KUPINANG KAU DENGAN KONDOM AROMA(Menuju Jenjang Pernikahan)

Oleh : H.SAIT MASHURI*

Ada dua kebahagian dalam hidup yang sangat berkesan dalam perjalanan hidup semua manusia terutamaa para remaja yakni ketika berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan dengan memperoleh gelar sarjana, dan melepas masa lajang ketika akan memasuki jenjang pernikahan. Rasa bahagia itu bergitu nampak ketika dia dilantik sebagai sarajana dengan Baju Toga yang telah lama diperjuangkan di bangku kuliah. Perjuangan panjang dan melelahkan menuntut ilmu di kampus serasa terobati tatkala almamater memberinya predikat sebagai sarjana dari disiplin ilmu yang digelutinya. Inilah awal sejarah hidupnya seseorang akan terjun ke masyarakat untuk mengamalkan segala ilmu yang di dapat di kampus. Masyarakat adalah laboratorium yang sesungguhnya dimana dia akan mempraktikkan segala disiplin ilmu yang telah diperolehnya di lembaga pendidikan.

Sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki, para generasi muda yang telah ikut program “Genre” itu menatap masa depan dengan penuh ceria dan optimis. Berbekal dengan kesiapan financial yang telah lama dipersiapkan dan setelah mengikuti kursus “pranikah” mereka dengan mantap memulai kehidupan baru untuk membentuk keluarga dengan menyunting calon pujaan hatinya sebagai pasangan hidupnya.

Kupinang Kau Dengan Kondom Aroma

            Saat-saat yang dinanti kini hampir tiba. Kesiapan ekonomi yang mapan, gelar Sarjana dan dengan selembar sertifikat kursus pranikah, maka secara administrasi, perkawinan seseorang akan mudah terlaksana tanpa hambatan yang berarti. Dengan penuh percaya diri dan langkah yang tegar diapun mendatangi keluarga calon mempelai untuk meminang bunga desa pujaannya. Didepan calon mertuanya, dia dengan percaya diri meminang gadis pujaannya sambil  berbisik pada calon istrinya dia berkata, “Kupinang Dirimu Dengan Kondom Aroma” disamping cincin emas  dua geram yang mengisyaratkan untuk merencanakan dua anak dalam perkawinan mereka.                                                                     Kado terindah buat pernikahan dari pasangan adalah ketika pengantin mampu mempersembahkan “keperawanannya” di malam pertama untuk disuguhkan hanya kepada suami atau istri tercintanya.

Keberhasilan sebuah pernikahan tidak terletak pada meriahnya pesta atau pada banyak dan sedikitnya undangan yang datang dengan  bermobil atau berjalan kaki, atau berapa kali mempelai berganti-ganti baju pengantin. Akan tetapi keberhasilan suatu perkawinan terletak pada keberkahan atau “barokah” dalam bahasa agamanya yang diperoleh oleh kedua mempelai dalam perkawinannya. Keberkahan yang berkesan dalam hati sanubarinya, akan tanggung jawab sebagai suami istri yang kelak akan diberi amanah melahirkan anak sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan estafet kehidupan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Melahirkan anak berkualitas seyogyanya dimulai sejak manusia memilih jodoh dan mengikatnya dalam satu bentuk perkawinan yang sah berdasarkan petunjuk agama serta menilai apa yang dihasilkan dari perkawinan itu sebagai “titipan/amanah dari Allah. Dengan kata lain persiapan melahirkan manusia berkualitas itu harus dimulai sedini mungkin berdasarkan norma-norma agama dan kesehatan “reproduksi pasangan”.

