagihan, dan ada yang sudah kecanduan lalu jadi bandar. Yang coba-coba pakai saja jumlahnya hampir 1,2 juta orang.

Pernikahan dini dapat meningkatkan resiko komplikasi selama kehamilan dan kelahiran, kematian ibu dan anak, serta terperosok pada jurang kemiskinan. Sekitar 57,99 persen pemuda perempuan kawin pertama ketika umurnya belum mencapai 21 tahun. 2,66 persen diantaranya kawin pertama pada usia dibawah 15 tahun, 20,89 persen pada usia 15-18 tahun dan 34,04 persen pada usia 19-21 tahun. Sekitar 30,25 persen pemuda perempuan kawin pernah hamil ketika umurnya belum mencapai 20 tahun.

Kedudukan Pemuda Dalam Program KKBPK

Era  program  Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (Program KKBPK) saat ini,  telah mendudukkan remaja dan pemuda pada posisi yang strategis. Lebih-lebih setelah secara tegas dinyatakan bahwa Program KB sekarang ini juga menekankan pada remaja dan pemuda sebagai sasaran penggarapan program sebagaimana tertuang dalam lima aspek  garapan  program  KB  menurut UU No 52 Tahun 1999  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, yakni: Pendewasaan Usia Perkawinan,  Pengaturan  Kelahiran,  Penbinaan  Ketahanan  Keluarga, Peningkatan Kesejahteraan Keluarga dan Pengelolaan Kependudukan. Peran serta pemuda dalam  program KKBPK yang dalam hal ini  dapat diterjemahkan dalam pemuda sebagai obyek ataupun sebagai subyek. Sebagai obyek, pemuda merupakan salah satu kelompok  penduduk  yang harus dibina secara terus menerus dan dimantapkan, sehingga memiliki sikap dan perilaku sebagai Generasi Berencana (GenRe), yaitu generasi yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko Triad KRR, menunda usia pernikahan, mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera serta menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya, serta memiliki pengetahuan, bersikap dan berperilaku sebagai remaja, untuk  menyiapkan dan perencanaan yang matang dalam kehidupan berkeluarga. Sebagai generasi berencana, pemuda harus mampu melangsungkan jenjang-jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, dan menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus Kesehatan Reproduksi. Pada akhirnya, hasil yang diharapkan ialah terbentuknya pemuda yang mereka mampu menjadikan dirinya dan anak cucunya kelak sebagai manusia Indonesia yang unggul, berkualitas, tidak saja cerdas, sehat dan terampil, tetapi juga bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki loyalitas, dedikasi, dan disiplin yang tinggi serta berbudi pekerti luhur.

Sedangkan sebagai subyek, pemuda mampu berperan sebagai motivator dan memfasilitasi para pemuda lainnya belajar memahami dan mempraktikkan perilaku hidup sehat dan berakhlak (healthy and ethical life behaviors), mengatakan tidak pada nikah dini, sex bebas, narkoba, dan tidak menjadi korban HIV dan AIDS, serta mengajak pemuda untuk merencanakan kehidupan berkeluarga atau Pendewasaan usia perkawinan. Selain itu, aktif mendukung pembangunan dan perwujudan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui kegiatan-kegiatan yang memberi kemungkinan, dan diintegrasikan dengan kegiatan-kegiatan generasi muda di desa atau di dusun untuk mencapai ketahanan remaja (adolescent resilience). Partisipasi ini akan memberi sumbangsih yang besar dalam melembagakan konsep keluarga kecil bahagia dan sejahtera di lingkungan masyarakat kita.

Mengingat kedudukan dan perannya yang strategis tersebut, sudah selayaknya jika pemuda di era sekarang ini akan memberi andil yang besar dalam mengembangkan program KKBPK di Indonesia. Lebih-lebih pemuda memiliki pendidikan yang lebih tinggi, sikap inovatif terhadap norma dan ide baru yang rasional, bersifat dinamis dan berorientasi ke masa depan. Karakteristik ini merupakan potensi pendukung untuk pengembangan peran pemuda dalam bidang KB di masa sekarang maupun yang akan datang sehingga kontribusinya dapat ditingkatkan lagi.

P E N U T U P

Ada tiga karakter dan kapasitas yang perlu dikapitalisasi setiap pemuda Indonesia untuk memenangi “pertarungan” masa depan sekaligus dalam mewujudkan mimpi Indonesia emas 2045. Pertama, diperlukan pemuda yang memiliki kualitas integritas yang tinggi. Kedua, kapasitas keahlian dan intelektual yang cukup mumpuni. dan Ketiga, karakter kepemimpinan yang peduli dan profesional. Gagasan ini merupakan implementasi dan komitmen yang berpedoman pada nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan melalui sebuah manifestasi sikap pemuda Indonesia untuk mengisi serta menjawab berbagai peluang dan tantangan bangsa Indonesia saat ini dan yang akan datang. Pada perspektif yang sama, Undang-Undang juga menggaris bawahi peran pemerintah/masyarakat dalam pelayanan kepemudaan untuk menciptakan Pemuda yang maju, berkarakter, berkapasitas dan berdaya saing.

Bangsa Indonesia saat ini juga sedang menanti bangkitnya anak-anak muda millennial  untuk mulai membangun sebuah citacita Indonesia maju. Membangun optimisme kolektif bahwa suatu saat para anak muda akan mampu mewujudkan harapan Indonesia maju, dan menjadi terhormat di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Wajah Indonesia memang sedang terkoyak persoalan korupsi, kemiskinan, pengangguran, narkoba, pornografi, hoax, hate speech serta sejumlah problem bangsa lainnya. Tetapi semua itu bukan menjadi alasan bagi para pemuda untuk berhenti dan pesimis menatap masa depan Indonesia. Karena itu, selain kritis, para pemuda harus tetap optimis dalam membangun masa depan Indonesia. SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA KE 91 TANGGAL 28 OKTOBER 2019. Jadilah Pemuda yang Sehat, Semangat dan Luar Biasa.

Refrensi :

  1. Undang-Undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan.
  2. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga.
  3. Badan Pusat Statistik, 2017. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) .
  4. Badan Pusat Statistik, 2018. Statistik Kepemudaan Indonesia.

 

Oleh : Saiful Anugrahadi, Penyuluh KB Madya