Depan > Index Berita > MUDIK, MOMENTUM MEMPERKUAT KELUARGA BERKETAHANAN
MUDIK, MOMENTUM MEMPERKUAT KELUARGA BERKETAHANAN
Kamis, 22 Juni 2017

“Mudik Yookk...” Sebuah ajakan yang menjadi “tranding topic” di media sosial saat ini. Dan kebetulan, moment mudik tahun ini, waktunya bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional yang ke-24. Fokus perhatiannya pun sama, yaitu mempererat silaturahmi dan memperkuat keluarga berketahanan. Karenanya, tidaklah berlebihan bila momentum mudik tahun ini dapat dikaitkan dengan peringatan hari keluarga nasional yang mengambil tema Dengan Hari Keluarga Nasional Kita Bangun Karakter Bangsa melalui Keluarga yang Berketahanan. Sementara pesan intinya adalah Keluarga Berketahanan, Indonesia Mandiri dan Sejahtera.

Mudik lebaran merupakan tradisi inklusif, yang di dalamnya mengandung benih ikatan-batiniah yang sangat kuat dalam kekeluargaan. Tradisi mudik dilakukan setiap tahun sekali ini, adalah merupakan proses dari suatu dialektika-budaya yang sudah berjalan sangat lama hingga sekarang. Tradisi yang telah menyatu tanpa batas dengan uniknya dalam masyarakat kita. Di dalamnya tertampil suatu lukisan kehidupan yang nyata (riil) dari dinamika budaya Indonesia sangat menawan. Mudik, pergerakan orang dari kota menuju ke kampung halamannya alias kembali kerumahnya. Dan mudik ini, hanya ada dan terjadi di Indonesia.

Tradisi mudik memiliki makna religius yang mendalam. Tradisi mudik, kembali ke tempat kelahiran, kembali mengingat asal kita lahir, kembali mengingat semua kenangan di awal kehidupan kita. Artinya, dengan mudik, seharusnya kita mengambalikan jati diri sebagai manusia, mengembalikan kondisi kita seperti saat dilahirkan, yaitu bersih dan fitrah. Tentu makna ini, berkaitan dengan ibadah puasa yang sebulan ini kita jalankan. Bahwa puasa adalah ajang training untuk menjadi manusia sejati. Nah, manusia sejati itu adalah ketika kita dilahirkan, bersih dari berbagai program-program pikiran yang melemahkan diri kita.

Mudik, juga artinya kembali ke asal kita sebagai manusia. Mudik dari kota yang penuh dengan kebisingan, penuh dengan sugesti-sugesti yang mungkin membuat kita menjadi lupa sebagai manusia, untuk kembali ke asal yang tenang. Apalagi jika tujuan mudik kita ada di kota-kota kecil, tentu menjadi penyegar bagi pikiran kita, menjadi penenang bagi diri kita. Mudik, dengan bertemu orang tua, ataupun jika orang tua sudah meninggal maka mengunjung makamnya, membuka memori ketika dulu masih bersama dengan orang tua kita, membuka ingatan betapa sayangnya orang tua kita. Kembalilah kita ke fitrah sebagai manusia, kembalilah menjadi manusia sejati, manusia yang sadar betul bahwa dirinya adalah manusia.

Secara makna sosial, didalam tradisi mudik, selain hanya pulang kampung bertemu dan berkumpul dengan keluarga lalu bersilaturahmi dan meminta maaf, juga ada momentum untuk memperkuat fungsi keluarga, yang secara implisit merupakan cerminan dari penerapan 8 Fungsi Keluarga, diantaranya adalah Fungsi Agama, Fungsi Sosial Budaya, Fungsi Cinta Kasih, Fungsi Perlindungan, Fungsi Reproduksi, Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, Fungsi Ekonomi, serta Fungsi Lingkungan.

