REMAJA IDEAL GENERASI PERUBAHAN (Problematika, Perkembangan dan Potensi)

A. Latar belakang

Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia, who (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Di indonesia menurut biro pusat statistik (1999) kelompok remaja adalah sekitar 22% yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (dikutip dari nancy p, 2002). Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke de wasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak-anak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan biologis, kognitif, dan sosial. Masa remaja berlangsung dari usia 12-21 tahun yang dibagi menjadi: masa remaja awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun), dan masa remaja akhir (18-

21 tahun) (monks. Dkk, 2006). Menurut harlock (1980) menjelaskan bahwa tugas perkembangan remaja diantaranya mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik itu pria atau wanita, mencapai peran sosial pria dan wanita, menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif, mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya dan mempersiapkan karir ekonomi.

Remaja  tidak  mempunyai  tempat  yang  jelas,  yaitu  bahwa  mereka  tidak  termasuk golongan anak-anak tetapi tidak juga termasuk golongan dewasa. Perkembangan biologis dan psikologis remaja dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan dan sosial. Oleh karena itu remaja akan berjuang untuk melepaskan ketergantungannya kepada orang tua dan berusaha mencapai kemandirian sehingga mereka dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa. Pada fase remaja mereka tidak lagi disebut sebagai anak-anak dan juga tidak bisa disebut sebagai orang dewasa. Banyak  orang  dewasa  yang  menghargai  kemandirian  remaja,  namun  dilain  kesempatan bersikeras bahwa remaja tidak cukup mampu untuk membuat keputusan yang kompeten dan mandiri tentang hidupnya. Karena itu pertentangan-pertentangan seperti ini sering menimbulkan masalah untuk para remaja dalam mengekspresikan keinginannya.

Pada masa ini, terjadi berbagai perubahan pada diri remaja, salah satunya adalah perubahan fisik. Terkait dengan perubahan fisik yang terjadi, para remaja harus dapat menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif, dimana hal tersebut merupakan salah satu tugas perkembangan remaja (santrock, 2007). Kemajuan zaman yang serba modern sekarang ini, bisa berdampak positif dan negatif bagi perkembangan remaja. Perkembangan zaman dengan keunikannya tersebut mempengaruhi perilaku seseorang, termasuk remaja. Pengaruh tersebut  dapat  bersifat  tentatif dan  dapat  juga bersifat  statif.  Hal  ini  akan  sangat memepengaruhi pola fikir (mindset) dan pola hidup (way of life) seorang remaja.  Remaja

sebagai generasi muda harapan bangsa merupakan salah satu modal dasar pembangunan bangsa dan negara dalam menghadapi persaingan di masa yang akan datang. Kondisi negara di masa mendatang akan ditentukan oleh kualitas generasi muda pada saat ini. Semakin berkualitas para generasi muda suatu bangsa, semakin maju bangsa dan negara tersebut. Untuk memperoleh generasi muda yang berkualitas tidaklah mudah karena harus melalui proses yang panjang dan berkesinambungan, serta kerja sama dari semua pihak yang bertanggung jawab terhadap pembinaan generasi muda, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan sampai pemerintah.

Peranan remaja atau generasi muda sebagai pilar penggerak pembawa perubahan, dan pengawal jalannya reformasi dan pembangunan sangat diharapkan. Sebab generasi muda adalah remaja yang nantinya akan menjadi tunas harapan dan modal pembangunan bangsa yang akan datang  (damayanty,  2012:3).  Menurut  syukur  (2008:27)  generasi  muda  atau  remaja  adalah mereka yang diidealkan sebagai sosok yang penuh energi, semangat, dan kreatif untuk menciptakan semangat pembaharuan. Hal ini berarti bahwa generasi muda atau pemuda merupakan remaja yang mempunyai daya pikir kreatif, inovatif, semangat, dan berani menyongsong pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Remaja adalah generasi penerus bangsa yang diharapkan dan digadanggadang akan membawa perubahan di masa depan dengan kualitas yang lebih baik. Dengan kata lain, apabila generasi mudanya baik, maka suatu negara akan maju dan berkembang dan sebaliknya jika generasi mudanya buruk, maka negara pun akan mundur dan hancur. Oleh karena itu, pembahasan dan pemahaman mengenai perkembangan remaja sebagai generasi perubahan bagi negara indonesia menjadi sangat penting dan mendesak. Alasannya adalah remaja merupakan aset masa depan suatu bangsa karena remaja saat ini adalah pemimpin pada saat indonesia berada pada bonus demografi tahun 2025.

