Kematian, sebuah Perpisahan ke Dimensi Lain

Oleh : Henny Andaresni MartianengtiasPKB Desa Labuhan Sumbawa

Ramadhan tahun ini sungguh berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Sejak akhir tahun 2019 bumi seolah-seolah dipaksa, terpaksa dan mau tak mau harus beristirahat dan mengurangi kesibukannya. Mahluk kecil yang berdiameter 400-500 micro bernama Virus Corona berhasil membuat dunia terasa sepi. Aktifitas sosial dibatasi, sebab penularanan dan infeksi virus terjadi sungguh cepat. Jumlah kematian yang ditimbulkan sungguh luar biasa. Hingga saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri sendiri selain menjaga jarak kepada sesama , menjaga tahan tubuh, memperkuat doa mohon perlindungan pada Sang Pemilik Kuasa atas segala yang terjadi ini.

2020 diwarnai dengan banyaknya kehilangan, kesedihan, kesunyian.  Ratusan ribu nyawa melayang karna infeksi Corona. Kematian terjadi begitu cepat, tanpa memberi ruang untuk menyampaikan kata-kata terakhir. Terjadi  secara cepat ataupun lambat, kematian tetaplah merupakan perpisahan yang menyesakkan dada.

Awal Ramadhan 2020 yang jatuh pada 24 April 2020, tepat pukul 12.05 ibu saya pergi menghadap Sang Maha Pencipta di sebuah rumah sakit di Kota Sumbawa. Almarhum akhirnya harus menyerah pada penyakit gagal ginjal yang sudah setahun lebih dideritanya. Dua jam sebelum menghembuskan nafas terakhir kami masih mengobrol. Sungguh tak saya duga, bahwa beberapa jam kemudian beliau akan pergi. Saat itu, tak terlintas dipikiran bahwa hari itu adalah hari terakhir kami berbicara. Sebab, selama setahun terakhir ini, kami cukup akrab dengan rumah sakit. Menginap di rumah sakit seolah-olah menjadi agenda rutin tiap beberapa bulan sekali. Karena kondisi almarhum yang sering naik turun. Biasanya, selepas opname, kondisinya akan lumayan membaik. Tapi, jumat 24 April lalu, sungguh saya tak menduga bahwa akan jadi hari terakhir kami bersama.

Sejak Almarhum sakit, diam-diam di dalam hati saya selalu menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, terutama resiko atas kematian. Saya coba menguatkan hati atas keadaan. Agar ketika kematian terjadi, saya bisa menerimanya dengan cukup kuat. Namun, apa yang terjadi ketika ibu saya meninggal? Sekuat-kuatnya saya mempersiapkan diri, peristiwa tersebut sungguh terasa membuat saya tertarik dalam pusaran Tsunami yang sungguh dahsyat. Membuat saya seolah-olah berani menantang kematian untuk menjemput saya pula. Semoga Allah mengampuni saya.

Dukungan kerabat, sahabat, kawan  sungguh membantu saya untuk  menerima kenyataan agar ikhlas. Mereka ingatkan saya bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan mati. Semua datang dari Allah dan akan kembali pada Allah. Ibunda saya milik Allah, maka kapanpun Allah ingin ambil, maka itu menjadi Hak Allah. Lantas apa hak saya untuk berontak pada keadaan ini? Bila satu daun yang gugurpun, terjadi atas ijin Allah. Apa hak saya untuk berontak pada Qodha dan Qodar yang telah Allah tetapkan untuk saya dan untuk ibunda saya??? Semua yang terjadi atas kehendak Allah. Yakinlah pasti itu yang terbaik.

Perpisahan Ke dimensi lain

“Kematian adalah kepastian , maka mati adalah dekat, bahkan lebih dekat dari kemungkinan kamu jadi orang kaya ataupun jadi sarjana,” (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dalam buku Psikologi Kematian). Di benak Komaruddin Hidayat tertempel sebuah ungkapan Arab; Segala sesuatu yang terjadi, berarti dekat. Hal itulah yang membuatnya merasa enteng menjalani hidup. Begitupun dengan kematian, tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya

Menurut  sang Cendikiawan Muslim tersebut, Dalam Islam, Kematian  adalah pulang, hal apa yang paling membahagiakan dalam hidup ini adalah pulang. Pulang kampung? Pulang dari sekolah? Pulang. Meninggal adalah jalan dekat pada Allah, artinya pulang atau mati merupakan gerbang untuk  dekat pada Allah. Bahkan kaum Sufi mengatakan bahwa kematian adalah masa panen. Panen atas apa yang kita tanam selama hidup.

Kematian hanyalah perpisahan dari satu  dimensi ke dimensi lainnya. Dimensi untuk transit. Untuk singgah, sebelum hari penghitungan dimulai. Kematian bukanlah akhir dari hidup, tapi awal dari kehidupan yang sesungguhnya.

Meskipun kematian menjadi hal indah jika kita memandangnya indah, lantas jangan lalu buru-buru ingin mati ya saudara PKB. Marilah kita jalani dan isi hidup ini dengan menanam berbagai macam kebaikan yang akan kita panen ketika hari kita dipanggil nanti. 2020 sungguh mengajarkan banyak hal. Terlebih di dalam Ramadhan ini. Kita ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih sabar. Menghayati kehidupan dengan sesuatu yang berbeda dan sunyi dari Ramadhan sebelumnya. Tak ada yang lebih baik dari sabar dan ihktiar yang dapat kita lakukan disaat-saat seperti ini. Semoga segala upaya kita dalam menjalankan kehidupan dengan segala kesabaran memberi ruang indah terang nan lapang di dalam kubur nanti. Setidaknya peristiwa kematian mengajarkan kita, bahwa suatu saat nanti kita akan pulang. Bahwa ketika pulang tidak ada yang kita bawa selain amal dan dosa. Lalu mengapa kita tidak mengisi hidup ini dengan memperbanyak bekal amal sebaik-baiknya. Apalagi kita diberkahi pekerjaan sebagai penyuluh keluarga berencana, yang mata pekerjaannya menyasar hampir segala lini kehidupan manusia. Mulai dari ibu hamil, balita, remaja, lansia. Pekerjaan sebagai Penyuluh Keluarga Berencana sungguh dapat menjadi alat kita memperbanyak amal soleh, ketika kita benar-benar ikhlas dan sungguh-sungguh bekerja membantu membangun sebuah keluarga menjadi keluarga yang berkualitas. Bayangkan amal jariyah yang kita dapatkan ketika sebuah keluarga berhasil maju, berkat fasilitasi, pembinaan dan dukungan kita. Bayangkan betapa terang kubur kita karena doa dan amal-amal jariyah yang kita tanam ketika kita melakukan penyuluhan kepada masyarakat.  Maha Suci Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian.