MERENCANAKAN KELUARGA DAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI TENGAH PANDEMI COVID 19

Oleh : H. SAIT MASHURI 

P e n d a h u l u a n

Salah satu dari tujuan perkawinan adalah menginginkan adanya keturunan (Zurriat) atau anak sebagai pelanjut kehidupan. Merencanakan kelahiran anak seharusnya sudah mulai direncanakan pada saat-saat awal pernikahan. Pasangan suami istri seyogyanya mempunyai perencanaan dan kesepakatan tentang berapa jumlah anak yang akan dilahirkan.

Merencanakan jumlah anak yang akan dilahirkan adalah salah satu program keluarga yang penting  dalam perjalanan sebuah keluarga. Seorang penjahit pakaian misalnya sebelum menjadi baju yang siap pakai, terlebih dahulu harus memilih dan menyiapkan bahan yang berkualitas, kemudian membentuk pola sesuai dengan ukuran badan sang pemesan baju. Demikian juga Seorang lelaki yang akan membuat bangunan rumah, tentu akan mempersiapkan bahan material bangunan terlebih dahulu disamping perencanaan-perencanaan lainnya semisal besar, ukuran dan model rumah yang akan dibangun dan rencana anggaran yang dibutuhkan.

Walaupun melahirkan anak tidak selaras dengan mendesain pakaian dan membangun sebuah bangunan rumah, namun melihat kepentingannya sangatlah bijak apabila kelahiran anak diawali dengan niat dan perencanaan yang matang. Kalau saja untuk membuat pakaian dang membangun rumah tempat tinggal dibutuhkan perencanaan dan perhitungan yang matang, maka sudah sepantasnya dan seharusnya apabila sebuah keluarga membuat perencanaan dan perhitungan yang rasional tentang jumlah anak ideal yang bakal mereka miliki dimasa-masa yang akan datang. Lebih-lebih kalau kelahiran anak dikaitkan dengan  sumber daya manusia yang unggul, cerdas dan berkualitas yang di dalam bahasa agamanya disebut dengan istilah anak yang “Sholeh dan Sholehah”.

Salah satu faktor yang menyebabkan keluarga-keluarga kita (keluarga Indonesia)  menjadi lemah dan tidak berkualitas adalah tidak adanya keseimbangan antara keadaan/kemampuan dengan kebutuhan, pendapatan dan pengeluarannya.

Untuk mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera, dan untuk mendapatkan keturunan yang berkualitas, agama Islam memberikan tuntunan dan pedoman yang sangat jelas.  Dalama hal menyusui misalnya, di dalam Al Qur’an dijelaskan : “ Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut… (Q.S. 2 : 233). Dalam Surah dan ayat yang lain juga dijelaskan : “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya . Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan….(Q.S.46 : 15).

Berdasarkan dua ayat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan keturunan, setiap keluarga harus mempunyai rencana yang jelas terutama tentang jumlah anak yang akan dilahirkan, dan interval waktu jarak kelahiran yang direkomendakan oleh ahli medis antara 3 sampai 4 tahun antara anak yang pertama dan anak berikutnya. Perencanaan jumlah anak dan jarak kelahiran akan memudahkan para keluarga Indonesia untuk menata keluarganya menjadi keluarga bahagia dan sejahtera, menjadi generasi yang unggul dan maju.

Program Keluarga Berencana

Program Keluarga Berencana yang sukses pada masa pemerintahan orde baru, sampai kini masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Meskipun pada awal-awalnya program ini dilakukan secara represif namun dampak dari program ini dirasakan langsung oleh mayarakat dan pemerintah di era reformasi. Lebih dari lima puluh persen keluarga Indonesia terutama pasangan usia suburnya secara aktif tetap setia mengikuti program KB secara sukarela sampai saat ini. Sementara bagi pemerintahan sekarang hasil dari program KB tempo dulu yang dapat dinikmati  adalah adanya Bonus Demografi yang perubahan struktur dan piramida penduduk Indonesia.

Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1978  menyebutkan bahwa program Keluarga Berencana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan  kelahiran sekaligus dalam rangka menjamin terkendalinya pertambahan penduduk Indonesia.

Upaya keras dan sungguh-sungguh dan dukungan politik yang kuat dari Pemerintah Soeharto (Orde Baru) di masa yang lalu telah mampu meletakkan landasan yang kuat program KB sehingga menjadi kebutuhan bangsa Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu dari tahun ke tahun, dari orde ke orde dan dari penguasa yang satu sampai ke penguasa saat ini, informasi dan pengetahuan program KB   masyarakat semaki meningkat.