Agar generasi remaja menjadi generasi yang bermanfaat bagi nusa,bangsa dan negara maka perlu diarahkan   supaya para remaja tidak salah arah, tidak salah dalam menjalani kehidupannya sebagai remaja dengan tidak menyakiti diri , tidak terlibat dalam pergaulan bebas, tidak menggunakan alkohol  dan tidak terlibat dalam dunia narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya. Namun pada masa masa revolusi industri 4.0 ini banyak remaja yang sikap dan perilakunya sangat memprihatinkan, terutama dalam masalah pergaulan sehari-harinya. Banyak remaja yang masih bersekolah terlibat dalam tindakan kriminal, seperti tawuran, minuman keras, perokok, narkoba, pakaian seksi atau kenakalan lainnya. Melihat fenomena kenakalan remaja tersebut maka itu kita harus berusaha memperhatikan dan memahami pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh anak di masa remaja dengan mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif dan informasi pentingnya menata masa depan dengan baik lewat meninggalkan perilaku yang tidak bermanfaat dan merusak masa depan remaja itu sendiri, salah satunya dengan upaya membantu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh remaja.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan dalam latar belakang, maka dapat diambil rumusan masalahnya adalah Bagaimana karakteristik dan pengembangan potensi remaja untuk mewujudkan remaja yang ideal sebagai generasi perubahan.

Berdasarkan rumusan masalah maka diturunkan menjadi tiga pertanyaan, yaitu:

  1. Bagaimana fase perkembangan dan problematika yang dihadapi pada usia remaja?
  2. Apa sajayang menjadi faktor penentu perkembangan remaja ?
  3. Bagaimana pengembangan potensi remaja sebagai resolusi untuk menjadi remaja yang ideal ?

C. Tujuan

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui permasalahan dan perkembangan yang dihadapi pada usia remaja dan hubungan pengembangan potensi yang dimiliki remaja untuk menata masa depan agar terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan remaja sebagai generasi perubahan.

HASIL PEMBAHASAN

      A. Konsep Karakteristik dan Pengembangan Potensi Remaja

  1. Fase remaja: problematika dan perkembangannya

Remaja berasal dari bahasa latin adolescence, yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence mempunyai arti yang lebih luas yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Definisi atau pengertian remaja memiliki banyak versi, tergantung karakteristik biologis atau sesuai dengan kebutuhan penggolongannya, namun pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 1992) yang proses peralihan tersebut mempengaruhi kondisi remaja dari segi fisik, psikologis dan intelektual.

Menurut WHO, yang disebut remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Batasan usia remaja menurut who adalah 12 sampai 24 tahun. Sedangkan menurut peraturan menteri kesehatan ri nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk  dalam  rentang  usia  10  sampai  18  tahun  dan  menurut  badan  kependudukan  dan keluarga berencana nasional (BKKBN),   rentang usia remaja adalah 10 sampai 24 tahun serta belum menikah. Dengan demikian remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun.

Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa, karena remaja sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun banyak kesalahan. Masa remaja dan dewasa muda merupakan masa dalam rentang kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai perubahan dan dinamika. Mulai dari perubahan secara fisik- biologis dari seorang anak menuju orang dewasa, yang secara natural membawa perubahan atau bahkan gejolak secara psikologis. Perubahan bentuk tubuh dan hormonal dapat mempengaruhi munculnya sebuah dinamika suasana hati dan perilaku. Tidak hanya itu, remaja dan orang muda juga  mengalami  perubahan-perubahan  sosial:  model  interaksi,  tanggung  jawab  dan  tuntutan sosial yang berbeda dengan ketika masa kanak-kanak. Tentunya semua ini memberikan dampak secara psikologis yang berpengaruh pada perilakunya.

