MENYIKAPI DATA PENDUDUK YANG BERBEDA

Oleh : Ir. Saiful Anugrahadi, PKB Madya Lombok Timur

Pada awalnya, mimpi memiliki data penduduk yang akurat, valid dan real by name by address sudah tampak di depan mata. Sensus Penduduk 2020 (SP 2020) yang akan dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pendataan Keluarga 2020 (PK 2020) yang akan dilaksanakan oleh BKKBN menjadi tumpuan harapan akan hadirnya data yang dapat dipercaya. Namun wabah Pandemic Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) membuyarkan mimpi tersebut. Sensus Penduduk 2020 yang seharusnya mulai dilaksanakan pada bulan Mei 2020, harus ditunda sampai bulan September 2020 (itupun dengan catatan bila pandemic Covid-19 sudah berakhir). Sedangkan Pendataan Keluarga, yang semestinya sudah dimulai pada bulan Juni 2020, harus ditunda pelaksanaannya sampai tahun 2021, dengan waktu yang belum di tentukan.

Mengapa data penduduk yang akurat, valid dan real by name by address sangat dibutuhkan? Pada konsep pembangunan yang menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan, posisi penduduk tidak lagi hanya sebagai obyek melainkan juga menjadi subyek pembangunan. Berkenaan dengan itu, sudah seharusnya setiap perencanaan pembangunan di sektor mana pun, harus selalu berbasiskan data penduduk. Permasalahan yang muncul adalah data penduduk yang tersedia dan dijadikan acuan untuk perencanaan adakalanya berbeda-beda yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan, data penduduk mana yang sebaiknya digunakan?

Adanya perbedaan data, penulis sendiri melihatnya sebagai hal yang sangat wajar, karena sangat sulit untuk membuat suatu publikasi data penduduk yang akurat, berkenaan dengan sifatnya yang dinamis. Misalkan pada hari tertentu kita melakukan pendataan, belum juga data diterbitkan, mungkin beberapa jam kemudian data tersebut sudah berubah karena adanya proses kelahiran atau kematian maupun migrasi. Apalagi jika data penduduk tersebut hasil estimasi atau proyeksi.

Walaupun perbedaan tersebut adalah wajar, tentunya sangat  tidak elok jika dalam membuat suatu perencanaan, setiap sektor pada wilayah administrasi yang sama menggunakan data yang berbeda-beda, apalagi jika masing-masing sektor merasa datanya lah yang paling benar. Dalam menyikapi perbedaan tersebut, yang perlu dilakukan adalah menyamakan persepsi sektoral terhadap data penduduk yang tersedia.

SUMBER DATA PENDUDUK

Di Indonesia, ada tiga sumber data penduduk yang sering digunakan sebagai acuan, yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Ketiga sumber data tersebut adalah sensus, survey dan registrasi.

  1. Sensus.

Di Indonesia saat ini, data penduduk yang dapat disebut paling mendekati kondisi sebenarnya hanyalah data penduduk hasil sensus. Mengapa demikian?, karena pada waktu yang bersamaan dilakukan pendataan di seluruh wilayah terhadap seluruh populasi. Dalam istilah statistika angkanya disebut paramater, bukan lagi statistik.Terhadap parameter tidak perlu dilakukan uji statistik karena dianggap sudah merepresentasikan seluruh populasi.

Kekurangan sensus, data penduduk baru bisa diterbitkan dalam waktu yang relatif lama, sehubungan dengan banyaknya data yang harus diolah. Peran data seperti ini tentu saja bukan untuk dijadikan sebagai dasar perencaan sektoral, karena data yang diperlukan dalam perencanaan adalah kondisi-kondisi penduduk di tahun-tahun mendatang. Namun jika ketersediaan data sensus dijadikan sebagai basis untuk melakukan estimasi atau proyeksi, akan lebih baik dibandingkan dengan data penduduk yang berasal dari sumber lain seperti hasil survey dan registrasi.

 

Pelaksanaan sensus penduduk oleh BPS di Indonesia hanya dilakukan sepuluh tahun sekali, pada tahun yang berakhiran angka nol. Mengatasi masalah waktu tersebut, dilakukan survey setiap tahun berakhiran angka lima, yang dikenal dengan istilah Supas atau Survey Penduduk Antar Sensus. Sama halnya dengan hasil sensus, data penduduk hasil survey pun baru diterbitkan beberapa waktu kemudian, walaupun waktu penerbitan biasanya lebih cepat dibandingkan dengan sensus.

Survey berkaitan dengan proses sampling. Sampling sendiri dalam wacana statistika didasarkan pada kaidah-kaidah probabilitas atau kemungkinan-kemungkinan. Pendataan tidak dilakukan terhadap seluruh populasi, sehingga datanya tidak bisa disebut sebagai parameter, tetapi disebut sebagai data statistik. Dalam ranah statistika inferensial, hasil survey masih perlu diuji untuk menentukan interval kepercayaannya.

  1. Registrasi.

Data penduduk yang lebih aktual bisa diperoleh dari hasil registrasi, karena dalam konsep registrasi palaporan kelahiran, kematian, dan migrasi penduduk dilakukan secara rutin dan kontinyu, sehingga data bisa ter-update setiap saat. Data registrasi inilah yang sebetulnya menjadi harapan sebagai basis data terbaik untuk melakukan estimasi dan proyeksi penduduk, karena datanya lebih aktual. Namun sayangnya, pelaksanaan registrasi di Indonesia pada umumnya masih belum berjalan dengan baik.

