Cinta Monyet dan Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja

Cinta monyet sering tumbuh di masa  remaja. Keadaan tersebut sering beriringan dengan terjadinya masa pubertas. Masa pubertas sering disebut pula masa akil baliq yang biasanya terjadi pada anak-anak. meskipun masa pubertas itu terjadi secara berbeda-beda di antara anak-anak. Ada yang cepat dan ada yang lambat dalam mengalaminya. Herri Zan Pieter, dalam buku Pengantar Psikologi untuk Kebidanan (2010) , kata pubertas berasal dari kata Latin, pubes yang berarti usia menuju kedewasaan. Masa pubertas juga diartikan sebagai periode di mana anak laki-laki dan perempuan yang sedang tumbuh menjalani proses pematangan seksual (Di lansir dari Kompas.com).

Lalu apa hubungannya cinta monyet dan masa pubertas??? Mari kita bedah bersama.  Selasa, 21 Juli 2020 lalu, saya mengikuti  Webinar yang disiarkan langsung oleh akun Facebook BKKBN. Membahas tema “Kesehatan Reproduksi Remaja dan Bonus Demografi (Solusi secara Psikologi)”. Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjadi narasumber dalam Webinar itu.

Ada pernyataan yang menarik perhatian dalam Webinar tersebut, yaitu, ketika dr. Hasto mengatakan bahwa Bonus Demografi bisa menjadi kesempatan namun belum tentu menjadi  kesejahteraan. Mengapa demikian? Sebab, bila kita tidak menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dari segi gizi dan pendidikan maka sangat sulit rasanya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengisi bonus demografi dengan status sejahtera.

Lalu muncul pertanyaan baru, bagaimanakah cara menyiapkan bonus demografi yang menjadi kesempatan sekaligus menjanjikan kesejahteraan? Ihktiar yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan masalah kesehatan reproduksi remaja kita. Kasus kelahiran di usia dini masih menjadi warna pekat di Republik ini. Kelahiran oleh perempuan yang belum layak dari segi usia (di bawah 20 tahun) membawa resiko penurunan kualitas sumber daya manusia.

Anak-anak berkembang menjadi remaja melalui masa puber. Di masa usia yang masih belasan tersebut, tubuh mereka masih tumbuh. Tentu saja, kondisi demikian bukanlah saat yang tepat bagi mereka untuk mengalami hamil dan melahirkan.  Tubuh kecil itu, masih belum mampu untuk menghidupi orang lain di dalam rahimnya. Jika kehamilan terjadi di usia remaja, maka tubuh mereka akan berhenti tumbuh. Karena kalsium untuk tulang mereka akan diambil oleh janin. Sehingga di usia 30 tahun tulang mulai kropos dan di usia 50 tahun resiko bongkok pada sang ibu sangat besar kemungkinannya terjadi, sebab kekurangan asupan kalsium yang telah di rampok ketika ia hamil di usia remaja. Di titik ini, kita bisa melihat bagaimana faktor gizi yang menjadi masalah. Belum lagi bila melihat masalah kesehatan dan gizi dari bayi yang dilahirkan. Bukankah  masalah gizi pada bayi dan balita menjadi hal serius yang selalu dipromosikan untuk membentuk manusia yang sehat dan cerdas. Bahkan kita telah diminta untuk menjaga kondisi sejak sebelum hamil, agar kehamilan tersebut sehat, berjalan sehat, melahirkan anak yang sehat sehingga mencetak generasi yang sehat dan cerdas. Lalu bagaimana jika kehamilan tersebut terjadi karena insiden, tidak diinginkan, dan terjadi di usia yang rawan?

Panggul perempuan usia belasan tahun belumlah ideal untuk melahirkan bayi. Resiko infeksi selalu mengintai si ibu bila melahirkan diusia dini. Sebab, ukuran kepala bayi yang rata-rata 9 hingga 10 cm, di khawatirkan tidak sesuai dengan besar jalan lahir si ibu yang masih remaja itu. Bahaya robek dijalan lahir, infeksi, pendarahan dan kematian adalah resiko yang harus dipertimbangkan.

Yang perlu dipahami adalah ketika anak mengalami masa menstruasi, bukan berarti anak tersebut telah siap untuk dinikahkan, karena dianggap telah akil baliq. Belum, belum saatnya itu terjadi. Karena si anak masih akan mengalami masa pertumbuhan. Karena itulah BKKBN dengan gencar mempromosikan, menggaungkan bahwa usia ideal menikah adalah 21 tahun bagi wanita, 25 tahun untuk laki-laki mestilah menjadi hal yang kita ikuti dengan sadar dan ihklas.

Lalu mengapa cinta monyet diseret  dalam  permasalahan ini? Karena cinta monyet yang salah jalanlah yang menjadi penyumbang kasus terbanyak terhadap terjadinya angka pernikahan dini. Mulanya saling menatap, hati berdebar-bedar, mulailah bergandengan tangan, lalu lanjut ke hal yang lebih jauh. Sejauh apa? Tak perlulah penulis menjelaskan lebih detail, pembaca pasti paham sejauh apa itu. Kemudian, terjadilah kehamilan diusia dini. Sejak saat itulah, berbagai masalah muncul satu persatu. Resiko kesehatan ibu dan bayi.  Masalah sosial, pendidikan, kesejahteraan  menjadi kado dari kehamilan dan pernikahan dini tersebut. Kira-kira jika demikian keadaannya, masih optimiskah kita bila bonus demografi nantinya dapat pula menjadi bonus kesejahteraan bagi negeri ini?

BKKBN telah mengeluarkan program berbasis remaja untuk membantu remaja mengenal kesehatan reproduksinya. Sehingga remaja sadar akan hak reproduksinya, sadar akan bahaya yang mengintai kesehatan reproduksinya akibat dari perilaku seks di usia dini, menikah muda, dan hamil di usia muda. Penulis sangat setuju dengan pendapat dr. Hasto dalam webinar itu, bahwa pertimbangan biologis harus diperhatikan oleh pemangku kebijakan dalam mengambil kebijakan-kebijakan.

Dukungan real pemerintah daerah terhadap kesehatan reproduksi remaja mestinya menjadi hal yang peru diseriusi. Sebab, memperhatikan masalah reproduksi remaja, sama artinya dengan memperhatikan masalah penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas.

 

Penulis:

Henny Andaresni Martiaengtias, S.Ikom PKB Desa Labuhan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa