PKB di Tengah Gempuran Virus Corona

Dunia dihebohkan dengan kemunculan sebuah virus yang menyerang sistem pernafasan dan mengakibatkan  pneumonia  (infeksi paru-paru) akut, hingga kematian.  Virus tersebut pertama kali muncul di Kota Wuhan, Cina pada akhir  Desember  2019. Virus yang berbentuk seperti mahkota tersebut diberi nama Corona virus. Corona sendiri berarti mahkota dalam bahasa latin. Penyakit karena infeksi virus Corona dinamakan Covid-19. Virus ini bisa menyerang siapa saja. Mulai dari ibu hamil, bayi, anak-anak, orang dewasa  dan lansia.

Virus Corona telah menjadi pandemik dunia. Dengan cepat menyebar ke berbagai belahan benua dan Negara. Ia tak pandang bulu dalam menyerang . Telah banyak tokoh dunia  yang positif Covid-19. Wakil Presiden Iran, Masoumeh Ebtekar dan Wakil Menteri Kesehatan Iran Harirchi positif terjangkit virus Corona. Istri  Perdana  Menteri  Kanada Sophie Gregoire. Aktor Tom Hanks dan istrinya pun tak lepas dari jangkitan virus tersebut. Olahragawan pemain NBA Rudy Gobert pun positif terkena virus Corona. Ratusan ribu orang di seluruh dunia telah menjadi korbannya.

Sedangkan di Indonesia  virus tersebut telah menyerang Menteri perhubungan Budi Karya Sumadi dan seratus lebih lainnya. Bahkan  jumlah tersebut hingga kini terus bertambah. Awalnya, penderitanya akan mengalami gejala flu, seperti demam, batuk, pilek, tenggrokan terasa sakit, sakit kepala, demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak nafas, dan nyeri dada. Namun, secara umum, ada tiga gejala umum yang menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu; demam  suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius, batuk, dan sesak nafas. Orang-orang yang memiliki gelaja-gejala tersebut diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan  kesehatan untuk memastikan kondisi diri agar mendapat penanganan yang tepat dan cepat.

Hal paling mengerikan dari virus Corona adalah, kemampuannya untuk menyebar dengan cepat. Penularan pasien Covid -19 kepada manusia sehat lainnya bisa terjadi begitu cepat, hanya dengan melalui kontak langsung berupa melakukan interaksi  langsung seperti  bersentuhan atau berjabat tangan, tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita Covid- 19, memegang mulut atau hidung tanpa mencuci  tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena percikan air liur pasien Covid-19.  Karena itu, menjaga jarak dengan penderita Covid-19 menjadi hal yang perlu dilakukan.

Hingga saat ini belum  ada vaksin untuk mencegah  infeksi virus Corona atau Covid- 19. Hal yang dapat dilakukan adalah mencegah faktor-faktor yang bisa menyebabkan infeksi  virus Corona.  Yaitu mencegah bepergian ke tempat-tempat umum dan keramaian untuk mencegah  interaksi yang terlalu dekat.  Karena kita tidak pernah tahu, apakah teman berinteraksi kita telah terpapar virus corona atau belum hingga ia menunjukkan gejala sakit yang serius.  Menggunakan masker, rajin mencuci  tangan dengan sabun, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Indonesia sendiri merespon pandemik  Corona dengan menghimbau rakyatnya untuk tetap berada di rumah, menghindari area publik, meliburkan sekolah-sekolah selama dua pekan, dan bila mungkin bekerja dari rumah saja. Harapannya adalah untuk  menekan jumlah infeksi Corona yang terjadi di Indonesia.

PKB dan Virus Corona

Ketika Pemerintah mengkampanyekan “Di rumah saja”, untuk menekan angka penyebaran infeksi  virus Corona serta melakukan social distancing (menjaga jarak) Penyuluh Keluarga Berencana yang sehari-hari bertugas di lini lapangan tetap melaksanakan tugas seperti biasa. Bertemu langsung dengan sasaran calon akseptor.  Mengapa demikian? Apakah PKB merupakan golongan orang-orang yang kebal terhadap virus corona? Tentu tidak, sebab virus tersebut menyerang tanpa pandang bulu.  Tanpa pandang jabatan dan status sosial. PKB pun bisa juga terpapar virus Corona. Lalu, apakah PKB adalah orang-orang yang pemberani dan tidak takut akan virus Corona? Sejujurnya, jawabannya adalah PKB juga takut. Namun, berusaha  untuk tetap tenang, waspada, dan berhati-hati dalam menjalankan tugas.