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, Dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan- batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek. Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh bapak psikologi remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa

masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa  ada  empat  status  identitas  diri  pada  remaja   yaitu identity  diffusion/  confussion, moratorium,  foreclosure, dan identity  achieved (Santrock,  2003,  Papalia,  Dkk,  2001,  Monks, Dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

  1. a. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam geraka b.   Ketidakstabilan emosi.
  2. c. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup. d.   Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  3. e. Pertentangan    di    dalam    dirinya   sering   menjadi    pangkal    penyebab    ui’-ui

pertentangan-pertentang dengan orang tua.

  1. f. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  2. g. Senang bereksperimentas
  3. Senang bereksplorasi.
  4. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  5. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak- anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan- keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.

Perubahan psikososial pada remaja dibagi dalam tiga tahap yaitu remaja awal (early adolescent), pertengahan (middle adolescent), dan akhir (late adolescent).14,17- 19 periode pertama disebut remaja awal atau early adolescent, terjadi pada usia usia 12-14 tahun. Pada masa remaja awal anak-anak terpapar pada perubahan tubuh yang cepat, adanya akselerasi pertumbuhan, dan perubahan komposisi tubuh disertai awal pertumbuhan seks sekunder. 14,17-

19 karakteristik periode remaja awal ditandai oleh terjadinya perubahan-perubahan psikologis seperti:

        Krisis identitas

        Jiwa yang labil

        Meningkatnya kemampuan verbal untuk ekspresi diri

        Pentingnya teman dekat/sahabat

        Berkurangnya rasa hormat terhadap orangtua, kadang-kadang berlaku kasar

        Menunjukkan kesalahan orangtua

        Mencari orang lain yang disayangi selain orangtua

        Kecenderungan untuk berlaku kekanak-kanakan, dan

        Terdapatnya pengaruh teman sebaya (peer group) terhadap hobi dan cara berpakaian.

Berikut ini informasi mengenai tiga fase utama pada masa remaja berdasarkan tahap perkembangan usianya.

  1. Masa remaja awal (usia 10-13 tahun)

Fase remaja awal terjadi dalam rentang usia 10-13 tahun. Pada masa ini, anak tumbuh lebih cepat dan mengalami tahap awal puberty as. Anak mulai memerhatikan munculnya rambut ketiak dan kemaluan, pertumbuhan payudara,   keputihan, mulai menstruasi atau mimpi basah, dan testis yang membesar.

Anak juga mulai sadar mengenai penampilannya sehingga lebih memerhatikan hal  tersebut.  Ia  juga  akan  mulai  merasa  memerlukan  privasi  sehingga  membuatnya senang menyendiri dari keluarga. Biasanya, perubahan ini terjadi lebih dulu pada anak perempuan.

  1. Masa remaja pertengahan (usia 14-17 tahun)

Dalam masa remaja ini, pertumbuhan remaja laki-laki mulai berjalan cepat. Tubuhnya akan semakin tinggi dan berat, otot semakin besar, dada dan bahu semakin lebar, alat vital semakin besar, suara menjadi lebih pecah, muncul jerawat, kumis, hingga jambang. Pada anak perempuan, pinggang, panggul, dan bokong akan mulai membesar, alat reproduksi yang berkembang, bertambahnya produksi keringat, hingga menstruasi yang teratur.

Remaja pada masa ini umumnya sudah dapat berpikir dengan logika meski kerap didorong oleh perasaannya. Ia juga mulai tertarik dengan hubungan romantis (pacaran). Terkadang, sifat sensitifnya membuat ia lebih banyak bertengkar dengan orangtua. Selain itu, ia juga mungkin lebih senang menghabiskan waktu dengan teman.

  1. Masa remaja akhir atau dewasa muda (usia 18-24 tahun)

Pada masa remaja akhir, fisik anak telah sepenuhnya berkembang. Dalam masa ini, perubahan lebih banyak terjadi dalam dirinya. Ia mulai bisa mengendalikan dorongan emosional yang muncul, merencanakan masa depan, dan memikirkan konsekuensi yang akan ia hadapi jika melakukan perbuatan yang tidak baik.ia juga mulai memahami apa yang diinginkannya dan bisa mengatur diri sendiri, tanpa mengikuti kehendak orang lain.

Kestabilan emosi dan kemandirian ini umumnya didapatkan oleh anak pada masa remaja akhir.

