Stunting Ancam Kualitas Sumber Daya Manusia

Stunting menjadi fokus permasalahan kesehatan yang mendapat perhatian penting oleh Pemerintah. Seberbahaya apakah stunting hingga melibatkan kurang lebih dua puluh tiga Kementrian dan Badan di negeri ini untuk segera mengeliminasi keberadaannya? Melihat begitu banyak yang terlibat dalam proses penanggulangan dan pencegahannya, tentulah masalah stunting merupakan perkara serius. Ternyata stunting dapat  mengancam kualitas sumber daya manusia. Jika kualitas sumber daya manusia negeri ini rendah, dapatkah kita melihat masa depan yang indah untuk negeri ini? Tentunya mustahil.

Seperti yang kita ketahui bersama, selain kekayaan sumber daya alam, sebuah bangsa dapat menjadi bangsa yang besar bila kekayaan sumber daya alam tersebut diimbangi oleh kecakapan dan kualitas sumber daya manusia yang baik. Telah banyak kita mendengar kisah beberapa negara yang kaya akan sumber daya alam, hanya menjadi penonton ketika sumber daya alamnya habis dikeruk pihak asing, sebab mereka tak mampu untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki. Ada juga negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang cukup baik, namun mampu menjadi negara maju sebab memiliki sumber daya manusia yang cakap dan berkualitas.

Ternyata cikal bakal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas itu dibentuk pada 1000 HPK (1000 hari pertama kelahiran). Dihitung dari saat bertemunya sel telur dan sel sperma hingga terjadilah pembuahan. 270 hari di dalam kandungan dan 730 hari setelah lahir. Sederhananya dihitung sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada masa inilah 80 persen perkembangan otak terbentuk. “Jangan beranggapan bahwa dengan menyekolahkan anak di sekolah mahal anak otomatis menjadi cerdas. Kecerdasan tidak diciptakan di sekolah. Sekolah hanya merupakan tempat mendapat ilmu pengetahuan, untuk bersosialisasi. Bentuklah kecerdasan anak di masa 1000 HPK dengan pemberian gizi, nutrisi serta pola asuh yang benar,” kata Wahyu Hidayat Yusuf, S.S., M.Sc , Kasubbid Bina Ketahanan Keluarga Balita, Anak dan keluarga Lansia Perwakilan BKKBN NTB saat kunjungan kerjanya di Sumbawa beberapa waktu lalu.

Stunting  lebih dari hanya sekedar  masalah tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia sebab kondisi stunting mengancam kecerdasan, ketahanan terhadap penyakit, kualitas dan produktifitas manusia. Asupan gizi dan nutrisi yang sesuai sangat penting dipenuhi pasa masa 1000 HPK. Banyak anggapan beredar bahwa kasus stunting lebih banyak menyerang kaum ekonomi lemah. Teryata ada juga anak dengan kasus stunting berasal dari keluarga yang berekonomi kuat alias sejahtera. Lalu apa yang salah? Bisa jadi sudut pandang kita lah yang selama ini salah. Pikiran kita mengenai sumber nutrisi dan gizi bisa jadi kita arahkan ke bahan makanan yang mahal seperti daging sapi, ikan salmon, susu formula, anggur merah, sayur brokoli dan berbagai macam produk tidak ramah dompet tersebut. Jenis-jenis makanan tersebut memang baik dan tidak perlu diragukan lagi nilai gizi dan nutrisinya. Bila memang mampu, silahkan dibeli. Perlu diingat, meskipun berekonomi mampu, bijaksanalah dalam memberi makanan sebagai asupan gizi dan nutrisi bagi anak anda. Semahal apapun susu formula yang mampu anda beli, tidak akan ada yang bisa menandingi kebaikan dari air susu ibu. Berikanlah anak ASI hingga usia dua tahun. Jauhkan anak dari makanan-makanan pabrikan yang mengandung banyak bahan pengawet dan pastinya tidak sehat itu. Tidak ada salahnya, memberikan anak jagung rebus, ubi bakar, kacang goreng sebagai cemilan, meskipun anda mampu membeli pizza dan burger.

Nah, untuk yang kemampuan ekonominya masih belum kuat, jangan putus asa dan hilang kreatifitas. Coba tengoklah alam sekitar kita. Di NTB sayur kelor sangat mudah ditemukan, apalagi di pulau Sumbawa. Kita dapat memanfaatkan kondisi itu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga. Manfaatkan sedikit bagian rumah untuk menanam sayuran guna memenuhi kebutuhan akan sayur untuk kebutuhan sehari-hari. Tempe dan tahu makanan murah tapi nilai gizinya boleh diadu. Ikan segar yang masih mudah untuk dipancing di laut atau dijaring di sungai.  Buah-buahan lokal seperti pepaya, jambu air, mangga juga mengandung nutrisi yang bagus. Intinya adalah kreatiflah dalam memilih menu-menu makanan bergizi sesuai dengan kekayaan dan kearifan lokal budaya kita. Tidak harus makanan yang mahal-mahal.

BKKBN memiliki program BKB Emas (Bina Keluarga Balita Eliminasi Masalah Anak Stanting). BKB Emas disisipi pesan materi-materi tentang delapan fungsi keluarga pada 1000 HPK, kesehatan fisik dan mental ibu hamil dan menyusui , stimulasi perkembangan anak pada masa 1000 HPK, meningkatkan peran ayah dan anggota keluarga lainnya, materi tentang pengasuhan yang tanggap, cepat, cerdas pada kebutuhan anak yaitu memberi kebutuhan yang sesuai dengan kondisi anak.  Pastinya banyak sekali manfaat yang dapat dipetik bila bergabung dalam kelompok BKB konvensional maupun BKB Emas, apalagi program tersebut gratis dan tersebar dihampir seluruh Desa di Indonesia. Bagi yang memiliki balita bisa langsung bergabung di BKB wilayah setempat.

 

oleh : Henny Andaresni M. PKB Desa Labuhan Sumbawa, Kec. Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa