Selamat Hari Ibu; Ayo Dukung Ibu Ber KB

Menjadi seorang ibu adalah karunia luar biasa yang diberi Tuhan bagi seorang wanita. Tidak semua wanita bisa melahirkan anak (sebab masalah kesehatan), namun setiap wanita bisa menjadi Ibu. Menjadi ibu berarti menjadi sumber cahaya bagi seorang individu lainnya. Menjadi cahaya penerang, pelukis kanvas putih di diri seorang anak. Anak yang lahir dari rahimnya sendiri atau anak yang dipilihnya menjadi anak dengan cara mengadopsi anak yatim piatu ataupun menjadi ibu asuh. Anak tersebut kelak menjadi generasi penerus bangsa ini. Warna apa yang menyelimuti sang anak, tergantung pada warna apa yang ditorehkan guru pertamanya, yaitu ibu.

Kaulah Ibuku

Adakah kenangan yang sangat berkesan dengan ibu dan sulit terlupakan? Jawabannya pasti ada. ada yang sedih, haru, bahagia, dan membuat kita rindu untuk kembali pada masa itu. Penulis sendiri sangat rindu kenangan membuat kue lebaran bersama ibu. Saat itu, usia penulis masih duduk di bangku sekolah dasar. Ibu tak ragu mengijinkan penulis membuat adonan bahkan sampai memanggang kue putri salju di pemanggang kue yang panas. Mengapa beliau begitu percaya penulis mampu melakukan itu? Tidakkah beliau khawatir penulis terkena percikan panas dan akhirnya melukai penulis? Ternyata, satu hal yang penulis pelajari dari hal itu adalah, beliau mengajarkan penulis untuk percaya pada diri sendiri dengan cara mengikhlaskan dirinya sendiri untuk percaya pada apa yang penulis lakukan. Dari itu, penulis belajar bertanggungjawab atas pilihan yang penulis pilih. Sederhana sekali cara ibu memberi pelajaran hidup. Kini karena sakit yang dideritanya, ibu sudah tak kuat lagi membuat kue bersama. Ibu cukup menjadi komentator atas kue yang penulis buat.

Percaya pada diri sendiri dan berani bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan adalah pelajaran yang sangat berharga yang ibu beri bagi penulis. Penulis berani dan bisa melakukan hal yang awalnya dianggap sulit ternyata mampu penulis lakukan karena dukungan ibu. Ibu adalah sumber motivasi terbesar dalam hidup penulis.

Kuasa Tuhan, bagaimana seorang manusia mampu mempengaruhi kehidupan manusia lainnya melalui sebuah ikatan ibu dan anak. Peran seorang ibu bagi seorang anak sangatlah penting. Generasi apa yang akan terbentuk kelak ada di tangan seorang ibu. Maka, sayangilah ibu. Kasihi dia. Berikan dia bahagia lahir dan batin. Sebab, bila hati ibu telah bahagia, maka dunia pun akan turut berbahagia.

Ibu dalam kepungan keadaan

Dalam keseharian penulis sebagai seorang penyuluh keluarga berencana, kerap kali bertemu langsung dengan ibu-ibu terutama dalam kegiatan posyandu. Tentu saja sebagai seorang penyuluh keluarga berencana, penulis senantiasa memberi edukasi kontrasepsi, dilanjutkan dengan konseling KB. Tidak sedikit ibu-ibu yang bercerita bahwa dirinya ingin menggunakan kontrasepsi tapi dilarang oleh suami. Sedihnya, kondisi ekonominya di bawah garis kemiskinan, jumlah anaknya lebih dari tiga, bahkan ada yang lima dan lebih, jarak kelahirannya dekat, usia sang ibu sudah di atas 35 tahun yang merupakan usia rawan dan resiko tinggi jika mengalami kehamilan dan harus melahirkan lagi. Penulis coba untuk berbicara dengan sang suami, guna memberi edukasi gambaran pentingnya mengikuti program pemerintah melalui BKKBN dengan harapan sang suami akhirnya paham pentingnya merencanakan jumlah anak dan mengatur jarak kelahiran. Tak jarang, penulis diberi respon sungguh diluar dugaan, contohnya, di cueki, penulis semangat berbicara menjelaskan program, namun sang suami justru asik dan fokus pada ayam jago yang dimandikannya. Penulis menanti hingga ayam jago selesai dimandikan, dengan harapan setelah itu sang suami akan fokus pada isi penyampaian maksud program KB yang penulis berikan, tapi ternyata, penulis justru diperlihatkan jahitan bekas luka ditangan yang diakuinya bekas terkena pecahan kaca di dalam rumahnya. Secara tidak langsung ia ingin memberi tahu itu akibat pertengkaran dalam rumah tangganya. Kader setia yang menemani penulis keliling lapangan pun berbisik takut pada penulis, “Sudahlah mbak Henny, ayo kita pulang saja,” ucapnya pelan sambil meringis takut. Penulis sendiri tidak takut,  tapi sedih melihat kondisi sang istri yang nampak kusut karena mengurus dua balita, sekaligus mengurus dua anak usia Sekolah Dasar. Sungguh hati ini sedih. Akhirnya istri yang ingin melakukan MOW saat itu, harus menelan kecewa karena terbentur restu suami. Penulis sedih sekali, bahkan untuk ikut KB pun, untuk masalah reproduksinya sendiri seorang perempuan masih belum bisa merdeka menentukan pilihan.