Selain perubahan fisik yang dialami oleh remaja, ada juga masa dimana anak mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan. Pergaulan sesama teman lawan jenis dirasakan  sangat  penting,  tetapi  cukup  sulit,  karena disamping harus memperhatikan  norma pergaulan sesama remaja juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.

Tahap perkembangan psikososial menunjukkan perubahan emosional, sosial dan intelektual serta akibat dari perubahan itu terhadap remaja dan orang-tua. Tidak semua orang mengalami ciri khas seperti yang disebutkan, namun terdapat pola umum yang dapat dibagi menjadi remaja awal remaja pertengahan dan remaja akhir, batasan umur hanya merupakan pedoman dan variasinya tidak jauh dari yang digambarkan. Jika memahami apa yang dialami oleh remaja, maka seharusnya mampu bereaksi lebih positif ( Depkes, 2002).

  1. Faktor penentu perkembangan remaja

Pada jaman sekarang banyak hal-hal negatif yang dapat menjerumuskan remaja kejalan yang salah. Banyak remaja yang terjerumus ke pergaulan bebas. Faktor utama dari masuknya remaja kepergaulan bebas yaitu kurangnya perhatian dari orang tua. Terkadang orang tua terlalu sibuk dengan urusan mereka sehingga melupakan anak-anak mereka yang beranjak menajadi seorang remaja. Oleh sebab itu diperlukan pengontrol bagi perilaku remaja.

Pada masa remaja, remaja mudah terpengeruh dengan hal-hal yang baru mereka pahami, namun sayang terkadang remaja tidak bisa membedakan apakah itu baik untuknya atau tidak. Remaja juga sudah mulai mengatahui kehidupan sosial, ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Remaja sering mengalami sikap hubungan sosial yang tertutup sehubungan dengan masalah yang dialaminya. Menurut erick erison “bahwa masa remaja terjadi masa krisis,  masa pencarian  jati  diri.  Dia berpendapat  bahwa penemuan  jati  diri  seseorang didorong oleh sosiokultural”. Sedangkan menurut freud, “kehidupan sosial remaja didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksual”. Pergaulan remaja banyak di wujudkan dalam bentuk kelompok-kelompok, baik kelompok besar maupun kelompok kecil.(Ahmad Dahlan:2015)

Selain itu masa remaja merupakan masa dalam rentang kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai perubahan dan dinamika. Mulai dari perubahan secara fisik-biologis dari seorang anak menuju orang dewasa, yang secara natural membawa perubahan atau bahkan gejolak secara psikologis. Perubahan bentuk tubuh dan hormonal dapat mempengaruhi munculnya sebuah dinamika suasana hati dan perilaku. Tidak hanya itu, remaja dan orang muda juga mengalami perubahan-perubahan sosial: model interaksi, tanggung jawab dan tuntutan sosial yang berbeda dengan ketika masa kanak-kanak. Tentunya semua ini memberikan dampak secara psikologis yang  berpengaruh  pada  perilakunya.  Mereka  adalah  juga  generasi  yang  sebentar  lagi  akan

menerima tongkat  estafet  kehidupan dari  generasi  sebelumnya untuk  mengisi  alam  semesta ciptaannya, untuk meneruskan perjalanan sebuah bangsa. Oleh karenanya membina generasi muda yang ceria bahagia, mempunyai motivasi tinggi dan tangguh menghadapi berbagai gejolak perubahan menjadi sangat penting. Kesehatan jiwa generasi muda akan mencerminkan kesehatan dan masa depan sebuah bangsa.

  1. Pengembangan potensi remaja sebagai resolusi

Keberhasilan suatu negara bisa dilihar dari kualitas bangsanya. Pemuda memiliki peran yang besar bagi perubahan-perubahan sosial di lingkungannya dan sering disebut sebagai agent of  change (agen  perubahan).  Tentunya  untuk  menjadi  remaja  yang  ideal  sebagai  generasi perubahan perlu bimbingan dan arahan sebagai upaya agar remaja dapat memiliki kemandirian untuk bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri. Kemampuan kemandirian seperti ini tidak hanya menyangkut aspek akademis, tetapi juga menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, Kematangan intelektual, dan sistem nilai.

