MIMPI PUNYA SEJUTA KONSELOR KB

Di masa sulit seperti saat ini, dimana wabah Pandemi Covid-19 belum dapat diperkirakan kapan berakhirnya, memiliki mimpi punya sejuta konselor KB sangatlah sangatlah relevan. Mengapa tidak? Wabah Covid-19 yang telah memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan dan berbagai program pemerintah, termasuk penyelenggaraan Program Bangga Kencana. Berdasarkan data statistik rutin BKKBN, dampak pandemi Covid-19 pada program Keluarga Berencana sungguh sangat terasa, dimana capaian peserta KB baru (PB) bulan September tahun 2020 jauh dari target yang diharapkan, yaitu sebesar 505.658 akseptor atau 6,7 % dari target yang ditetapkan. Demikian pula, angka tingkat putus pakai kontrasepsi selama masa pandemi covid-19 mencapai 10% atau 3,6 juta pasangan usia subur dengan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan melonjak tajam mencapai 420.000 kasus, serta angka unmet need mencapai 12,46 persen dari target 8,60 persen.  Selain itu, peningkatan kesertaan KB modern (mCPR) perlu juga dilakukan dari 57,2% (SDKI 2017) menjadi 61,78 sesuai target tahun 2020.

Menjadi konselor Keluarga Berencana ( KB ) ternyata tidaklah sulit. Ibu-ibu, kader, remaja atau bahkan kaum pria pun dapat melakukannya. Demikian pula dengan tokoh adat, tokoh agama ataupun tokoh masyarakat. Semua orang bisa menjadi konselor KB. Dan kebutuhan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) akan adanya konselor KB, tidaklah sedikit. Bahkan, memiliki sejuta konselor KB mungkin tidaklah cukup untuk memberikan konseling 36 juta Pasangan Usia Subur yang ada di Indonesia. Hanya dengan sedikit kemauan, ketekunan dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Bangga Kencana, seseorang sudah dapat menjadi konselor KB. Selain itu, memiliki empati dan keinginan untuk menolong orang lain, akan sangat membantu seseorang untuk menjadi konselor KB yang handal.

Konseling Keluarga Berencana adalah pertemuan tatap muka antara petugas Konseling/konselor (orang yang memberikan jasa pelayanan konseling) dengan klien (baca: kli-yen) yaitu orang yang menerima jasanya atau orang yang membutuhkan bantuan. Dalam percakapan konseling, ada pihak yang membantu pihak lain dengan tujuan agar pihak yang dibantu mampu mengenali diri, kondisi, dan permasalahannya, sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dan mantap bagi dirinya sendiri. Atas dasar pembicaraan tersebut klien kemudian bisa bertindak sesuai dengan keputusan yang telah dipilihnya secara mantap karena memahami alasan dan tujuannya.

Dasar dan pengertian konseling pada pelayanan KB adalah pemberian informasi, yang tujuan akhirnya adalah supaya calon peserta / peserta KB dapat membuat keputusan yang mantap. Biasanya petugas konseling-KB (orang yang memberi jasa pelayanan konseling-KB) disebut sebagai konselor-KB.

Dalam program Bangga Kencana, peranan masyarakat, utamanya kader sebagai lini terdepan sangatlah besar maknanya. Para kader ini memiliki potensi dan berpeluang untuk menjadi seorang konselor KB. Konseling KB yang akan diberikan oleh kader ini, bukanlah konseling dalam arti pemberian jasa konsultasi psikologik secara utuh dan luas, melainkan dalam batas – batas yang sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Konseling KB yang dilakukan oleh kader ini lebih ditujukan dalam rangka mendukung kelangsungan pemakaian kontrasepsi bagi calon peserta maupun peserta KB.

Dalam melakukan konseling KB, konselor harus memahami pengertian klien tentang cara kontrasepsi yang akan atau sudah dipakainya. Konselor KB juga diharapkan berusaha untuk bisa memahami keadaan dan kebutuhan klien, dengan tujuan agar klien dapat lebih bisa memahami diri dan kebutuhannya dalam melaksanakan KB.

Syarat menjadi konselor KB

Untuk dapat mencapai tujuan dan manfaat seperti yang diharapkan, seseorang/kader yang ingin menjadi Konselor KB haruslah memenuhi kriteria dan persyaratan sebagai berikut :

  1. Menguasai cara melakukan Konseling-KB
  2. Mengetahui dan memahami Program Bangga Kencana, dan memahami pengembangan program KB yang mengacu pada 4 pokok program, yaitu :
  • Penundaan Usia Perkawinan
  • Pengaturan Kelahiran
  • Pembinaan Ketahanan Keluarga
  • Peningkatan Kesejahteraan Keluarga
  1. Mengetahui sistem pelayanan kontrasepsi
  2. Memahami cara-cara KB dan alat-alat kontrasepsi
  3. Memahami Konseling-KB dan kaitannya dengan pelaksanaan Program Bangga Kencana.

