MENGELOLA LIMBAH TAHU MENJADI SUMBER PENDAPATAN KELUARGA SEBAGAI WUJUD IMPLEMENTASI 8 FUNGSI KELUARGA

Oleh H.Sait Mashuri

PENDAHULUAN

Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik industry maupun domestic (rumah tangga). Limbah lebih dikenal sebagai sampah yang keberadaannya sering tidak dikehendaki dan mengganggu lingkungan karena dipandang tidak memiliki nilai ekonomis (Arief, 2016). Keberaadaan limbah merupakan permasalahan lingkungan yang cukup serius. Terdapat berbagai dampak negative yang ditimbulkan oleh limbah yang dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan manusia dan mahluk hidup lain.

Keberadaan limbah dapat menimbulkan dampak negative bagi lingkungan dan kesehatan mahluk hidup, khususnya jika limbah tersebut mengandung bahan yang berbahaya dan beracun atau dikenal dengan limbah B3. Karakteristik dari limbah jenis ini adalah mudah meledak, beracun, mudah terbakar, bersifat korosif, dan dapat menimbulkan infeksi hingga kematian. Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 dalam Riyanto (2014), limbah B3 merupakan sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dana tau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia, dan mahluk hidup lain.

Di Amerika Serikat, persoalan mengenai limbah beracun dan berbahasa telah menjadi pembahasan serius dengan adanya Undang-Undang Resource Conservation dan Reco very Act (RCRA) pada tahun 1970. Peraturan ini menugasi AS Enviromental Protection Agency (EPA) dengan memberikan perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan dari pengaturan yang tak layak atas pembuangan limbah berbahaya dengan mengeluarkan dan memberlakukan peraturan terhadap limbah-limbah semacam itu (Riyanto, 2014).

Manusia memiliki berbagai ide dan cara untuk mampu mengurangi keberadan limbah di sekitarnya. Salah satunya adalah dengan menciptakan produk olahan limbah makananan menjadi produk makanan baru yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Produk olahan makanan merupakan salah satu sumber ekonomi dan pendapatan bagi masyarakat. Pengolahan produk pangan menjadi salah satu sumber penghasilan yang mampu menunjang kebutuhan hidup bagi masyarakat, seiring dengan masuknya pangan sebagai kebutuhan pokok. Kreativitas dan keahlian dalam meramu bumbu untuk menciptakan produk yang digemari konsumen merupakan modal dasar untuk meningkatkan kulitas serta daya unggul produk olahan tersebut. Selain itu, strategi dalam pemasaran produk juga perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan jumlah konsumen.

Tahu merupakan makanan yang sangat populer di Indonesia. Tahu dikenal masyarakat Indonesia bahan makanan sehari-hari yang umumnya sangat digemari dan mempunyai daya cerna yang tinggi (Purwaningsih, 2007). Makanan ini merupakan makanan yang sederhana, murah, dan mengandung nilai gizi yang tinggi. Tahu terbuat dengan bahan dasar kedelai, yang merupakan sumber jenis palawija yang mengandung protein yang tinggi. Kedelai termasuk dalam family Leguminosa, sub family Papilionidae, genus Glycine, dam spesies Max. Kedelai (Glycine max) banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar olahan makanan. Selain tahu, kedelai juga merupakan bahan utama dalam pembuatan tempe, kecap, toucho, susu kedelai, keju kedelai, tepung dan bubuk kedelai, dan sebagainya.

Pabrik yang memproduksi tahu tersebar di banyak daerah di Indonesia, salah satunya adalah di Bilasundung. Bilasundung merupakan salah satu dusun  di Kabupaten Lombok Timur sebagai daerah produksi tahu. Pembuatan tahu menjadi pekerjaan utama sebagian besar masyarakat daerah ini selain sebagai buruh. Adapun pabrik tahu yang ada merupakan pabrik rumahan, yang dimiliki oleh perseorangan. Akan tetapi, pabrik tersebut mampu merekrut banyak tenaga pekerja, yang juga merupakan masyarakat daerah setempat. Adapun tenaga kerja tersebut tersebar sebagai para pengrajin tahu, buruh tahu, distributor, dan sebagainya. Produksi tahu ini merupakan sumber pendapatan utama sebagian besar masyarakat Bilasundung.