ESTIMASI DAN PROYEKSI

Telah diuraikan sebelumnya, paling tidak ada tiga sumber data penduduk, yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Namun dalam konteks perencanaan pembangunan berbasiskan data penduduk pada masa yang akan datang, data tersebut hanya dapat dijadikan acuan sebagai basis untuk memperkirakan data penduduk tahun-tahun mendatang, melalui teknik estimasi maupun proyeksi.

Istilah estimasi penulis gunakan untuk teknik perhitungan yang biasa dipakai untuk memperkirakan total penduduk, sementara istilah proyeksi untuk teknik perhitungan yang dapat memperkirakan jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur. Ada beberapa teknik estimasi yang bisa dipakai, secara garis besar dibedakan menjadi intercencal dan postcencal.

Pada teknik estimasi penduduk kelompok postcencal, tersedia beberapa pendekatan yang biasa dipakai, antara lain pendekatan aritmatik dan geometrik yang didasarkan pada asumsi pola pertumbuhan penduduk linier, dan pendekatan eksponensial dengan memakai asumsi pertumbuhan penduduk non-linier. Adanya perbedaan asumsi yang dipakai sebagai dasar estimasi tentu saja akan menghasilkan data penduduk yang berbeda pula, walau mungkin perbedaannya tidak terlalu besar. Bahkan dengan memakai data dasar yang sama pun, teknik estimasi yang berbeda akan menghasilkan angka berbeda pula.

Pada teknik estimasi hanya melibatkan sebuah variabel, yaitu total penduduk, perbedaan lebih disebabkan adanya pendekatan tren teorItis yang masuk dalam formulasi matematis. Pada teknik proyeksi, variabel yang terlibat tidak hanya data total penduduk, juga variabel lain yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi.

Persoalan yang bisa menimbulkan perbedaan hasil proyeksi lebih kompleks lagi. Data fertilitas misalnya, pada umumnya didapat melalui perhitungan metode tidak langsung seperti metode own children atau yang lainnya. Demikian pula data mortalitas, seperti IMR atau harapan hidup, diperoleh dari hasil perhitungan tidak langsung. Apalagi jika sudah menyangkut data migrasi.

Selain persoalan data dasar penduduk, pada teknik proyeksi, variabel fertilitas, mortalitas, dan migrasi harus diprediksi kemungkinan perkembangannya pada tahun-tahun yang akan datang. Bagaimana misalnya prediksi terhadap fertilitas, apakah akan meningkat, konstan, atau menurun. Hal ini tentu saja akan sangat terkait, bagaimana rencana intervensi alat kontrasepsi (alkon), bagaimana perkembangan kesehatan ibu, bagaimana kemungkinan kondisi ekonomi yang bisa memperkuat pembelian alkon secara mandiri, dan yang lainnya.

Kecermatan dalam memprediksi perkembangan kondisi yang akan berpengaruh terhadap fertilitas, mortalitas, dan migrasi akan sangat terkait erat dengan kecermatan hasil proyeksi. Sehingga dalam membuat proyeksi, tidak semata-mata pertimbangan faktor-faktor demografi formal atau angka-angka, tetapi perlu mempertimbangkan masukan dari berbagai sektor terkait.

 

MEMAHAMI DAN MENYIKAPI PERBEDAAN

Berdasarkan uraian di atas, cukup tergambar adanya perbedaan data penduduk bisa berasal dari perbedaan sumber data serta metode yang dipakai untuk melakukan estimasi maupun proyeksi penduduk. Bahkan ketika data dasar yang dipakai untuk estimasi penduduk sama, tetapi metode yang dipakai berbeda bisa menghasilkan hasil estimasi yang berbeda pula.

Lebih-lebih dalam teknik proyeksi, misalnya metode yang dipakai sama, data dasar penduduk sama, juga variabel fertilitas, mortalitas, dan migrasi yang dijadikan dasar perhitungan sama, namun hanya karena ada perbedaan pemakaian asumsi untuk memprediksi kondisi fertilitas di masa datang, juga akan menghasilkan data penduduk yang berlainan. Apalagi jika perbedaan terjadi tidak hanya tentang asumsi perkembangan fertilitas, namun juga tentang asumsi mortalitas dan migrasi, maka perbedaan data akan lebih bervariasi lagi.

Dalam kaitan dengan perencanaan pembangunan, secara singkat bisa dijelaskan, bahwa adanya perbedaan data penduduk harus dipahami sebagai adanya perbedaan dalam sumber data, perbedaan metode yang dipakai, dan asumsi-asumsi yang diterapkan dalam melakukan proyeksi. Jelas menjadi tidak relevan lagi, ketika ada yang mengklaim bahwa data penduduknya lah yang paling akurat, tanpa memberi penjelasan mengenai sumber data, metode, dan asumsi yang dipakai.

Penting untuk disikapi bahwa ketersediaan data penduduk yang akan dijadikan acuan untuk membuat perencanaan di berbagai sektor dalam wilayah yang sama harus didasarkan pada data penduduk yang disepakati bersama. Cara yang dapat dilakukan, proyeksi penduduk untuk keperluan perencanaan pembangunan, dalam prosesnya tidak semata-mata menjadi pekerjaan orang demografi, tapi harus mempertimbangkan masukan dari berbagai sektor terkait yang kelak akan menjadi pengguna data penduduk tersebut. Bravo…data Indonesia. (Dari berbagai sumber).