KURSUS PRANIKAH (Persiapan Kehidupan Berkeluarga)

Oleh : H. Sait Mashuri, SH*.

Dalam tulisan terdahulu yang bertajuk Seribu Hari Pertama Kehidupan, penulis telah memaparkan bahwa ada empat faktor yang harus diperhatikan dari sisi agama apabila seseorang hendak menikah. Empat hal tersebut antara lain:

  1. Faktor harta/kekayaan.
  2. Faktor Keturunan.
  3. Faktor Wajah (Kecantikan/Ketampanan).
  4. Faktor Agama (Ahlak/budi pekerti).

Jika dilihat dari faktor-faktor  tersebut di atas,  sesungguhnya pernikahan bukanlah hal yang asal-asalan untuk dilaksanakan. Diperlukan kesiapan dari berbagai aspek  yang menyeluruh agar sebuah pernikahan dapat berlangsung  langgeng, bahagia dan sejahtera.

Membangun rumah tangga dalam suasana religi adalah melaksanakan perkawinan antara laki-laki dan wanita yang diikat dengan perjanjian nikah.  Perkawinan harus dilaksanakan dalam keadaan suci baik lahir maupun batin oleh calon pengantin. Oleh karena itu sebelum melaksanakan pernikahan, para calon pengantin hendaknya dibekali dengan hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban sebagai suami istri. Untuk maksud tersebut, baru-baru ini Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendi mengusulkan agar setiap pasangan yang ingin menikah punya sertifikat pernikahan. Sertifikat ini baru bisa diperoleh manakala calon pengantin sudah mengikuti pembekalan/kursus pranikah sebagai bukti bahwa mereka memang sudah siap untuk menikah.                                                                                                                                                                        Usulun Menko PMK tentang sertifikasi pranikah ini ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan, baik yang pro maupun yang kontra. Salah satu yang setuju dengan ide ini adalah Komisi Nasional Perempuan dengan catatan sertifikat pernikahan ini tidak sebatas sertifikat, namun yang penting menurut Komnas Perempuan adalah bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari setelah mereka menjalani perkawinan dan menerapkannya dalam kehidupan berkeluarga.

Latar Belakang.

Salah satu alasan dimunculkanya ide kursus pranikah adalah tingginya angka perceraian di Indonesia beberapa tahun terakhir. Kementrian agama merilis angka perceraian yang cukup mengkhawatirkan dalam lima tahun terakhir. Berikut data pernikahan dan perceraian tahun 2009 s/d 2013 :

Data Pernikahan dan Perceraian Tahun 2009 S/D 2013

NO TAHUN JUMLAH PERNIKAHAN JUMLAH PERCERAIAN PROSENTASE
1 2009 2.162.268 216.286 10
2 1010 2.207.364 285.184 12,9
3 2011 2.319.821 158.119 6,8
4 2012 2.291.265 372..577 16,2
5 2013 2.218.130 324.527 14,6

Sumber: Kemenag.

Dari data tersbut di atas dapat dijelaskan bahwa Pada tahun 2009 dari pernikahan sebanyak 2.162.228 perkawinan, terjadi perceraian sebanyak 10% atau sebanyak 216.286 pasangan yang melakukan perceraian. Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2010 terjadi peningkatan angka perceraian sebanyak 2,9%. Dari pernikahan sebanyak 2.207.364 perkawinan terjadi perceraian sebanyak 285.184 kasus atau 12,9%. Pada tahun 2011 kasus perceraian menurun cukup signifikan. Dari pernikahan sebanyak 2.319.821 hanya terjadi perceraian sebanyak 158.119 kasus atau sebesar 6,8%. Namun pada tahun berikutnya  yaitu tahun 2012 terjadi lonjakan perceraian yang cukup tajam. Dari 2.291.265 pernikahan, jumlah perceraian menyentuh angka tertinggi yaitu sebanyak 372.577 kasus atau sebesar 16,2%. Dan pada tahun 2013 meskipun terjadi penunrunan kasus perceraian, namun angka angkanya masih cukup tinggi yaitu 324.527 kasus atau 14,6% dari pernikahan sebanyak 2.218.130.

Melihat tingginya kasus perceraian selama ini memunculkan ide dari berbagai pihak untuk memberikan “Kursus Pranikah” bagi calon pemuda pemudi yang akan melangsungkan pernikahan.

Usulan kursus pranikah yang dilontarkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan diamini oleh mentri agama bertujuan untuk menekan angka perceraian yang cukup tinggi di Indonesia. Ke depan diharapkan bagi orang yang mau menikah tidak cukup hanya bermodal cinta dan suka sama suka saja, namun mereka harus dibekali dulu dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai suami istri dalam sebuah keluarga.

Materi Kursus Pranikah

            Sebelum sampai pada materi apa saja yang harus diberikan pada kursus pranikah, perlu kiranya dibahas siapa dan instansi mana saja yang harus terlibat aktif dalam kursus pranikah tersebut.