Hasil pembuatan tahu dalam pabrik-pabrik tahu di Bilasundung menghasilkan banyak sisa produksi atau limbah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, limbah memiliki tiga arti, (1) sisa proses produksi, (2) bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian, (3) barang rusak atau cacat dalam produksi. Berdasarkan salah satu definisi tersebut, jelaskan bahwa limbah merupakan barang sisa yang akan sangat mengganggu bagi lingkungan jika tidak dibenahi.

Sebagai sebuah limbah, keberadaan sisa produksi tahu di daerah Bilasundung sangat mengganggu lingkungan. Baik limbah cair maupun padat dari sisa produksi ini memiliki bau yang tidak sedap. Salah satu limbah tersebut adalah ampas tahu. Ampas tahu sebagai limbah padat akan mengeluarkan bau yang sangat busuk jika dibiarkan selama beberapa hari. Adapun limbah padat merupakan limbah yang memiliki banyak klasifikasi berdasarkan sumbernyan sebagai berikut :

 

No Sumber Limbah Padat Jenis Limbah yang Dihasilkan
1 Perumahan Limbah kertas, makanan, plastic, kain, kulit, kayu, gelas, logam, abu, alat elektronik, baterai, oli, ban bekas, computer, telpon genggam.
2 Industri Limbah rumah tangga industry, makanan sisa, kemasan, abu, limbah berbahaya
3 Kawasan Perdagangan Sterofoam, plastic, kertas, makanan, kayu, logam, gelas, limbah elektronik.
4 Perkantoran Serupa dengan limbah kawasan komersial
5 Industri Proses Slag, tailing
6 Konstruksi Lantai keramik, beton, bahja, kayu
7 Rumah Sakit Limbah infeksius, bahan kimia dari limbah laboratorium, limbah farmasi
8 Pertanian Pestisida, jerami, batang, daun
9 Garbage (Sampah basah) Limbah padat pada kondisi basah dan temperature ruang 20-30oC dengan kandungan bahan organic yang mudah membusuk dan mudah terurai karena mikroorganisme (biodegradable). Contoh: makanan sisa, sayuran
10 Rubbish (Sampah Kering) Limbah padat dengan kandungan bahan organic dan anorganik yang tidak mudah membusuk dan mengurai oleh mikroorganisme (non biodegradable). Contoh: kertas, plastic, kaleng, seng, aluminium, selulose, pecahan kaca
11 Dust and Ash (Debu dan Abu) Timbunan limbah hasil pembakaran tidak sempurna bahan padat dan biasanya berukuran kecil sehingga mudah terbang
12 Dead Animal Limbah padat akibat matinya hewan yang mudah membusuk dengan bau amat menyengat
13 Street Sweeping Limbah padat yang bertebaran di jalanan. Contoh: kertas, plastic, daun, bungkus makanan
14 Industrial Waste Limbah padat dari aktivitas industry
15 Bulky Waste Limbah padat bersumber dari bahan bekas. Contoh: alat elektronik
16 Hazardous Wate Limbah padat dengan kategori berbahaya yang umumnya dinamakan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Contoh: limbah rumah sakit dan laboratorium.

Sumber: Teknik Pengolahan Limbah Padat (2017)

 

Berdasarkan table di atas, ampas tahu merupakan limbah yang bersumber dari industry makanan. Karena keberadaan ampas tahu yang merugikan bagi lingkungan, masyarakat Bilasundung kemudian memanfaatkan limbah tersebut. Ampas tahu ini digunakan oleh masyarakat setempat diantaranya untuk dijadikan bahan makanan ternak, dijual kembali, dan diolah menjadi bahan olahan lainnya, yakni Keripik Pringsang. Produksi keripik ini menjadi jenis pekerjaan sampingan bagi masyarakat setempat khususnya para ibu ruma tangga. Umumnya, pembuatan olahan ampas tahu ini dilakukan oleh para perempuan untuk mendukung perekonomian keluarga. Keripik Pringsang ini kemudian di distribusikan dan dijual di masyarakat.

