CEGAH STUNTING DIMULAI DARI MASA KEHAMILAN

Sejak menerima amanah dari Presiden Jokowi sebagai Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia pada rapat terbatas Percepatan Penurunan Stunting tanggal 25 Januari 2021, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terusmelakukan pembenahan. Semua potensi yang dimiliki oleh BKKBN harus segera digerakkan, karena amanat sebagai Ketua Percepatan Penurunan Stunting tidaklah mudah. BKKBN harus menurunkan angka stunting yang saat ini mencapai 27,6 persen menjadi 14 persen pada tahun 2024. Artinya bahwa BKKBN harus menurunkan rata-rata angka stunting sebesar 2,7 persen setiap tahunnya. Sungguh target yang sangat luar biasa menantang.

Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. Menurut UNICEF, stunting terjadi pada anak-anak usia 0 sampai 59 bulan dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak. Bedasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sekitar 37,2 persen anak Indonesia di bawah usia 5 tahun mengalami stunting. Hal ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dengan manifestasi kegagalan pertumbuhan (growth faltering) yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Kekurangan gizi pada masa janin dan usia dini akan berdampak pada perkembangan otak, rendahnya kemampuan kognitif yang akan mempengaruhi prestasi sekolah dan keberhasilan pendidikan. Dalam jangka panjang, kekurangan gizi pada awal kehidupan akan menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indoneisa (FK-UI) Damayanti S Sjarif mengatakan bahwa masalah stunting akan sulit diperbaiki pada anak jika sudah melewati masa 1000 hari pertama kehidupan. Meskipun demikian, kalau melihat grafik pertumbuhan, masih ada satu kesempatan saat jelang pubertas. Kita berikan makanan yang benar, dengan memperbanyak protein hewani yang cukup.. Pencegahan stunting bisa dilakukan dengan cara-cara memberikan anak gizi seimbang agar tubuhnya bisa bertambah tinggi  dan untuk perkembangan otak anak, melakukan aktivitas fisik, minimal olah raga 30 menit setiap hari, serta tidak membiarkan anak tidur larut malam agar anak mendapat istirahat yang cukup. Hasil penelitian menyatakan bahwa hormon pertumbuhan pada anak kerjanya pada pukul 00.00 sampai 01.00 malam. Hormone tersebut bekerja kalau anak tidur nyenyak. Dengan cara itu anak bisa akan bisa tumbuh tinggi.

 

CEGAH STUNTING SEJAK KEHAMILAN

Stunting dapat disebabkan oleh faktor genetik, sanitasi yang kurang baik, serta kurangnya asupan nutrisi selama kehamilan. Doddy Izwardy, Direktur Gizi Masyarakat Kemekes RI menyebut bahwa masalah genetik dapat menyebabkan terjadinya stunting. Genetik atau factor keturunan menyumbang faktor risiko sebesar 26 persen. Sudah terintegrasi antara cucu dengan nenek, itu yang harus dipotong. Tubuh anak yang pendek kerap dianggap sebagai karena keturunan atau genetik, karena orangtuanya. Hal ini membuat banyak orang tak melakukan apa-apa untuk mengatasinya. Padahal bisa jadi kondisi tubuh pendek tersebut adalah stunting yang membutuhkan perawatan medis intensif. Selain genetik, faktor risiko stunting lainnya adalah bayi prematur dengan orangtua perokok berisiko terkena stunting. Termasuk juga kebersihan air dan lingkungan. Saat ini, stunting tidak lagi identik dengan orang miskin, anak dari keluarga berada pun bisa mengalami stunting, antara miskin dan tidak miskin bedanya hanya 10%.

Stunting merupakan salah satu gangguan tumbuh kembang yang dapat terjadi pada anak. Kondisi ini menyebabkan anak memiliki perawakan pendek. Kabar baiknya, stunting bisa dicegah sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan. Memenuhi kebutuhan nutrisi sejak hamil hingga anak berusia dua tahun (periode 1000 hari pertama kehidupan) merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting, tentunya sambil terus memantau pertumbuhannya.

Status gizi ibu selama kehamilan dapat dimanifestasikan sebagai keadaan tubuh akibat dari pemakaian, penyerapan dan penggunaan makanan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Gizi ibu waktu hamil, sangat penting untuk pertumbuhan janin yang dikandungnya. Pada umumnya, ibu hamil dengan kondisi kesehatan yang baik yang tidak ada gangguan gizi pada masa pra-hamil maupun saat hamil, akan menghasilkan bayi yang lebih besar dan lebih sehat daripada ibu hamil yang kondisinya memiliki gangguan gizi. Kurang energi kronis akan menyebabkan lahirnya anak dengan bentuk tubuh “stunting” (Soetjiningsih, 2015).

