KADIKLAT BKKBN PUSAT BUKA PERTEMUAN PENGEMBANGAN KURIKULUM LATBANG NTB

Penyuluh Keluarga Berencana (PKB/PLKB) sebagai bagian dari ASN dan bagian dari reformasi birokrasi memiliki kewajiban mengelola dan mengembangkan dirinya dan wajib mempertanggungjawabkan kinerjanya dan menerapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen Aparatur Sipil Negara. Salah satu cara  meningkatkan kapasitas ASN adalah melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan sebagaimana diamanatkan UU No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) pasal 70 ayat (2) yang berbunyi PNS berhak memperoleh pengembangan kompetensi. Selanjutnya PP No. 11/2017 tentang Manajemen PNS pada Pasal 203 ayat (4) menyebutkan pengembangan kompetensi dilakukan paling sedikit 20 (dua puluh) jam pelajaran dalam 1 (satu) tahun, serta Pasal 210 ayat (2) pengembangan kompetensi dapat dilakukan dalam bentuk pelatihan dan pendidikan.

Bertempat di Fave Hotel Langko Mataram, Balai  Latihan  dan  Pengembangan (Balatbang) Perwakilan BKKBN Provinsi NTB mengadakan pertemuan Pengembangan Kurikulum, Materi Dan Media Pembelajaran. Kegiatan pertemuan di buka secara langsung oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (PUSDIKLAT) BKKBN Pusat, DR. Drs Lalu Makripuddin M.Sc. Tujuannya adalah untuk memperoleh pengembangan design, modul, materi, jenis dan media pembelajaran pelatihan yang dapat mendongkrak percepatan  capaian  program  Banggakencana di NTB. Pertemuan yang dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 12 Maret 2020 tersebut, di ikuti oleh sekitar 25 orang peserta, yang terdiri dari Kepala Bidang OPD KB Kabupaten/kota, akademisi perguruan tinggi, Widia iswara BPSDM NTB, Perwakilan Penyuluh KB, serta dari mitra lintas sektor.

Kepala Pusdiklat dalam sambutannya menyatakan bahwa Salah satu komponen dalam diklat berbasis kompetensi adalah kurikulum yang berbasis kompetensi berdasar pada kebutuhan akan kompetensi peserta diklat. Dalam rangka memenuhi tuntutan perkembangan jaman berikut situasi dan kondisi di masyarakat, pengembangan kurikulum diklat perlu dilakukan. Pengembangannya tetap menyesuaikan dengan landasan pengembangan kurikulum, yakni landasan filosofis, psikologis, sosiologis dan

IPTEK. Pengembangan kurikulum diklat berbasis kompetensi juga menyesuaikan dengan model kurikulum yang dikehendaki, sehingga kurikulum tersebut nantinya dapat menghasilkan lulusan diklat dengan kemampuan sesuai yang diinginkan. Pengembangan kurikulum diklat berbasis kompetensi pada akhirnya diharapkan dapat membangun profesionalisme dan kompetensi PNS dalam menjawab tantangan di masa depan.Dengan demikian diklat akan menghasilkan lulusan, dalam hal ini PNS, yang profesional dan kompeten.

Lebih lanjut, Lalu Makripuddin menekankan bahwa diklat berbasis kompetensi diselenggarakan untuk mengatasi diskrepansi kompetensi PNS agar kemampuan PNS lulusan diklat sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Pengembangan Kompetensi dalam bentuk pelatihan dilakukan melalui pelatihan klasikal dan non klasikal (E-Learning, coaching, mentoring, magang/praktik kerja, belajar mandiri).  E-learning dipilih karena Salah satu Pelatihan metode jarak jauh/daring (online) dengan prinsip teknologi pendidikan/pembelajaran, Materi e learning, mempunyai daya tarik (meningkatkan retensi) terhadap materi yang sama dibandingkan dengan disampaikan dalam kelas biasa, Waktu pembelajaran 60 % lebih singkat dibandingkan dengan kelas biasa untuk materi yang sama, serta untuk mengurangi beban anggaran Negara. Dalam pelaksanaannya, pengembangan kompetensi dapat dilakukan melalui model 70:20:10 dimana pelatihan non kalsikal mendapat porsi 90% dari keseluruhan pembelajaran.

Namun harus disadari pula bahwa selain memiliki banyak kelebihan, E-Learning memiliki pula kekurangan. Dari hasil ujicoba e-learning, yang harus menjadi focus perhatian, adalah kegagalan E-Learning sebagian besar diakibatkan oleh kegagalan dalam analisa kebutuhan karena pengembang gagal dalam menangkap kebutuhan sebenarnya dari user.

Melalui pembelajaran Elearning, diharapkan E-learning sebagai solusi perwujudan Implementasi PP 11 ttg Manajemen ASN,  yang dapat diterapkan dalam setiap pelatihan dan menjadi sarana pembelajaran online. Elearning juga memiliki kemampuan sharing informasi dan data kepada semua pegawai dan tenaga program,  menjadi utama dalam pembangunan kompetensi ASN, serta menjadi media interaktif, user friendly dan menarik, dan menjadi budaya pembangunan Kapasitas Kompetensi ASN, yang mana Pusdiklat  menjadi Pusat Sertifikasi dan Akreditasi Pelatihan Elearning. (Saiful A).