Akan tetapi, permasalahan lain yang terjadi dalam produk olahan ampas tahu tersebut; Keripik Pringsang; adalah kurangnya varian keripik sehingga terkesan memiliki rasa yang monoton dan membosankan. Oleh karena itu, diperlukan adanya kreasi baru pada varian rasa keripik yang dapat mengembangkan produk keripik menjadi produk yang lebih beragam dan akan lebih digemari oleh masyarakat. serta distribusi produk yang sempit. Oleh karena itu, diperluhan adanya pembaharuan pada produksi dan distriusi keripik agar dapat meningkatkan kualitas, nilai jual, dan eksistensi produk.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi (Anggito & Setiawan, 2018). Metode penelitian didefinisikan sebagai suatu kegiatan ilmiah yang terencana, terstruktur, sistematis, dan memiliki tujuan tertentu baik praktis maupun teoritis (Raco, 2010).

Metode penelitian kualitatif ini menjadi sistem dan sarana untuk menguraikan permasalahan dan pembahasan dalam penelitian ini. Adapun langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah menggunakan observasi, praktik, dan studi pustaka. Penelitian ini dilakukan selama bulan Juli-Desember 2019. Lokasi yang dipilih peneliti adalah di daerah Bilasundung, tepatnya di Gubuk Lekok, Bilasundung, Desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Observasi atau pengamatan dilakukan dengan mengamati proses-proses produksi keripik Pringsang di daerah Bilasundung. Kemudian, peneliti juga melakukan eksplorasi langsung terhadap keripik, dan melakukan uji coba dalam pembuatan keripik dengan inovasi baru sesuai dengan tujuan penelitian.

Interview atau wawancara dilakukan dengan mengobrol seputar bahan penelitian dengan para pengrajin tahu dan ampas tahu yang ada di Bilasundung. Langkah ini akan memberikan porsi yang besar sebagai sumber penelitian dan penulisan.

Studi pustaka yang dilakukan dalam penelitian ini sebagai penunjang bahan literatur. Penelusuran bahan pustaka dilakukan dengan mencari sumber dan kegunaan bahan, kandungan gizi, dan data lain yang memiliki kaitan dengan penulisan bahan penelitian.

PEMBAHASAN

Ampas Tahu dan Olahannya

Tahu merupakan bahan makanan yang digemari banyak orang. Tahu merupakan makanan yang berasal dari Cina.  Adapun industri tahu di Indonesia mulai berkembang kemungkinan sejak kaum imigran Cina menetap dan bermukin di tanah air. Usaha ini dikembangkan sebagai mata pencaharian dan tumpuan hidup (Sarwono & Saragih, 2001).

Sebagai bahan makanan yang mengandung kadar air yang tinggi, tahu dikenal terdiri ats dua jenis, tergantung tingkat kadar airnya. Tahu yang mengandung kadar air yang tinggi, umumnya bersifat lembek dan mudah rusak. Tahu jenis ini contohnya adalah tahu gembur. Adapun tahu yang mengandung kadar air rendah, dimana kadar air yang terperangkap dalam protein dalam tahu yang kemudian keluar dalam jumlah besar, akan memiliki tekrtur yang padat, agak keras, dan sukar rusak. Contoh tahu jenis ini adalah tahu Kediri.