Mudik mempunyai gravitasi (gaya tarik) yang kuat, yang membuat anggota masyarakat di dalam komunitasnya yang tercerai berai oleh karena “gerak-rotasi” rutinitas, merasa ingin selalu berkumpul kembali. Mudik selalu memendam rasa rindu ingin membangun kembali interaksi dan tali-silaturahmi kepada keluarga, terhadap orang tua, kakak, abang, adik, sanak keluarga atau teman sejawat yang sudah lama ditinggalkan. Dalam lintasan waktu, tradisi mudik bagi orang tertentu yang telah lama di tanah rantau ternyata juga mempunyai makna pemberdayaan keluarga, merangkum beragam bentuk potensi diri dan keluarga, selain juga merangkum emosi atau pengukuhan mitos – yang lebih luas. Di dalam tradisi mudik juga harus diakui banyak terakumulasi kesadaran untuk peduli dan berbagi, yang bisa jadi, menjadi karakter kepribadian setiap manusia dan merupakan salah satu cara untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Demikian pula halnya dengan Peringatan Hari Keluarga Nasional ke 24 tahun ini. Penyelenggaraan peringatan Harganas setiap tahun bertujuan untuk meningkatkan peran serta pemerintah, pemerintah daerah, mitra kerja, dan swasta tentang pentingnya penerapan 8 Fungsi Keluarga dan pembentukan karakter sejak dini untuk mewujudkan pelembagaan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. Selain itu, Peringatan Hari Keluarga Nasional didorong untuk dilakukan dengan 4 Pendekatan Ketahanan Keluarga dengan harapan keluarga-keluarga Indonesia akan menjadi semakin dekat dan dapat mempererat tali silahturahmi satu sama lain. Keempat pendekatan dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Keluarga Berkumpul, Keluarga berkumpul, meluangkan waktu tanpa gangguan gawai, televisi, atau alat eletronik lainnya. Berkumpul dengan keluarga dapat dilakukan pada momen-momen seperti Hari Keluarga Nasional, hari raya, atau akhir pekan. Selanjutnya, keluarga berkumpul diharapkan dapat menjadi agenda keluarga sehari-hari, misalnya meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga selama 20 menit setiap hari dengan makan malam bersama;

  2. Keluarga Berinteraksi Semua anggota keluarga meluangkan waktu berkumpul untuk bercengkrama dan bertukar pengalaman dengan komunikasi yang lebih berkualitas. Interaksi tidak hanya dilakukan dengan atau antaranggota keluarga inti tetapi juga dengan atau antaranggota keluarga besar, sanak saudara, serta tetangga melalui misalnya acara arisan keluarga, pengajian, reuni, dan lain-lain;

  3. Keluarga Berdaya, Keluarga yang berdaya akan dapat mengandalkan segala potensi yang ada dalam dirinya, baik berupa keterampilan, olah pikir, maupun pengetahuan, sehingga dapat melakukan pengasuhan anak yang lebih baik, melaksanakan 8 Fungsi Keluarga, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan hidup;

  4. Keluarga Peduli dan Berbagi, Keluarga yang lebih beruntung harus memiliki kepedulian dan keinginan untuk berbagi dan menolong orang lain. Kegiatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk gotong royong antarwarga, perbaikan rumah, menolong tetangga yang sedang sakit, menjadi orang tua asuh, serta memberikan bantuan modal usaha bagi keluarga prasejahtera.

Dengan demikian, suatu hal wajar bilaman libido masyarakat tinggi untuk bisa mudik ke kampung halamannya, sehingga mudik lebaran bukan saja dilakukan untuk untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri tetapi juga dapat dijadikan sebagai momentum untuk memperkuat dan mempererat keluarga berketahanan.

Selamat mudik ke kampung halaman, selamat menyambut Hari Raya Idhul Fitri 1438 H dan selamat menyongsong Peringatan Harganas XXIV Tahun 2017, mari Kita Bangun Karakter Bangsa melalui Keluarga yang Berketahanan, Indonesia Mandiri dan Sejahtera. Minal aidin wan faizin, mohon maaf lahir dan bathin. (Saiful Anugrahadi, Ketua DPD IPeKB Provinsi NTB).