Berdasarkan hasil Survei Kinerja Dan Akuntabilitas Program KKBPK tahun 2019 (SKAP 2019), sebanyak 81,1 persen keluarga Indonesia (Pasangan Usia Subur) mengetahui/mendapat informasi tentang  program Keluarga berencana (KB).

BKKBN sebagai instansi terdepan yang menggawangi program Kependudukan dan Keluarga Berencana  di awal tahun tujuh puluhan mulanya hanya focus mengenalkan alat kontrasepsi sebagai ihtiar untuk mengatur (membatasi) jumlah kelahiran. Slogan “Dua Anak Cukup” yang digaungkan pada waktu itu serasa tidak sesuai dengan budaya mayoritas bangsa Indonesia yang menginginkan banyak anak. Namun berkat komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang kontinyu dari pengelola program, dan pendekatan ke tokoh-tokoh agama dan pondok pesantren akhirnya slogan dua anak cukup menjadi budaya keluarga-keluarga Indonesia yang familiar ditelinga kita dengan sebutan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).

Merencanakan keluarga dengan memakai alat kontrasepsi adalah upaya yang rasional di era milenial saat ini. Adalah sangat tidak mungkin merencanakan keluarga tanpa memakai alat kontrasepsi baik yang hormonal maupun non hormonal. Yang termasuk kontrasepsi hormonal adalah suntikan, pil dan implant, sedangkan yang non hormonal antara lain adalah  IUD, Kondom dan Steril (MOW & MOW).

KB  Ditengah Pandemi Covid 19

            Dalam salah satu acara Talk Show di media sosial Instagram, Kepala BKKB Dr. Hasto Wardoyo mengatakan bahwa dampak pandemic covid 19 sangat berpengaruh terhadap capaian program KB secara nasional. Di beberapa daerah tingkat penggunaan alat kontrasepsi bisa mencapai 50%. Oleh karena itu beliau berpesan agar PLKB di seluruh Indonesia pro aktif mendistribusikan alkon sederhana terutama Pil dan Kondom agar tidak terjadi peserta KB istirahat yang cukup tinggi. Sebab apabila terjadi peserta KB istirahat yang tinggi akan terjadi pula kehamilan yang tidak diinginkan pada pasangan usia subur.

Apa yang menjadi kekhawatiran Kepala BKKBN Pusat tersebut cukup beralasan. Apabila saat ini misalnya partisipasi masyarakat menjadi peserta KB secara nasional 65 % artinya beberapa bulan kedepan tingkat partisipasi masyarakat akan menurun cukup tajam yaitu menjadi 32,5%. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi program KB terutama dampaknya terhadap angka kelahiran (TFR). Dipastikan apabila kondisi pandemic ini berlanjut, akan terjadi banyak kehamilan yang tidak diinginkan. Puncaknya akan terjadi baby bom yang tinggi di Indonesia. Demikian juga dengan cakupan peserta KB baru akan terjadi penurunan yang cukup signifikan  dari unmet need yang telah ditetapkan.

Adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membatasi ruang gerak masyarakat untuk mencegah/memutus mata rantai penularan virus Covid 19 ikut andil menurunkan partisipasi masyarakat untuk memperoleh pelayanan KB. KIE dan penyuluhan KB yang biasanya dilakukan secara masal dan terbuka  di posyandu-posyandu, untuk sementara waktu dihentikan karena adanya larangan kerumunan orang dalam jumlah besar. Demikian juga ruang gerak petugas lapangan KB (PLKB) untuk membinan peserta KB aktif di garda terdepan harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan protocol kesehatan. Sementara bagi petugas pelayanan khususnya bidan desa di faskes KB juga dihantui rasa khawatir dan ketakutan jika kontak  langsung dengan akseptor atau calon akseptor karena minimnya APD di polindes.

Terlepas dari hal-hal tersebut di atas meskipun terjadi penurunan yang drastis terhadap pencapaian akseptor KB baru, PLKB sebagai garda terdepan di desa harus tetap semangat dan bertanggung jawab membina peserta KB aktif agar tidak terjadi drop out yang tinggi pada pengguna alat kontrasepsi modern ini. Jangan sampai setelah diisolasi selama 14 hari di rumah “istri kita negative covid 19 namun positif hamil”. Semoga badai ini cepat berlalu.

 

Sikur, awal Mei 2020

*Penulis adalah PKB Kec.Sikur