Dalam setiap proses produksi suatu produk tentunya akan menghasilkan dua hal, yakni hasil produk dan sisa produk. Dalam proses pembuatan tahu, produk yang dihasilkan adalah tahu, dan produk sisanya akan berupa limbah tahu. Limbah tahu terbagi atas dua jenis, yakni limbah padat dan limbah cair (Suprapti, 2005). Limbah padat tahu (ampas tahu) biasaya diolah dan dimanfaatkan masyarakat untuk membuat oncom, tempe gembus, pakan ternak, kerupuk, dan sebagainya. Sedangkan limbah cair (whey) biasanya dimanfaatkan masyarakat unutk membuat nata de soya (kolang kaling sintesis), cuka manis (vinegar), minuman penggemuk ternak, pupuk tanaman, dan sebagainya.

Ampas tahu merupakan hasil sisa perasan bubur kedelai yang memiliki sifat cepat basi dan berbau tidak sedap jika tidak ditangani secara cepat (Sarwono & Saragih, 2001). Walaupun sebagai hasil sisa produksi, ampas tahu juga memiliki kandungan gizi yang baik. Berikut adalah tabel nilai gizi yang terdapat dalam tahu dan ampas tahu.

 

Kandungan Gizi Kadar/ 100 g Bahan
Kedelai Basah Tahu Ampas Tahu
Energi (kal) 382 79 393
Air (g) 20 84.8 4.9
Protein (g) 30.2 7.8 17.4
Lemak (g) 15.6 4.6 5.9
Karbohidrat (g) 30.1 1.6 67.5
Mineral (g) 4.1 1.2 4.3
Kalsium (mg) 196 124 19
Fosfor (mg) 506 63 29
Zat Besi (mg) 6.9 0.8 4
Vitamin A (mg) 29 0 0
Vitamin B (mg) 0.93 0.06 0.2

Sumber: Daftar Analisis Bahan Makanan, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta 1992 dalam Teknologi Pengolahan Pangan Pembuatan Tahu (2005).

 

Kandungan gizi yang dimiliki ampas tahu tergolong bagus. Energy yang dimiliki ampas tahu ternyata lebih tinggi dibanding dengan tahu biasa. Begitu juga dengn protein, karbohidrat, mineral, dan kandungan gizi lainnya. Hal ini menjadi salah satu faktor pndukung bahwa pengolahan limbah ampas tahu menjadi produk pangan lain akan tepat untuk diterapkan.

Ampas tahu telah banyak diolah menjadi produk makanan baru di berbagai dunia. Di Jepang, olahan ampas tahu menciptkan produk makanan baru yang dinamakan Okara. Okara merupakan hidangan tradisional Jepang, Korea, dan Tionghoa sejak abat ke 20. Dalam bahasa Tionghoa, hidangan ini dinamakan doufuza, sedangkan dalam bahasa korea dikenal dengan nama kongbiji. Biasanya, okara dihidangkan bersamaan dengan vegetables such ac carrots, burdock, mirin (anggur beras Jepang), jamur shiitake, negi (bawang hijau), shoyu (kecap), dan terkadang konyyaku (ubi gajah) (Kazemi, 2016).

Di Indonesia, salah satu pengolahan ampas tahu yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah kerupuk ampas tahu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (daring), kerupuk adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan, setelah dikukus, disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak jemur agar mudah digoreng. Pengolahan ampas tahu menjadi kerupuk sudah banyak dilakukan dan dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia. Pembuatan kerupuk dari ampas tahu tersebut membutuhkan bahan pencampur lain. Bahan pencampur yang digunakan adalah tepung tapioca sebagai pengikat ampas. Bumbu yang digunakan adalah soda kue, pemutih makanan, garam, penyedap kaldu, monosodium glutamate, bawah putih, dan ketumbar (Muharman, 2014).

 

Keripik Pringsang Bilasundung

Bilasundung merupakan salah satu dusun kecil yang terletak di desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Mayarakat di daerah ini sebagian besar merupakan masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Adapun profesi masyarakat cukup beragam, diantaranya petani, buruh, pengrajin, dan pegawai pemerintahan. Akan tetapi, sebagian masyarakatnya banyak yang menjadi pengrajin tahu dengan membuka pabrik olahan tahu berbasih pabrik rumahan.

