Jemput Bola dan Mereview Mindset

Departemen dan kantor Kementerian yang ada kebanyakan berdiri dan lahir sejak Indonesia merdeka bahkan Lebih dari itu sejak Pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang. BKKBN mulai berkiprah di awal 70-an.
Yang bermula dari sebuah perkumpulan yang memiliki kepedulian dan minat yang sama terhadap ledakkan penduduk yang tidak terkendali, akhirnya terorganisir secara modern, masuk dan diakomodir sebagai Badan Milik Negara. Yang mengandalkan kepiawaian manajemen koordinasi BKKBN membentangkan sayapnya masuk di segenap penjuru lini institusi sipil militer.
Dan dalam hitungan kecepatan yang luar biasa tiga Dasawarsa banyak negara Asing hadir di Indonesia hanya untuk melakukan studi bagaimana menjalankan menajemen pelayanan yang begitu berhasil dan sukses seperti BKKBN.
Pertanyaannya apa yang membuatnya berhasil sukses sampai ke lini bawah??
Karena manejemen yang diterapkan adalah manajemen jemput bola ( seperti yang dituturkan Tetua BKKBN Prof Dr Haryono Suyono pada Webinar Keluargaku Indonesiaku 🇲🇨, yg dipandu moderator kondang Rossiana Silalahi). Bukan manajemen Amtenar, gaya birokrat Belanda yang pingin dilayani rakyat dan gila hormat, gila jabatan, gila uang haram dan korup seperti kebanyakan pejabat Sekang ini termasuk di daerah dan di pusat.
Jemput bola ketika teman-teman lapangan hadir datang di level sekat Keluarga untuk mau bincang mendengar kan, ber- empati dengan komplain dan kebutuhannya. Gaya manajemen seperti ini lebih cepat mendapat respon dan empati popolis karena hadir, tampil sebagai awak pemerintah yang melayani aparat Negara yg berdedikasi bukan sebagai suguhan kata-kata simbolis retorika kosong hampa makna. tapi benar-benar beroperasi bisa mendata dan memetakan tingkatan kebutuhan kelas dan tahapan kesejahteraan keluarga.

Mindset Segmen Keluarga sebagai Lahan intervensi program yang mendasar dan utama sebenarnya sudah ada sejak era pak Haryono, jadi sebenarnya bukan merubah mindset tetapi sebenarnya mereview kembali saja, memperkuat atau lebih mengedepankan kembali sebagai varian pokok tugas kita.
Apa buktinya, dulu lagu yang kita kedepankan, simbol dan bahasa yg utama adalah NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera).
Dan memperkuat mindset tersebut dengan perkuat intervensi Ketahanan Keluarga Dengan secara konsisten menjalankan delapan fungsi keluarga : fungsi agama, Fung cinta kasih, fungsi sosial budaya, fungsi pendidikan, Fung si reproduksi kesehatan, fungsi perlindungan, ekonomi,dan Fungsi lingkungan.

Perkuat management jemput bola dan koordinasi, jauhkan gaya amtenar, pejabat birokrat stelan Safari yang korup dan suka uang haram dan senang dilayani rakyat.
# hidup PKB#
#MerDekA🇲🇨🇲🇨#

 

Oleh : Drs. Anas PKB Madya kab Bima