Upacara pernikahan betapapun sederhananya tetap suci, sakral dan agung karena itu merupakan upacara ritual yang akan menghalalkan sesuatu yang tadinya haram untuk dilakukan. Dalam acara pertunangan tersebut tak lupa disampaikan nasehat-nasehat yang berharga sebagai bekal mereka untuk berkeluarga dari calon mertua. Kebahagian hidup akan diperoleh jika pasangan suami istri memiliki 8 sikap dalam hidupnya sebagai wujud implemantasi 8 fungsi keluarga. Delapan sikap hidup tersebut adalah :

  1. Cinta hanya pada istri/suaminya, seorang.

Dalam Undang-Undang Perkawinan dan dalam syareat agama kita (Islam) memang dibolehkan untuk menikah lebih dari satu orang. Namun sebaiknya sebuah rumah tangga itu hanya terdiri dari seorang istri dan seorang suami saja. Pintu poligami sifatnya adalah darurat yang tidak bisa dibuka setiap saat. Bak sebuah pesawat, pintu darurat hanya boleh dibuka apabila pesawat dalam keadaan darurat, oleh karena itu cintailah hanya istri/suamimu seorang sebagaimana yang telah terucap sewaktu masih remaja “Cintaku sehidup semati  hanya untukmu”.

  1. Suami/Istri yang sayang pada keluarganya.

Suami yang sayang pada anak-anak dan istrinya, walaupun dalam kondisi penat setelah seharian bekerja, mereka menyempatkan diri untuk bermain dan bercanda dengan anak-anaknya. Sesuatu yang menjengkelkan  setiap wanita manakala anak-anaknya disuruh pergi ketika mereka mengerumuni bapaknya yang baru datang setelah seharian beraktivitas di luar rumah. Sepenat apapun, orang tua harus mencurahkan waktu dan kasih sayang untuk keluarganya.

  1. Sayang kepada ayah bunda mertua.

Ketika sudah menikah, maka mertua adalah orang tua kita juga jangan dibeda-bedakan. Tidak ada kenikmatan buat ayah bunda kecuali menerima kiriman dari menantu/anak walaupun hanya secawan kopi dan sebungkus makanan ringan. Bibit-bibit kebakaran dalam sebuah keluarga manakala suami/istri tidak terbuka pada pasangan tentang apa yang diberikan kepada orang tuanya. Oleh karena itu keterbukaan adalah syarat mutlak keharmonisan sebuah rumah tangga.

  1. Membina hubungan baik dengan tetangga.

Keluarga terdekat kita bukanlah saudara yang ada di Jakarta atau Bogor. Keluarga terdekat adalah tetangga yang ada di samping rumah kita . Menjalin hubungan baik dengan mereka sangat penting karena apabila terjadi sesuatu maka orang  pertama yang akan menolong adalah tetangga dekat kita bukan saudara kandung yang jauh dari rumah kita.

  1. Tidak mengerjakan sesuatu yang menyakiti pasangan

Pasangan suami istri harus mempunyai pengendalian diri yang baik dan tidak berbuat sesuatu yang dapat berakibat melukai perasaan pasangannya. Oleh karena itu segala sesuatu hendaknya dibahas bersama-sama agar para pihak tidak ada yang merasa tersinggung dengan perbuatan pasangannya. Suami istri harus menjaga pergaulan dan kehormatan diri di luar rumah dan tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh pasangannya. Seorang istri harus mampu menjaga harta dan kehormatannya ketika suami tidak di rumah. Demikian juga dengan suami harus menjaga kepercayaan istri tercinta terutama ketika beraktifitas dengan lawan jenisnya di luar rumah. Sekali tersakiti masih bisa dimaafkan, namun bila berkali-kali berbohong dan bermain asmara dengan wanita atau lelaki hidung belang, maka keutuhan keluarga sulit untuk dipertahankan.

  1. Tidak menyembunyikan sesuatu dari pasangan.

Segala sesuatu harus dilakukan secara terbuka. Pasangan suami istri harus bersikap  transparan dalam segala hal. Tidak boleh sembunyi-sembunyi seperti menyimpan uang di kantor, memberi uang pada saudara secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan pasangan. Tidak dipungkiri bahwa ketika kita sudah berkeluarga, ikatan dengan keluarga asal harus tetap terjaga. Oleh karena itu jika ingin melakukan sesuatu seperti memberi kepada keluarga asal hendaknya dikomunikasikan dengan suami atau istri agar pasangan kita tidak menaruh curiga  terhadap perbuatan baik suami maupun istrinya. Membina hubungan baik dengan keluarga asal seperti memberi hadiah dan sebagainya adalah perbuatan baik asal dikomunikasikan dengan pasangannya. Memberikan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga adalah awal dari bibit-bibit percekcokan dalam sebuah keluarga.