Produk olahan ampas tahu yang ada di Bilasundung berbeda dengan pengolahan yang lainnya. Produk yang diciptakan dari ampas tahu adalah berupa keripik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (daring), keripik adalah panganan yang dibuat dari kentang, ubi kayu, dan sebagainya yang diiris tipis-tipis dan kemudian digoreng. Oleh masyarakat Bilasundung, keripik yang dibuat dari olahan ampas tahu tersebut dinamakan dengan “Pringsang”. Keripik Pringsang ini diproduksi dengan bahan yang lebih sederhana dan waktu yang lebih singkat. Jika dalam proses olahan ampas tahu menjadi kerupuk membutuhkan waktu berhari-hari hingga mencapai waktu mingguan, maka keripik olehan dari ampas tahu ini membutuhkan waktu hanya satu hingga dua hari saja, bergantung pada keadaan cuaca panas harian. Adapun bahan yang dibutuhkan juga lebih sederhana, yakni ampas tahu, dan beberapa bumbu perasa.

Dari segi bentuk dan tekstur, antara kerupuk dan keripik tentunya memiliki bentuk yang berbeda. Kerupuk umumnya memiliki bentuk bundar, kecil, lebih berisi, dan bertekstur padat rapuh; seolah seperti spons padat. Adapun keripik umumnya tipis, tidak berisi, dan bertekstur padat keras. Sementara itu, keripik Pringsang olahan ampas tahu dari Bilasundung memiliki bentuk yang unik. Bentuk yang diciptakan tidak seperti bentuk keripik pada umumnya, yakni kecil dan bundar. Bentuk keripik Pringsang ini adalah besar, memanjang, dan tidak beraturan. Hal ini menjadi ciri khas tersendiri dari keripik Pringsang dari salah satu daerah di pulau Lombok ini.

Proses pembuatan keripik Pringsang cukup sederhana. Bahan yang digunakan adalah ampas tahu yang baru selesai diperas dan nasi akik. Adapun bumbu perasa yang digunakan hanya garam dan sedikit MSG. Langkah pembuatan keripik ini adalah sebagai berikut.

Pertama, ampas tahu dicampurkan dengan nasi akik. Ampas tahu dan nasi akik merupakan dua buah bahan sisa. Kedua bahan ini dicampurkan sebagai bahan utama pembuatan keripik Pringsang. Penambahan nasi akik bertujuan untuk menambah rasa dan memperkuat bentuk keripik.

Kedua,tambahkan bumbu-bumbu perasa secukupnya. Bumbu yang digunakan adalah bumbu sederhana yang mudah didapatkan. Penggunaan bumbu ini disesuaikan dengan kondisi perekonomian masyarakat dan kondisi social masyarakat pedesaan. Masyarakat pedesaan gemar menggunakan bumbu-bumbu alami dan tradisional. Kondisi tersebut juaga bertujuan untuk menjaga cita rasa tradisional dan alami dari makanan yang dibuat.

Untuk mendapatkan rasa yang lebih renyah, pengrajin keripik ini juga terkadang menggunakan bumbu dari merica dan ketumbar. Kedua bahan ini dihaluskan dan dicampurkan dengan garam dan sedikit MSG. Campuran bumbu tersebutlah yang kemudian menjadi perasa lain untuk keripik Pringsang yang diproduksi oleh masyarakat Bilasundung.

Ketiga, ampas tahu yang telah dibumbui kemudian di cetak tipis-tipis agar mudah digoreng. Pencetakan tersebut dilakukan tanpa mesin, yakni mencetak langsung menggunakan tangan dengan bantuan selembar plastic kecil. Ampas tahu dibentuk kecil-kecil dan di cetak diatas selembar plastic tersebut.

Keempat, cetakan kecil-kecil ampas tahu tersebut kemudian diletakkan dan dijajar rapi di atas kelabang. Kelabang merupakan wadah penjemuran yang terbuat dari irisan bambu tipis yang dianyam. Setelah itu, ampas tahu tersebut kemudian dijemur hingga kering.

