Fenomena Childfree Marriage

Dahulu, menikah dilakukan dengan tujuan, salah satunya adalah untuk bereproduksi, meneruskan keturunan dengan memiliki anak. Bahkan, pasangan suami istri yang tidak memiliki anak kerapkali diteror pertanyaan-pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tapi sadis terasa bagi mereka yang menjadi sasaran tujuan dari pertanyaan “kapan punya anak?”. Bisa jadi pasangan tersebut juga ingin segera memiliki anak, tapi terkendala kondisi biologis dan kesehatan yang membuatnya tidak bisa memiliki anak. Kemandulan, hal yang paling sering menjadi penyebab gagalnya pasangan suami istri  memiliki anak.

Jaman yang semakin modern, kondisi bumi yang semakin tua, merubah pola pikir dan cara hidup manusia. Sekarang segala hal begitu praktis. Entah kepraktisan ini disertai nilai norma yang kuat atau tidak. Sah-sah saja, bila pasangan yang tidak dapat memiliki keturunan karena kemandulan memilih tindakan adopsi anak. Merawat seorang anak yang bukan darah dagingnya, untuk dibesarkan, dirawat, diberi nilai-nilai kehidupan, disayangi sepenuh hati layaknya anak kandung. Justru cara ini dianggap dapat membantu masa depan anak-anak yang lahir tanpa orang tua (yatim piatu) atau bahkan anak-anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya. Dunia kadang begitu aneh. Ada yang mati-matian ingin memiliki anak tapi tidak bisa memilikinya. Ada pula yang mampu melahirkan anak, tapi tidak menginginkannya. Tarik nafas, hembuskan duluuu pembaca.

Baru-baru ini di dunia, bahkan di Indonesia sedang diramaikan dengan fenomena pernikahan yang tidak menginginkan anak. Atau menikah tapi tidak ingin memiliki anak. Bukan karena pasangan tersebut mandul atau mengalami gangguan kesehatan sehingga membuatnya tidak mampu memiliki anak. Bukan pula karena faktor lain menyangkut tekanan dari luar pasangan tersebut untuk tidak memiliki anak. Pernikahan tanpa anak tersebut, secara sadar dilakukan karena mereka memang tidak ingin memiliki anak. Jadi tidak ada fungsi reproduksi untuk meneruskan keturunan secara biologis dalam pernikahan model ini. Tidak ada generasi penerus.

Jadi konsep menikah yang salah satunya adalah untuk bereproduksi, melahirkan keturunan, mereka hapus. Konsep menikah bagi mereka adalah, bagaimana sepasang manusia yang disahkan dalam pernikahan secara legal, hidup bersama, saling melengkapi, saling menemani hingga hari akhir tanpa memiliki anak. Fenomena seperti ini dikenal dengan sebutan Childfree mariiage.

Pernikahan tanpa anak

Childfree marriage adalah sebuah istilah yang merujuk pada pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Childfree berbeda dengan Childless, sebab childless tidak memiliki anak disebabkan karna faktor keadaan seperti kondisi fisik, biologis, keguguran dan lainnya (dilansir dari heylawedu.id). Beberapa yang melatarbelakangi keputusan ini adalah hal yang berkaitan dengan latarbelakang keluarga (trauma masa lalu), pertimbangan gaya hidup, alasan finansial, emosional atau “maternal instinct” hingga alasan terkait menjaga kelestarian bumi (dilansir dari hipwee.com).

Childfree marriage dianggap seolah dapat memusnahkan peradaban suatu bangsa karena tidak berjalannya fungsi bereproduksi, tidak lahirnya generasi baru.

Jika kita lihat, berbagai alasan dan latar belakang pasangan yang memilih Childfree marriage salah satunya adalah karena trauma masa lalu dan masalah emosional. Yang namanya trauma apalagi bila tidak ditangani dengan baik, pastinya akan menjadi momok bagi yang bersangkutan. Di sini kita mencoba memahami akan kondisi orang lain. Tidak mudah hidup dalam bayangan trauma. Namun, akan lebih baik bila trauma segera diatasi, diobati dengan terapi dan penanganan yang tepat agar segera pulih. Bukankah hidup tanpa trauma adalah hidup yang damai dan menyenangkan? Ikhtiar itu penting. Selanjutnya tawakal. Jangan menyerah sebelum berjuang.

Pernikahan tanpa anak  wajar apa tidak? Sesuatu yang sering disebut tidak wajar adalah sesuatu yang kadang baru ada, baru muncul dan bertolak belakang dengan kebiasaan yang selama ini ada. Demikian juga dengan fenomena pernikahan tanpa anak. Karena sebelumnya, pernikahan lebih banyak dilakukan untuk meneruskan keturunanan, melanjutkan generasi Haji Bajing Ahmad, misalnya. Dan generasi-generasi bapak-bapak atau ibu-ibu lainnya.

Lalu, mereka yang tidak ingin memiliki anak dengan alasan menjaga kelestarian bumi yang sudah semakin sesak dan rusak oleh ulah manusia-manusia yang tak bertanggungjawab apakah sah-sah saja? Bagi saya, sah-sah saja. Setiap orang berhak untuk berpendapat. Namun, masih banyak cara untuk melestarikan bumi, merawat bumi, tanpa menghentikan proses regenerasi. Jangan sepesimis itulah dalam memandang dunia ini. Sebanyak-banyaknya keburukan yang ada pasti masih menyimpan kebaikan. Nah, untuk menggali kebaikan-kebaikan ini diperlukan individu-individu yang cerdas dan berahlak. Sangat mungkin terjadi, bahwa individu tersebut adalah anak kita, keturunan kita. Anak yang kita lahirkan, atau anak yang kita adopsi, yang kita rawat sedari kecil, disirami nilai-nilai kebaikan, sehingga ia tumbuh menjadi individu yang menjadi solusi masalah bagi bumi dan penghuninya.

Jangan takut punya anak

Memiliki anak atau keturunan sebaiknya perlu dilakukan. Sebab, bumi ini perlu pewaris. Siapa yang akan merawatnya bila tidak ada generasi berikut yang lahir? Yang menjadi bencana dalam ekonomi keluarga adalah jumlah anak yang tidak direncanakan. Memang benar, setiap anak yang dititipkan oleh Tuhan telah dibekali oleh garis rejeki masing-masing. Namun, dengan merencanakan jumlah anak, orangtua akan terbantu dalam mengatur biaya-biaya dalam mengasuh dan membesarkan buah hatinya.  Merencanakan jumlah anak yang diikuti dengan merencanakan biaya kehidupan, biaya pendidikan, biaya jaminan kesehatan, dan biaya-biaya lain yang mendukung tumbuh kembang anak itu sangat penting. Masih banyak solusi mencari rejeki. Masih banyak jalan melestarikan dan memperbaiki keadaan bumi. Masih bisa kita melakukan adopsi dan menjadi orangtua asuh meski memiliki anak kendung sendiri. Punya anak lah. Tapi yang terencana. Agar berkualitas dan berakhlak.  Sehingga menjadi pembawa solusi, amit-amit menjadi pembuat masalah.

 

Penulis, Henny Andaresni Martianengtias, S.Ikom PKB Desa Labuhan Sumbawa