  1. Suami yang punya Idealisme.

Pasangan (suami) yang punya idealisme  tentang hidup, tidak asal hidup akan mampu menjadikan keluarganya, tetangga dan masyarakat luas  tentang arti sebuah kehidupan, baik untuk hari ini esok dan kehidupan setelah di dunia. Pasangan yang idealis tidak mungkin akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang dan dengan perhitungan yang cermat. Suami yang idealis adalah suami yang punya prinsip dalam hidup dan  akan mampu menjadikan keluarganya menjadi keluarga yang maju dan harmonis, bahagia dan sejahtera.

  1. Suami menjadi teladan bagi keluarganya.

Setiap suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Jika ingin diikuti oleh anggota keluarganya maka suami harus mampu menjadi teladan bagi keluarganya. Suami harus menjadi contoh bagi anak-anak dan istrinya dalam segala hal terlebih dalam urusan ibadah. Suami harus mampu menjadi imam sholat bagi istri dan anak-anaknya. Penanaman disiplin beribadah ini sangat penting agar keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah sebagai tujuan hidup berkeluarga dapat terwujud dalam rumah tangganya. Tanpa adanya komitmen dari pemimpin keluarga terutama suami, maka keluarga yang sakinah yang dicita-citakan, hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Demikian juga istri harus memberi support penuh pada sang suami sebagai pemimpin dalam keluarga.

Sek Terindah Adalah Setelah Pernikahan

            Masa tunangan telah lewat, masa saling kenal pribadi masing-masing telah berlalu dan hari-hari yang dinanti sebentar lagi akan tiba.

Pasangan pengantin yang mampu menjaga dirinya dari pergaulan dan sek bebas selama masa remajanya, akan benar-benar menikmati indah dan nikmatnya hubungan sek setelah menikah. Prilaku sek bebas yang banyak melanda remaja saat ini akan sangat berpengaruh dalam keharmonisan dan ketahanan sebuah keluarga. Jika selama ini ia mampu menjaga diri dari prilaku sek yang tidak sehat tersebut, maka setelah menikah mereka akan benar-benar merasakan indahnya pacaran setelah menikah. Sebelum mereka berhubungan intim, sang suami terlebih dulu mengajak istri tercinta untuk sholat sunnah dua rekaat seperti yang pernah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Kemudian setelah sholat sang suami mengajak istri untuk berdoa agar hubungan badan yang akan mereka lakukan untuk yang pertama kali dalam hidupnya di malam pertama mereka, akan membuahkan keturunan yang sholeh dan sholehah. Kemudian sesuai dengan petunjuk agama, sang suami dengan penuh cinta dan hati berdebar memegang kening istri tercintanya lalu menciumnya dengan perasaan berbunga-bunga. Lalu mereka berdoa agar hubungan intim yang akan mereka lakukan dijaga dan dilindungi oleh Allah dari pengarh-pengaruh jahat Syetan. Tak terasa air mata mereka mengalir sebagai bentuk syukur karena mereka mampu menjaga diri dan kehormatan semasa remaja. Demikianlah pasangan suami istri yang menikah di usia ideal ini benar-benar telah siap untuk menikmati indahnya malam-malam pertama mereka sebagai suami istri. Hari-hari dan bulan-bulan, mereka lalui sebagai bulan-bulan dan hari-hari yang penuh madu. Bak “Romeo dan Juliet”, mereka benar-benar dimabuk cinta. Untuk menikmati bulan madu agar lebih lama dirasa, mereka memakai kondom aroma coklat penghias cinta mereka. Rasa romantic bagaikan “Qais dan Laela” semakin memuncak, ketika sang istri tercinta memasangkan kondom aroma coklat ke penis suami yang telah tegak berdiri bak tiang listrik yang kokoh, Dengan raut wajah yang cantik dibalut rasa malu sang istri dengan penuh manja dan sedikit nakal mempermainkan penis suaminya yang telah berbalut kondom aroma, kondom hadiah pertunangan dari suaminya. Mereka benar-benar merasakan betapa indah dan nikmatnya hubungan sek setelah menikah. Bak sebuah pertandingan, suami istri  yang romatis dan serasi  ini sangat berbahagia menikmati manis dan indahnya madu cinta mereka, bak jual beli serangan dalam petandingan sepak bola, sang suami tidak henti-hentinya memasukkan gol ke gawang istri,  meskipun sang istri  terkadang berusaha bertahan dengan perasaan malu dan berbagai cara menghalangi serangan suami yang begitu agresif merobek-robek gawang lawan.