Kelima, cetakan ampas tahu yang sudah kering kemudian digoreng dengan minyak yang sudah dipanaskan. Setelah matang, keripik Pringsang tersebut dibungkus dan siap dijual.

 

Proses pembuatan pringsang

 

 

 

 

 

 

 

Proses pengemasan.

Adapun proses pemasaran produk keripik Pringsang ini adalah dengan mendistribusikannya di warung-warung terdekat, atau diedarkan dan dijual di pasar-pasar tradisional. Harga jual satu bungkus keripik Pringsang adalah Rp. 1000 per bungkus. Harga tersebut sangat murah dan terjangkau untuk berbagai kalangan, khususnya untuk kalangan menengah ke bawah. Keripik Pringsang ini biasanya dikonsumsi sebagai cemilan, atau sebagai bahan pelengkap makanan masyarakat sekitar.

Kripik Pringsang Sumber Pendapatan Keluarga

            Bilasundung merupakan salah satu kekadusan yang ada di desa Paokmotong kecamatan Masbagik Lombok Timur dari sepuluh kekadusan yang ada. Jumlah KK desa Paokmotong berdasarkan pemutakhiran data tahun 2017 sebanyak 4.027 KK yang terdiri dari KK perempuan sebanyak 200 dan KK laki-laki sebanyak 3.827 KK (Sumber data UPTD. KB Kec. Masbagik).

Jumlah KK dusun Bilasundung Utara sebanyak 487 KK, terdiri KK perempuan sebanyak 25 orang dan KK laki-laki sebanyak 482 orang. Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor informal berupa industry rumahan seperti pembuatan tahu, roti, pengrajin pringsang buruh dan sebagainya.

Pengolahan limbah tahu menjadi jajanan yang bernilai ekonomi merupakan wujud dari pelaksanann 8 fungsi kelurga terutama fungsi ekonomi dan lingkungan. Keripik pringsan yang berbahan dasat dari limbah tahu menjadi jajanan yang bernilai ekonomi sekaligus juga meningkatkan pendapatan keluarga dan menjaga lingkungan dari limbah yang merusak.

Gubuk Lekok (RT.1) sebagai central pengrajin pringsan merupakan salah satu tempat di Bilasundung Utara Desa Paokmotong dengan jumlah KK sebanyak 60 KK Sebanyak 13 KK memanfaat limbah tahu  untuk diolah menjadi jajanan yang bernilai ekonomi sebagai sumber pedapatan keluarga. Rata- rata penghasilan keluarga dari pringsang ini lebih dari satu juta tiap bulannya. Adapun keluarga yang mengolah limbah tahu menjadi kripik pringsang menjadi sumber pendapatan  di gubuk Lekok secara rinci  adalah sebagai berikut :

 

Data Keluarga Pengrajin Pringsang

.

NO

 

NAMA

PENGRAJIN

TAHAPAN

KS

STATUS

PERKAWINAN

ALKON

YG DIPAKAI

PENGHASILAN

PERMINGGU

(Rp)

PENGHASILAN PER BULAN

(Rp)

KET
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

12

12

13

Yuliani

Rizkiawati

Nurul Hikmah

Hasriwati

Yanti

Salmah

Huliyah

Nur Asiah

Bq.Sulastri

Bq. Candra

Rina Hanani

Rasiah

IQ. Sodah

I

I

I

Pra KS

I

I

I

I

I

II

I

Pra KS

Pra KS

Janda

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Kawin

Janda

S

Imp

S

IUD

S

S

S

S

PIL

PIL

PIL

 

700.000

300.000

500.000

300.000

350.000

300.000

400.000

300.000

400.000

400.000

400.000

250.000

300.000

 

2.800.000

1.200.000

2.000.000

1.200.000

1.400.000

1.200.000

1.600.000

1.200.000

1.600.000

1.600.000

1.600.000

1.000.000

1.200.000

 

Dari data tersebut di atas menjelaskan bahwa penghasilan rata-rata dari penghasilan ibu-ibu dari kripik pringsang setiap bulannya yaitu :