Secara nasional, Kementerian Agama adalah salah satu instansi yang diharapkan akan terlibat aktif dalam pelaksanaan kursus pranikah disamping instansi-instansi yang lain seperti BKKBN sebagai instansi yang memang khusus bersentuhan langsung dengan pembangunan keluarga. Mengingat jangkauan petugas BKKBN yang merata sampai ke tingkat desa, maka peran petugas KB cukup strategis untuk berkolaborasi dengan petugas KUA di kecamatan seluruh Indonesia. Jika kolaborasi duan instansi ini bisa terwujud (Kemenag dan BKKBN), maka kedepan semua pasangan yang akan menikah harus mendapat pembekalan secara khusus dari dua instansi tersebut melalui  para petugasnya di lapangan yaitu Penyuluh KB dari aspek Kependudukan dan KB, dan Penyuluh Agama dari aspek yang berkaitan dengan tuntunan agama tentang pernikahan . Adapun materi-materi yang perlu disampaikan dalam kursus pranikah antara lain.

  1. Usia Ideal Perkawinan.

Dalam Undang-undang nomor I Tahun 1974 tentang perkawinan pasal 7 menyebutkan  Perkawinan hanya diijinkan jika pria berusia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun. Kini berdasarkan peraturan perundang-undangan perkawinan yang telah direvisi dan disetujui oleh MK, usia maksimal perkawinan adalah 19 tahun baik bagi wanita maupun pria. Namun berdasarkan penelitian kesehatan, kesiapan usia menikah yang ideal adalah 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Kesiapan ini diperlukan agar para calon pengantin mempunyai pengetahuan tentang kesehatan reprodukasi, kehamilan, merawat anak serta kehidupan berkeluarga.

Dampak positif jika menikah pada usia yang matang adalah adanya kedewasaan dalam menyikapi berbagai permasalahan yang timbul setelah perikahan baik secara biologis maupun kejiwaan. Sebaliknya pernikahan dibawah umur seringkali berakibat tidak langgengnya ikatan perkawinan karena masih labilnya emosi dan kejiwaan dalam mensikapi berbagai permasalahan setelah pernikahan sehingga rawan terjadinya perceraian. Boleh jadi banyaknya kasus perceraian yang terjadi belakangan ini disebabkan karena pernikahan yang tidak direncanakan atau karena keterpaksaan.

  1. Kesiapan Finansial

Kesiapan secara financial perlu dimilik calon pengantin karena ini berkaitan dengan kemandiriran secara ekonomi. Kesiapan secara financial ini dapat terlihat dari kesiapan calon pengantin untuk membiayai pernikahannya tanpa membebani orang tuanya. Jika kesiapan financial sudah maksimal, maka keluarga baru yang akan terbentuk akan dengan mudah mengelola sumber daya yang dimiliki untuk kelangsungan hidupnya sehingga hubungan suami istri akan tetap harmonis. Jika kesiapan financial ini belum maksimal, tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya maka dikhawatirkan kelangsungan hidup keluarganya rawan terjadi pertengkaran yang berujung terjadinya perceraian.

  1. Kesiapan Fisik,Mental dan Emosi.

Kesiapan fisik meliputi kesiapan secara biologis seperti kesiapan organ tubuh untuk melakukan proses reproduksi seperti melakukan hubungan seksual yang sehat dan aman,  kemampuan melakukan pengasuhan serta pekerjaan rumah tangga dengan baik. Dengan kesiapan fisik yang baik seseorang akan dapat merawat dan membersihkan diri dengan baik sehingga dapat melakukan hubungan seksual dengan baik dan sehat. Disamping kesiapan fisik, seseorang yang akan menikah juga harus dibekali dengan kesiapan mental dan emosi yang baik. Oleh karena itu menikah diusia yang ideal 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria merupakan usia pernikahan yang direkomendasikan dari sisi kesehatan karena pada usia ini calon penganten sudah mempunyai mental dan emosi yang stabil sehingga jika terjadi permasalahan atau goncangan dalam biduk rumah tangga mereka, pasangan keluarga ini akan dapat mengatasinya secara dewasa dan penuh tanggung jawab. Sebesar apapun badai yang menerpa dalam keluarga akan disikapi dengan tenang dan penuh pengertian, dan badai itupun pasti akan berlalu.

  1. Kesiapan Sosial

Kesiapan sosial adalah kemampuan untuk mengembangkan berbagai kapasitas untuk menjaga kehamonisan pernikahan. Selain itu juga terdapat interaksi antara individu dan masyarakat sekitarnya seperti tetangga, kelompok-kelompok sosial dan kerabat dekat. Menjalin hubungan baik dengan lingkungan sosial sekitarnya dan kerabat dekat dapat melanggengkan keharmonisan keluarga. Oleh karena itu seseorang harus mampu beradaptasi dengan kerabat dekat dan lingkungan sosialnya.

