Keluarga Keren Cegah Stunting

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Terutama pada fase 1000 Hari Pertama Kelahiran. Anak yang stunting tubuhnya lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Tidak hanya masalah  fisik, namun stunting juga berdampak pada gangguan perkembangan otak, sistem kekebalan tubuh yang melemah dan tingkat kecerdasan (intelektual) yang rendah. Di kemudian hari, anak tersebut akan tumbuh menjadi manusia yang kehilangan produktivitas serta mengalami resiko kematian dini sebab sistem kekebalan tubuh yang lemah. Resiko tinggi mengidap penyakit diabetes, kanker, obesitas dan sebagainya menjadi ancaman serius. Seserius inilah masalah stunting. Jadi wajar saja, bila Presiden Jokowi Widodo meminta agar program  penurunan angka stunting dan gizi buruk di tengah pandemic Covid-19 diteruskan  sebagai salah satu prioritas nasional (Dilansir dari beritasatu.com).

Masalah stunting merupakan masalah yang kompleks. Hampir seluruh fase dalam hidup kita turut ambil bagian dalam terjadi atau tidaknya stunting. Seorang anak yang sehat akan tumbuh menjadi remaja yang sehat. Terutama remaja putri yang akan menjadi manusia dewasa yang siap menjadi ibu setelah pernikahan. Kondisi gizinya selama remaja mempengaruhi kondisi gizinya saat hamil. Kondisi gizi saat hamil menentukan kondisi gizi janin yang dikandung dan bayi yang dilahirkan. Fase ini akan berulang-berulang kembali. Pertayaannya adalah bagaimana cara menurunkan angka stunting secara signifikan melalui cara yang sederhana? Jawabannya adalah dimulai oleh keluarga sendiri.

Memulai perang terhadap stunting dapat kita lakukan dari keluarga sendiri. Menerapkan delapan fungsi keluarga (fungsi agama, fungsi kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi sosial budaya, fungsi reproduksi, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi lingkungan) dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya tubuh yang butuh asupan gizi, tapi jiwa juga

Acapkali kita lupa,selain asupan makanan yang bergizi, jiwa ternyata juga butuh diberi makan. Agar jiwa menjadi tenang dan damai sehingga terwujud kehidupan yang bahagia. Hal-hal yang bersifat kebatinan hanya bisa terwujud melalui sikap spiritual dalam beragama. Betapa visionernya BKKBN dalam merancang delapan fungsi keluarga yang memang benar-benar diperlukan dalam sebuah keluarga. Fungsi kasih sayang dan fungsi perlidungan membuat kita betah untuk selalu bersama keluarga.

Ketenangan dalam rumah tangga sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Sebab kondisi stress pada ibu sangat berdampak buruk bagi janin. Hal itu bisa mempengaruhi kesehatan anak yang dilahirkan. Yang paling parah bisa saja anak yang dilahirkan mengalami stunting. Membesarkan anak dalam keluarga yang harmonis, sama dengan memupuk jiwa-jiwa kecil yang akan tumbuh hebat. Sekali lagi, mohon diingat, bukan hanya tubuh yang butuh makan makanan bergizi, tapi jiwa juga. Berilah jiwa makan dengan menerapkan delapan fungsi keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Bila ke delapan fungsi tersebut bisa dijalankan dengan maksimal, maka terwujudlah keluarga harmonis, sehat, kuat dan hebat.

Edukasi anak tentang Stunting sejak dini

Stunting bukan hanya masalah gizi, namun lebih dari itu. Stunting mempengaruhi daya saing dan perekomian sebuah bangsa. Mengapa bisa demikian? Sebab, ketika otak yang diserang, kecerdasan menjadi lemah, daya tahan tubuh menjadi lemah, lalu apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi itu? Bagaimana bisa meraih dunia, sedang berjalan sendiri tak ada daya.

Intervensi terbaik untuk pencegahan stunting adalah pada masa 1000 Hari Pertama Kelahiran. Perbaikan gizi setelah usia dua tahun masih  bisa dilakukan meskipun hasilnya kurang maksimal. Memberi edukasi tentang stunting, sedini mungkin pada anak bisa menjadi salah satu alternatif dalam memerangi stunting. Tentunya dengan cara yang sesuai dengan anak. Gunakan pola komunikasi yang mudah dipahami anak. sebaiknya hal ini dilakukan oleh orangtua masing-masing. Nah, di mulai lagi dari keluarga sendiri. Pola pikir anak tergantung pada edukasi yang diberikan oleh orangtua, tentunya, pola edukasi tersebut harus sesuai dengan usia anak.  Nah, mengedukasi anak tentang isu stunting membuat anak semangat hidup sehat dan makan makanan bergizi. Jadi, anak tahu, bahwa dalam makan, bukan hanya rasa enak yang penting, namun juga khasiat akan kandungan gizi dalam makanan yang dimakan. Anak jadi cerdas. Selain itu, anak juga dapat menjadi penyampai informasi pada teman-temannya tentang makan makanan bergizi dan pola hidup sehat. Karena pemahaman sesama anak-anak jauh lebih mudah dipahami dan cepat diterapkan. Sebab anak-anak cenderung memiliki sifat ingin meniru temna-temannya.

Mengenalkan anak usia dini pada isu stunting secara tidak langsung sama dengan memberi motivasi pada anak untuk mau hidup sehat, makan makanan yang bergizi (sayur, buah, susu). Anak sehat, yang sedari dini menerapkan pola hidup sehat kelak akan menjadi cikal bakal manusia sehat sekaligus sumber daya manusia yang berkualitas serta berdaya saing yang niscaya akan melahirkan generasi-generasi sehat yang hebat. Secara tidak langsung, kita telah menutup pintu kekurangan gizi kronis penyebab stunting pada anak manusia. Inilah investasi terbaik, yaitu, investasi edukasi stunting yang dimulai sedini mungkin. Ayo kita cegah stunting dari keluarga masing-masing. Sebab, keluarga keren itu cegah stunting. Mari kita cegah stunting bersama BKKBN dan PKB Keren. Selamat Hari Keluarga. Dahulukan keluarga. Keluarga yang pertama. Bahagia bersama keluarga.

 

Oleh : Henny Andaresni Martianengtias PKB Desa Labuhan Sumbawa