  1. Yuliani seorang janda mendapat penghasilan Rp. 700.000 perminggu atau Rp.2.800.000 perbulan;
  2. Rizkiwati keluarga KS I, Hasniwati, Salmah, Nur Asiah, dan IQ. Sodah keluarga pra sejahtera, masing-masing mendapat penghasilan Rp. 300.000 perminggu atau Rp. 1.200.000 perbulan.
  3. Nurul Hikmah, keluarga KS I mendapat penghasilan Rp. 500.000 perminggu atau RP.2.000.000 perbulan.
  4. Yanti, keluarga KS I mendapat penghasilan Rp.350.000 perminggu atau 1.400.000 perbulan.
  5. Huliyah, Bq> Sulastri, Bq.Candra dan Rina Hanani mendapat penghasilan Rp.400.000 perminggu atau Rp.1.600.000 perbulan.
  6. Rasih, keluarga Pra KS mendapat penghasilan Rp.250.000 perminggu atau Rp.1.000.000 perbulsn.

Jika dirata-ratakan jumlah penghasilan ibu-ibu perminggunya dari mengolah limbah tahu menjadi keripik pringsang adalah Rp.353.000 perminggu atau Rp.1.415.000 perbulan.

Pengolahan limbah tahu menjadi keripik pringsang sangat berdampak pada peningkatan pendapatan sebagian keluarga di Bilasundung terutama keluarga pra sejahtera dan sejahtera satu di samping menjaga lingkungan keluarga dari bahaya limbah.

 

PENUTUP

Keripik Pringsang merupakan salah bentuk kreatif yang dilakukan oleh masyarakat Bilasundung terutama ibu-ibu rumah tangga untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh limbah ampas tahu sehingga menjadi sumber pendapatan keluarga yang bernilai ekonomis di samping menjaga kebersihan lingkungan keluarga. Keripik ini diproduksi oleh masyarakat sekitar sebagai sumber pendapatan dan pendapatan sampigan dilakukan oleh para wanita yang berstatus sebagai ibu rumah tangga. Dengan sedikit pembaharuan, keripik ini dapat divariasikan dengan menambahkan beberapa rasa dari bumbu khas local daerah untuk menambah cita rasa produk. Selain itu, strategi pemasaran juga dapat disesuaikan dengan perkembangan revolusi industry 4.0 saat ini, yakni dengan memanfaatkan teknologi yang ada. System penjualan online melalui platform media social akan sangat efektif siterapkan untuk memperluas jangkauan pemasaran produk keripik Pringsang. Nantinya, diharapkan, produk olahan ini akan dapat diterapkan di berbagai daerah sebagai salah satu solusi bagi olahan limbah ampas tahu dan sebagai sarana inovasi usaha baru bagi masyarakat.

 

 

*Penulis Makalah adalah

PKB Lombok Timur

 

                                                                                                Lombok Timur, 31 Maret 2020

                                                                                                                                                                             ttd

              Sait Mashuri

 

 

 

 

 

Referensi kepustakaan

Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Sukabumi: CV Jejak.

Astawan, Made. (2008). Sehat dengan Hidangan Kacang dan Biji-Bijian.Jakarta Timur: Penebar Swadaya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Daring)

Muharman, H. (2014). A to Z Sukses Bisnis Rumahan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Purwaningsih, E. (2007). Cara Pembuatan Tahu dan Manfaat Kedelai. Bekasi: Ganeca Exact.

Raco, J. (2010). Metode Penelitian Kualitatif, Jenis, Karakter dan Keunggulannya. Jakarta: PT Grasindo.

Sarwono, B., & Saragih, Y. P. (2001). Membuat Aneka Tahu. Jakarta: Penebar Swadaya.

Suprapti, L. (2005). Teknologi Pengolahan Pangan Pembuatan Tahu. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

UPTD KB. Kec. Masbagik (2017), Pemutakhiran data Keluarga 2017