Bayangkan saja, hampir lebih dari 15 hari dalam sebulan, aktifitas PKB di isi dengan kegiatan posyandu  bersama tim kesehatan dari  Puskesmas. Petugas berinteraksi  secara akrab dan dekat. Melakukan penyuluhan dan konseling tatap muka secara langsung . Menggunakan masker adalah ikhtiar PKB di lapangan untuk melindungi diri terpapar virus Corona di lapangan. Penulis jadi teringat komentar salah seolah kawan ketika kami turun ke Posyandu, “ Fit, kamu ga takut kena Corona?,” Tanya penulis, “Ya, takut si mbak, tapi mau gimana lagi. Tawakal saja, ajal sudah ada yang atur, yang penting kita tetap jaga stamina dan kebersihan tubuh saja mbak,” jawab rekan perawat PKB  yang sehari-hari bersama-sama turun ke posyandu. Dalam hati saya berkata, benar juga, jika memang ajal, maka akan menemui kita dengan cara apa saja. Dan jika belum waktunya ajal menjemput, meskipun virus Corona berhasil menginfeksi, tapi pasti akan sembuh juga. Buktinya, memang ada kok, kasus orang yang sudah positif terinfeksi Covid -19 tapi berhasil sembuh. Itulah rahasia hidup dan mati. Jadi tetap tenang dan waspada.

 The PKB Must Go on

Bentuk perhatian pemerintah kepada petugas lini lapangan boleh ditunjukkan dengan memberi  PKB  peralatan tempur yang mumpuni agar keamanan PKB dalam menjalankan tugas tetap terjamin. Misalnya, PKB dibekali dengan sarung tangan dan masker serta hand sanitizer.

Solusi lain yang dapat dilakukan untuk melakukan penyuluhan adalah melakukan penyuluhan virtual melalui koneksi internet kepada para kader dan masyarakat. PKB harus mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk membantu memudahkan pekerjaannya. Melakukan penyuluhan KB melalui sosial media pun menjadi hal yang sangat mudah dilakukan.  Mengingat hampir semua kalangan masyarakat dari berbagai  jenis usia hampir dipastikan  memiliki akun sosial media. Jadi, penyuluhan tetap dapat dilakukan dari jarak jauh. Berbagai diskusi maupun konseling dapat dilakukan melalui aplikasi sosial media maupun video call.

PKB sebagai garda terdepan BKKBN di lapangan dapat pula mengambil langkah untuk merujuk pasien yang dicurigai terindikasi  terinfeksi  Virus  Corona. Semacam menjadi  PKB siaga cegah virus Corona. Semoga PKB segera dilatih khusus untuk melaksanakan tugas tersebut, dan tidak masalah jika pelatihannya dilakukan dalam bentuk e learning.

Memang, akan kurang sreg rasanya, bagi PKB yang terbiasa bertatap langsung dengan sasaran dalam melakukan penyuluhan, KIE KB maupun konseling. Begitu pula dengan berbagai macam bentuk pelatihan, rapat koordinasi terkait program bersama mitra kerja yang selama ini dilakukan secara langsung.  Namun, pandemik  virus Corona yang semakin meluas dan belum ditemukan vaksin maupun obatnya membuat kita tak punya banyak pilihan. Semoga dalam menjalankan tugas, PKB senantiasa di lindungi Sang Maha Pencipta. The PKB Must Go On. Sehingga bagaimana pun keadaannya, program Bangga Kencana akan tetap berjalan seiring dengan upaya mencegah penyebaran Virus Corona.

 

Penulis; HENNY ANDARESNI MARTIANENGTIAS

PKB PEMBINA DESA LABUHAN SUMBAWA

KECAMATAN LABUHAN BADAS

KABUPATEN SUMBAWA