Pembangunan Keluarga dalam masa #stayAtHome

Kutipan di atas mungkin berlebihan, karena tidak ada yang bisa dicapai dengan rebahan (baca:bermalas-malasan). Tapi ada baiknya kita melihat sisi positif di tengah musibah yang menimpa kita saat ini. Sebagaimana kita sadari, usaha menghadapi pandemi telah membawa perubahan yang banyak terhadap sisi dari kehidupan sehari-hari kita. Salah satunya dengan munculnya pola hidup yang sering diwakili dengan hashtag #stayAtHome atau #diRumahAja. Bersama dengan himbauan ini banyak kebijakan yang mengikutinya. Sekolah diliburkan, sosialisasi dan  ruang gerak menjadi terbatas, banyak pekerja kantoran yang mengalihkan pekerjaannya ke rumah masing masing. Imbasnya pasti ada. Kegiatan belajar anak terganggu, produktifitas menurun, interaksi sosial berkurang dan masih banyak lagi yang lainnya. Jika kita tidak menghadirkan pikiran-pikiran positif, bisa jadi kita akan menyerah dan tenggelam terbawa arus negatif ini. Oleh karena itu, melalui tulisan ini coba diangkat beberapa sisi baik yang muncul bersama pola hidup baru ini.

Dengan tetap #diRumahAja, orang-orang menjadi memiliki waktu luang yang lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarganya. Jika pada kondisi normal, siang hari adalah waktu bersekolah, bekerja dan kesibukan lain di luar rumah, maka pada saat ini anak-anak, ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya dibuat untuk menghabiskan waktunya di rumah. Dari sini muncul tantangan bagi keluarga-keluarga yang mengikuti kebijakan #diRumahAja. Sebagai contoh bermunculan kisah orang tua yang mengeluh dan kewalahan terhadap anak-anak mereka yang libur dari kegiatan persekolahan. Penyebabnya bukan semata-mata karena ketidakmampuan mereka untuk menjadi orang tua yang baik, tapi ada juga pengaruh faktor lain misalnya sulitnya mengatur antara waktu bersama anak dan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Tantangan-tantangan ini tentunya ada banyak dan beragam sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga.

Kembali kepada pembahasan, #diRumahAja adalah peluang langka bagi sebagian kita untuk mewujudkan istilah Home Sweet Home a.k.a Baitii Jannatii. Jadi hendaknya cara pandang kita dirubah. Jangan melihat kondisi ini sebatas masalah yang menyulitkan. Mari kita lihat peluang yang bisa diraih dari keadaan ini

Penerapan 8 Fungsi Keluarga

Fungsi Keluarga yang sering dikampanyekan BKKBN adalah bentuk pastisipasi masing-masing anggota keluarga dalam mewujudkan keluarga yang sejahtera. Adalah penting bagi seorang ayah menyeimbangkan perannya sebagai pencari nafkah, sebagai teladan dan sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Seorang ibu harus mampu menyeimbangkan bagaimana menemp[atkan dirinya sebagai perawat, pendidik dan pengasuh. Begitu pula dengan anggota keluarga lainnya. Jika semua anggota keluarga mengambil peran sesuai dengan fungsinya masing-masing dan tahu bagaimana menempatkan diri sesuai dengan fungsinya dalam keluarga, maka keharmonisan pada keluarga akan lebih mudah terbangun. Dalam kenyataannya, sebagian kita mungkin tidak akan mendapati peluang yang lebih baik untuk memaksimalkan fungsi keluarga selain pada kondisi seperti ini.

Kemandirian Keluarga

Keluarga yang mandiri memiliki beberapa aspek dalam penerapannya. Secara perekonomian, pendidikan dan beberapa waktu belakangan ini sering muncul istilah sustainable family yang mencoba membangun konsep keluarga yang bisa mandiri pada berbagai aspek kehidupan keluarga. Kajian kemandirian keluarga sebetulnya bukan ditujukan untuk menanggulangi ‘keterisolasian’, karena model-model kemandirian dalam keluarga selalu menempatkan keluarga sebagai unit kecil yang merupakan bagian dari masyarakat/komunitas yang lebih besar. Akan tetapi ada beberapa model kemandirian yang tepat untuk diadaptasi pada masa #diRumahAja.

Dari segi pendidikan ada model pembelajaran homeschooling. Sederhananya homeschooling berarti belajar/bersekolah di rumah. Selama masa  #diRumahAja, orang tua dapat mengambil kembali tanggung jawab pendidikan anak-anaknya yang selama ini kebanyakan diserahkan kepada pihak sekolah. Tanggung jawab ini meliputi fasilitasi pembelajaran dan pemantauan perkembangan. Hal ini adalah peluang besar untuk memaksimalkan pembangunan keluarga dari sisi pendidikan. Rumah bisa dijadikan sebagai tempat mendidik yang lebih holistic/menyeluruh. Karena tidak hanya ilmu yang bersifat formal akademik, tapi juga nilai-nilai moral dan keagamaan bisa ditanamkan lebih mudah. Tentunya sekali lagi ini adalah tantangan besar yang harus dijawab oleh orang tua. Mampukah kita mengenali karakteristik anak, menemukan metode pembelajaran efektif dan sesuai.

Dari segi ekonomi, kemandirian keluarga berkaitan dengan bagaimana memanfaatkan minat dan hobi menjadi suatu kegiatan yang produktif dengan melibatkan anggota keluarga. Jadi #diRumahAja, bukan untuk rebahan tapi sebaliknya dimanfaatkan untuk sesuatu yang menghasilkan. Banyak hobi-hobi yang bisa menjadi mata pencaharian misalnya kerajinan, menulis, design grafis dan lain-lain. Selain itu kemandirian ekonomi juga tidak tertbatas kepada usaha rumahan. Banyak contoh keluarga yang mewujudkan kemadirian ekonominya dengan hal lain. Misalnya dengan kegiatan Agrikultur (membuat kebun sayur atau beternak) adalah bagian dari usaha mewujudkan kemadirian dengan target non-market karena ditujukan untuk konsumsi pribadi.

Uraian-uraian diatas memang hanya membahas konteks terbatas dan mungkin tidak berlaku untuk semua orang. Tapi semoga ini bisa menjadi gambaran bahwa #diRumahAja sebetulnya adalah peluang. Peluang untuk membangun keluarga yang berfungsi secara maksimal. Peluang untuk menjadi Pahlawan, meskipun hanya pahlawan rumahan local dan hanya #diRumahAja.

 

Ahmad Nurhalim