Secara pribadi, seorang konselor KB diharapkan mempunyai latar belakang pengetahuan dan sikap sebagai berikut :

  1. Tahu dan mengerti tentang Program Bangga Kencana
  2. Yakin terhadap manfaat Keluarga Berencana dan Tujuannya
  3. Berkeinginan menolong calon peserta atau peserta KB supaya mereka bias mengikuti KB dengan aman dan nyaman,
  4. Mau dan berusaha memahami perasaan calon peserta atau peserta KB dalam melaksanakan KB, tidak bertumpu pada pendapatnya sendiri.
  5. Tahu dan mengerti informasi yang benar dan perlu disampaikan kepada calon peserta atau peserta KB.
  1. Mempunyai HAM (Hubungan Antar Manusia) yang baik.

Ciri-Ciri HAM yang baik :

  1. Berminat dan ingin menolong orang lain yang bermasalah, yang ragu-ragu, yang cemas, atau mengalami kesulitan dan memerlukan bantuan orang lain.
  2. Bersikap jujur dan terbuka, mau menerima keadaan orang yang dibantunya secara apa adanya, bisa mengerti dan memahami perbedaan pendapat, sehingga bisa membicarakannya bersama.
  3. Mampu berempati, yaitu bisa merasakan keadaan dan situasi orang lain, tetapi tidak terhanyut atau larut, sehingga tetap dapat merasa sebagai diri sendiri.
  4. Mampu mengamati (observasi) secara tajam sehingga dapat memahami pikiran dan perasaan orang lain, meskipun tidak diucapkan secara nyata. Jadi, selain dari ucapan maka berdasarkan gerak-gerik orang tersebut ia bisa mengerti pikiran dan memahami perasaannya.
  5. Mampu menjadi pendengar yang baik dan aktif yaitu memberi kesempatan kepada orang yang dibantunya untuk mengemukakan pendapat atau menceritakan dirinya dengan bebas, tanpa merasa tertekan atau terpaksa atau disepelekan. Sambil mendengarkan cerita klien, konselor KB mencoba mengerti masalah yang sebenarnya.
  6. Berpandangan luas, tidak dipengaruhi oleh pikirannya sendiri, tidak berprasangka terhadap orang lain, tidak memaksakan pendapat atau keinginannya sendiri.
  7. Mampu membina hubungan yang dapat menimbulkan kepercayaan orang yang dibantunya, sehingga orang tersebut merasa enak bicara tidak canggung, tidak terlalu merasakan adanya perbedaan meskipun antara yang memberikan konseling dan yang diberi konseling berbeda tingkat sosial ekonomi, budaya, pendidikan dan agamanya.

 

Prinsip – Prinsip Konseling

Dalam kaitan ini ada baiknya juga seorang konselor KB memahami prinsip-prinsip konseling, Yaitu :

  1. Mampu memberikan jaminan kerahasiaan atas informasi pribadi klien. Pengembangan komunikasi dalam Konseling KB sangat memerlukan kepercayaan dari klien bahwa kerahasiaannya akan dijaga dengan baik.
  1. Bentuk hubungan dalam konseling bersifat setara, antara pemberi dan penerima konseling. Bentuk hubungan tersebut akan mampu menumbuhkan keberanian klien dalam mengungkapkan pikiran, pendapat, perasaannya, yang bisa dilakukannya secara bebas, tanpa tekanan atau paksaan.
  1. Bentuk hubungan dalam konseling juga harus memungkinkan disampaikannya informasi yang jelas, lengkap, benar dan tepat. Dengan sendirinya kesempatan untuk bertanya dan membahas bersama harus diciptakan, terutama agar pembicaraan yang dilakukan berdasar pada pemahaman yang sama, sedangkan materi atau pokok bahasan tentunya perlu disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan klien, yang dalam hal ini berbeda secara individual atau perorangan, sebab memang sangat tergantung dari latar belakang. kondisi dan situasi yang dihadapi.

Pada Konseling KB, konselor berpijak pada kesediaan untuk menerima orang lain seperti adanya. Jadi, ada usaha untuk mengetahui keadaan orang yang dibantunya. Kalau orang yang dibantunya mengatakan “cemas”, maka konselor harus menerimanya sebagai kenyataan yang dialami oleh orang tersebut, meskipun menurut pendapatnya sendiri barangkali kecemasan itu tidak pada tempatnya. Dalam hal ini konselor KB tidak boleh menyamakan orang yang dibantunya dengan dirinya sendiri. Konselor harus selalu mengingat bahwa ada perbedaan latar belakang antara dirinya dengan kiien. Jadi, wajar saja klien bersikap atau menunjukkan prilaku yang ditampilkannya dalam hubungan ini.

Dengan ditambahkannya Konseling-KB dalam rangkaian pelayanan KIE (komunikasi, informasi, edukasi) dan pelayanan kontrasepsi, serta pengayoman peserta KB, diharapkan minat dan kesertaan masyarakat dalam program KB dapat ditingkatkan, mencegah angka peserta yang berhenti memakai alat kontrasepsi (drop out) serta mengurangi jumlah angka unmet need. Manfaat konseling sebagai usaha pemantapan calon peserta/peserta KB ini telah dibuktikan dengan hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia. penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pemberian konseling yang baik akan menghasilkan angka kelangsungan penggunaan kontrasepsi yang tinggi.

Siapapun kita, dimanapun kita, apapun profesi kita, ayo menjadi konselor KB. Kita wujudkan mimpi program Bangga Kencana mempunyai sejuta konselor KB. (Saiful Anugrahadi, dari berbagai sumber).

 

Oleh : Saiful Anugrahadi, Penyuluh KB Madya Kab. Lombok Timur