  1. Kesiapan Moral.

Kesiapan moral adalah kemampuan untuk mengetahui dan memahami nilai-nilai kehidupan yang baik seperti kepatuhan, kesabaran dan memaafkan. Pentingnya kesiapan ini sebagai pedoman dan prinsip dalam menjalankan kehidupan sehari-hari setelah perkawinan. Individu yang sudah mempersiapkan moralnya dengan baik maka akan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah sehingga dapat menjaga komitmen bersama, saling menghargai dan mematuhi. Apabila individu tidak mempunyai kesiapan moral yang baik, maka dikhawatirkan  tidak memiliki prinsip dan pegangan nilai-nilai kehidupan yang baik sehingga akan memutuskan segala sesuatu tergesa-gesa tanpa berpikir akibatnya. Seseorang juga dikhawatirkan tidak menjaga komitmen sehingga akan mudah tergoda oleh orang lain yang dapat berakibat pernikahannya akan berantakan.

  1. Kesiapan Interpersonal

Yaitu kemampuan individu dalam melakukan kompetensi dalam berhubungan, seperti pasangan suami istri harus saling mendengarkan, membahas masalah pribadi dengan pasangan dan menghargai bila terjadi perbedaan. Seseorang membutuhkan kesiapan ini untuk memahami individu lainnya agar dapat menghargai dan mempunyai tenggang rasa dengan orang lain dan lingkungannya, lebih-lebih pasangannya. Jika individu mempunyai kesiapan interpersonal yang baik maka akan dapat saling menghargai, memahami dan peduli sehingga dapat mencapai kepuasan pernikahan dan tercapai keharmonisan dan kesejahteraan keluarga. Dampak negative jika individu tidak mempunyai kesiapan interpersonal yang baik adalah pasangan akan sering mengalami perselisihan dikarenakan tidak mau saling memahami dan peduli dengan orang lain.

  1. Kesiapan Life Skil.

Kesiapan ketrampilan hidup atau life skil adalah kemampuan yang dimiliki individu dalam mengembangkan berbagai kapasitasnya untuk memenuhi peran di dalam keluarga, seperti menjaga kebersihan rumah tangga,  merawat anak, melayani suami dan sebagainya. Apabila individu dapat mempersiapkan ketrampilan hidupnya dengan baik maka mereka akan dapat bekerja sama  dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sehingga dapat mewujudkan kepuasan dan kesejahteraan keluarga. Manakala individu tidak memili kesiapan interpersonal yang baik maka mereka tidak akan dapat menjalankan perannya sebagai suami istri dengan maksimal dan akan selalu bergantung pada orang lain sehingga dapat memicu perselisihan dalam keluarga.

  1. Kesiapan Intelektual.

Kesiapan intelektual berhubungan dengan kemampuan individu dalam berfikir, menangkap informasi dan berhubungan dengan kemampuan mengingat. Kesiapan ini digunakan sebagai penunjang dan pendukung dalam mencari informasi dan pengetahuan tentang pernikahan dan cara-cara merawat anak atau mengelola keuangan keluarga. Individu yang memiliki kesiapan ini akan mempunyai wawasan yang luas tentang kehidupan keluarga sehingga bila terjadi permasalahan dalam keluarga akan dapat mengatasi dan mencari solusinya secara bijak.

Sepuluh dimensi kesiapan berkeluarga seperti tersebut di atas merupakan materi yang tepat untuk disampaikan dalam program kursus pranikah pengantin, agar setiap calon pengantin dapat pengetahuan dan wawasan yang luas tentang hidup berkeluarga sebagai bekal mereka untuk membentuk keluarga baru. Jika kursus pranikah ini diberikan pada semua calon pengantin, dapat dipastikan kasus perceraian yang masih tinggi di Indonesia akan dapat diminimalisir sehingga ketahanan keluarga-keluarga Indonesia sebagai bagian dari program Keluarga berencana  untuk membangun keluarga Indonesia yang sejahtera dan maju akan semakin tangguh. Dapat disimpulkan bahwa untuk langgeng dan sejahteranya sebuah keluarga perlu dibekali dengan penerapan 8  (delapan) fungsi keluarga yang meliputi : Fungsi Agama, Fungsi Sosial budaya, Fungsi Cinta dan Kasih sayang, Fungsi Perlindungan, Fungsi Reproduksi, Fungsi Sosial dan Pendidikan, Fungsi Ekonomi dan Fungsi Lingkungan. Delapan fungsi  keluarga ini hendaknya dijadikan acuan materi kursus pranikah agar mereka yang mau menikah benar-benar memahami tugas dan fungsi masing-masing pasangan dalam keluarganya.

Kursus Pranikah adalah rencana program yang strategis dan sejalan dengan misi Revolusi Mental Presiden Jokowi. Melalui kursus pranikah diharapakan akan mampu merubah mental dan prilaku bangsa Indonesia terutama para generasi milenial agar mereka benar-benar mempersiapkan diri sebelum menikah, sehingga pernikahan para milenial di masa-masa yang akan datang akan berlangsung langgeng dan menjadi keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera, karena segala sesuatu yang direncanakan itu pasti pada akhirnya akan berakhir dengan indah dan berencana itu, keren.(Bersambung).

*Penulis adalah PKB Madya Kec. Sikur!

 

 

Sikur, 1 Pebruari 2020