Status gizi ibu selama kehamilan yang baik mempunyai kemungkinan lebih besar untuk melahirkan bayi yang sehat. Seperti pada pengertian status gizi secara umum, maka status gizi ibu hamilpun adalah suatu keadaan fisik yang merupakan hasil dari konsumsi, absorpsi dan utilisasi berbagai macam zat gizi baik makro maupun mikro. Oleh karena proses kehamilan menyebabkan perubahan fisiologi termasuk perubahan hormon dan bertambahnya volume darah untuk perkembangan janin, maka intake zat gizi ibu hamil juga harus ditambah guna mencukupi kebetuhan tersebut (Kemenkes, RI 2018). Status gizi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi secara kronis pada trimester akhir ini menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai cadangan zat gizi yang adekuat untuk menyediakan kebutuhan fisiologi kehamilan yakni perubahan hormon dan meningkatnya volume darah untuk pertumbuhan janin, sehingga suplai zat gizi pada janinpun berkurang akibatnya pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat dan lahir dengan berat yang rendah dimana banyak dihubungkan dengan tinggi badan yang kurang atau stunting. Implikasi ukuran LiLA terhadap berat bayi lahir adalah bahwa LiLA menggambarkan keadaan konsumsi makan terutama konsumsi energi dan protein dalam jangka panjang (Arisman, 2010).

Kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi ibu selama hamil. KEK pada ibu hamil perlu diwaspadai kemungkinan ibu melahirkan bayi berat lahir rendah, pertumbuhan dan perkembangan otak janin terhambat sehingga mempengaruhi kecerdasan anak dikemudian hari dan kemungkinan panjang lahir juga tidak normal. Ibu hamil yang berisiko kekurangan energi kronis (KEK) adalah ibu hamil yang mempunyai ukuran LiLA kurang dari 23,5 cm (Mukaddas, 2018). Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu (Kemenkes RI, 2018). KEK merupakan merupakan gambaran status gizi ibu dimasa lalu, kekurangan gizi kronis pada masa anak-anak baik disertai sakit yang berulang, akan menyebabkan tubuh yang pendek (stunting) atau kurus (wasting) pada saat dewasa. Ibu yang memiliki postur tubuh seperti ini berisiko mengalami gangguan pada masa kehamilan dan melahirkan bayi lahir rendah. KEK terbentuk dikarenakan adanya kegagalan kenaikan berat badan ibu saat hamil. Bawasannya kenaikan berat badan ibu selama kehamilan trimester 1 mempunyai peranan yang sangat penting, karena periode ini janin dan plasenta dibentuk namun kegagalan kenaikan berat badan ibu pada trimester 2 dan 3 akan meningkatkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Hal inilah yang menyebabkan adanya KEK dimana mengakibatkan ukuran plasenta kecil dan kurangnya suplai makanan ke janin. Kekurangan zat gizi pada ibu yang lama dan berkelanjutan selama masa kehamilan akan berakibat lebih buruk pada janin daripada malnutrisi akut (Soetjiningsih, 2015). Manifestasi dari masalah gizi makro pada ibu hamil KEK adalah bayi BBLR. Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi protein. Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai resiko kematian ibu mendadak pada masa perinatal atau resiko melahirkan bayi dengan BBLR dimana banyak dihubungkan tinggi badan yang kurang atau stunting (Kemenkes RI, 2018)

Stunting juga terjadi pada Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, hamil tidak mengkonsumsi makan sesuai dengan gizi seimbang, seperti tidak makan yang beraneka ragam, kurangnya konsumsi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Kehamilan saat remaja (menikah usia dini), ganguan mental pada Ibu hamil, jarak kelahiran yang pendek dan hipertensi saat hamil, juga tidak memperhatikan nutrisi kehamilan, pola asuh setelah melahirkan, Ibu tidak melakukan pemberian ASI, tidak memberikan makanan Pendamping ASI (MPASI) yang baik dan benar, anak tidak di imunisasi dan tidak melakukan pemantauan tumbuh kembang anak. Rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral dan buruknya keberagaman pangan dan sumber protein hewani menjadi penyebab stunting. Di sisi lain, tubuh pendek karena stunting dikatakan oleh Dr. dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K), dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) diakibatkan karena gangguan pertumbuhan yang berakar dari kurang gizi.

Stunting merupakan persoalan bersama karena menyangkut masa depan bangsa dan harus diselesaikan dengan menyatukan gerak langkah dalam pembangunan di semua sektor. dan langkah tersebut harus dirumuskan bersama. Banyaknya anak stunting akan memengaruhi kualitas generasi muda Lombok Timur khususnya, dan Indonesia di masa mendatang, maka dari itu orang tua wajib memperhatikan tumbuh kembang anak sebelum terlambat. Dalam jangka panjang, kekurangan gizi pada awal kehidupan akan menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat. (Saiful A/dari berbagai sumber).

 

Oleh : Saiful Anugrahadi, Penyuluh KB Madya