Gambar : saat terbaik untuk pemakaian kondom.

Berbeda dengan teman-teman sebayannya yang telah menikah lebih dulu, yang menikah tanpa perencanaan yang matang. Yang menikah karena tergesa-gesa, yang menikah karena korban pergaulan bebas dan yang menikah karena akibat sek bebas. Nasib mereka kini sangat miris dan berbanding terbalik dengan yang menikah pada usia yang ideal dan dengan perencanaan yang matang. Bulan madu hanya tinggal impian, yang tersisa hanyalah bulan yang penuh pilu dan kesepian karena ditinggal suami merantau ke negeri jiran. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang terpaksa berpisah karena tidak sanggup menahan beban hdup yang tinggi. Berdasarkan data  dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA)  mencatat, pada tahun 2018 tercatat sebanyak 1.348.866 pernikahan dini di Indonesia (menikah di bawah usia 18 tahun). Bahkan setiap tahun terjadi 300.000 perkawinan di bawah usia 16 tahun.

Sementara itu sebelumnya data Biro Pusat Statistik  merilis bahwa, satu dari empat perempuan di Indonesia sudah menikah pada usia di bawah 18 tahun pada kurun waktu tahun 2008 sampai dengan tahun 2015. Berdasarkan data penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015 terungkap fakta bahwa angka pernikahan dini di Indonesia peringkat kedua teratas di Asia Tenggara. Sekitar 2 juta dari 7,3% perempuan Indonesia berusia di bawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah ini diperkirakan akan melonjak menjadi 3 juta pada tahun 2030 yang akan datang.

Melihat fakta-fakta tersebut di atas, tantangan program KKBPK di tahun-tahun yang akan datang, hendaknya difokuskan pada generasi milenial. Penyuluhan bahaya  pernikahan dini dan sosialisasi pendewasaan usia perkawinan di sekolah-sekolah harus lebih masif dilakukan agar generasi milenial memahami dampak negative dari pernikahan anak di bawah umur. Perlu ketegasan semua pihak terutama aparat penegak hukum agar memberikan sangsi yang tegas kepada oknum-oknum yang melakukan dan memfasilitasi pernikahan anak di bawah umur. Tanpa adanya ketegasan aparat penegak hukum, maka kerja keras para Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dalam memberikan penyuluhan bahaya pernikahan anak dibawah umur  seperti yang banyak terjadi  di seluruh Indonesia setiap tahun akan sia-sia belaka. Meski demikian Penyuluh KB tidak boleh menyerah, Penyuluh KB harus tetap semangat dalam melaksanakan tugasnya karena merubah watak dan prilaku manusia tidak seperti dokter memberi obat pada pasien. Begitu dokter selesai mendianoksa penyakit dan memberinya obat, maka selesailah tugas dokter. PLKB/PKB lebih dari dokter karena yang dirubah adalah prilaku dan watak yang tidak/kurang baik menjadi orang yang bijak dalam mengambil keputusan untuk diri dan keluarganya. (Bersambung).

 

 

Sikur, medio awal Maret 2020

*Penulis adalah PKB Kec. Sikur