Ada apa dengan 22 Desember???

Di Indonesia, 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu melalui keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 dan resmi menjadi Hari Nasional. Pemilihan tanggal 22 Desember adalah untuk mengekalkan sejarah bahwa kesatuan pergerakan perempuan Indonesia dimulai pada 22 Desember 1928.  Sedangkan Hari Ibu (Mother Day) di Negara lain jatuh di tanggal yang berbeda-beda. Di Negara lain, Hari ibu biasanya diperingati untuk memanjakan ibu-ibu yang bekerja mengurus rumah tangga setiap hari tanpa mengenal waktu dan lelah. Sementara di Indonesia, momen Hari Ibu ditujukan untuk menandai emansipasi perempuan dan keterlibatan mereka dalam perjuangan kemerdekaan.  (Di lansir dari Harian Kompas).

Dahulu, pada 22 Desember 1928 berkumpullah 30 organisasi perempuan dari Sumatera dan Jawa di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta untuk bertukar pikiran dan gagasan dalam sebuah Kongres yang dikenal sebagai Kongres Perempuan. Sekitar 600 peserta membahas isu-isu perempuan. Diantaranya adalah isu tentang pendidikan bagi anak gadis, perkawinan anak-anak, kawin paksa, permaduan dan perceraian secara sewenang-wenang. Selain itu juga membahas dan memperjuangkan peran wanita bukan hanya sebagai istri dan pelayan suami saja. (Di Lansir dari Harian Kompas).

Dari pemaparan di atas jelas sekali bukan, bahwa semangat Hari Ibu adalah semangat untuk memperjuangkan peran perempuan. Maka ijinkanlah perempuan dan kaum ibu merdeka dalam menentukan keputusannya. Contoh sederhananya adalah dukunglah ibu untuk bebas memilih jenis kontrasepsi yang diinginkannya. Yang dianggapnya paling baik dan cocok untuk dirinya. Sebab, perkara hamil dan melahirkan hanya ibu yang merasakan. Bapak tidak akan bisa merasakan itu. Maka, bijaksanalah wahai kaum bapak sebagai kepala rumah tangga. Dukunglah kebahagiaan istrimu, meski melalui hal kecil, contohnya dengan mendukungnya menggunakan kontrasepsi. Agar anak-anak memiliki jarak kelahiran yang cukup. Sehingga perkembangan setiap anak dapat terpantau dengan baik. Setiap gizi dan nutrisi yang harus dikonsumsinya bisa didapatkan, contohnya, melalui pemberian ASI hingga anak usia dua tahun. Hal itu tidak akan bisa dilakukan jika di bawah usia satu tahun sang ibu sudah hamil lagi, karena sang bapak tidak mengijinkan sang ibu ber KB. Dengan mendukung ibu ber KB artinya juga membantu ibu hidup lebih sehat karena mencegah perdarahan yang terlalu banyak setelah persalinan dan mempercepat pulihnya kondisi rahim. KB juga membantu ibu menjaga kesehatan fisik dan kesehatan reproduksi lebih optimal.

Kasihanilah ibu-ibu wahai kaum bapak-bapak. Biarkan ibu pulihkan tubuhnya pasca melahirkan dan menyusui bayinya hingga dua tahun. Sehingga bayi dan ibu bisa sama-sama sehat. Selain sehat juga harus bahagia.

Sayangilah ibu, buatlah mereka berbahagia. Dukunglah ibu menggunakan kontrasepsi dan bersama-sama mengatur jarak kelahiran. Hingga terciptalah keluarga kecil bahagia sejahtera. Selamat Hari Ibu bagi semua Ibu di Indonesia.

 

Penulis : Henny Andaresni Martianengtias, S.Ikom

PKB Desa Labuhan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa

Telp. 087865003615