Ada  dua  pilihan  bagi  generasi  muda  untuk  mengisi  masa  depan.  Pertama  menjadi generasi penerus atau generasi pelopor perubahan atau generasi pembaharu. Maka perlu pengembangan   potensi   yang  dimiliki   remaja  dengan   membiasakan/mengkondisikan  agar memiliki kecakapan dan keterampilan hidup. Untuk dapat mengembangkan, sebelum ataupun bersamaan dengan usaha kongkrit dilakukan, sangat perlu adanya pengertian dan pemahaman para pendidik terhadap remaja. Kecakapan dan keterampilan yang dimaksud berarti luas, baik kecakapan personal (personal skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri sendiri (self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), maupun kecakapan vokasional (vocational skill).

Selama ini orang selalu menilai seorang remaja berbakat dan pintar hanya dari nilai yang diperoleh di sekolah, sehingga jika seorang remaja mendapatkan nilai yang kurang dengan cepat orang akan mengatakan bahwa si remaja bodoh dan tidak memiliki potensi apa pun. Pandangan dan penilaian semacam ini sangat keliru dan menyesatkan. Akibat pandangan keliru itu si remaja tidak dapat mengembangkan dan menemukan potensi yang ada dalam dirinya. Profesor howard gardner dari universitas harvard telah mengembangkan model kecerdasan yang disebut multiple intelligence lebih 20 tahun. Ia tiba pada satu pandangan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap. Kecerdasan akan lebih tepat kalau digambarkan sebagai suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan. Kecerdasan bersifat laten, ada di diri tiap manusia tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Dalam menjelaskan mengenai kecerdasan, ia menggunakan kata ‘bakat’ atau ‘talenta’. Konsep multiple intelligence yang dikembangkannya terdiri atasi delapan jenis kecerdasan, yaitu:

  1. Kecerdasan linguistik, kemampuan dalam bidang bahasa.
  2. Kecerdasan matematika  dan  logika,  kemampuan  dalam  berpikir  abstrak  dan terstruktur.
  3. Kecerdasan visual  dan  spasial,  kemampuan  yang  berhubungan  dengan  gambar, diagram, peta, maupun grafik.
  4. Kecerdasan musik, kemampuan yang sangat kreatif dalam hal musik.
  5. Kecerdasan interpersonal, mampu bergaul dan beradaptasi dengan cepat, mampu menjadi mediator, dan pintar dalam hal berkomunikasi
  6. Kecerdasan intrapersonal,  kemampuan  untuk  dapat  mengerti  diri  sendiri  serta kemampuan untuk memperhatikan nilai dan etika hidup.
  7. Kecerdasan kinestetik, ahli dalam hal-hal yang berhubungan dengan fisik, pekerjaan tangan dan dalam hal mengelolah suatu objek.
  8. Kecerdasan naturalis, kemampuan untuk mencintai alam dan berinteraksi dengan hewan maupun tumbuhan

Pengembangan potensi seorang remaja hendaklah memperhatikan hal-hal tersebut. Meniadakan atau mengesampingkan salah satu aspek di dalamnya merupakan pekerjaan sia-sia dalam usaha menggali potensi seorang remaja. Perlu dukungan dari orangtua dan guru dalam mengembangkan potensi yang ada dalam diri seorang remaja sehingga bisa meraih semua impian masa depan dan menjadi remaja ideal sebagai generasi perubahan.

 

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Masa  remaja  adalah  suatu  masa  peralihan  dari  masa  kanak-kanak  ke  masa  dewasa, dimana seseorang mengalami banyak perubahan yang mendadak baik fisik, emosi maupun sosial yang akan menyebabkan munculnya masalah. Remaja memiliki peran yang sangat penting bagi maju dan mundurnya suatu peradaban. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran, pemahaman dan kajian mengenai profil remaja yang ideal. Namun secara realitas, problematika remaja berkembang dinamis bahkan cenderung mengkhawatirkan. Dengan demikian, perlu penanganan yang segera untuk membangun peradaban sekaligus investasi jangka panjang.

Agar generasi remaja menjadi generasi yang bermanfaat bagi nusa,bangsa dan negara maka perlu diarahkan supaya para remaja tidak salah arah, tidak salah dalam menjalani kehidupannya sebagai remaja dengan tidak menyakiti diri, tidak terlibat dalam pergaulan bebas, tidak menggunakan alkohol  dan tidak terlibat dalam dunia narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan berusaha memperhatikan dan memahami pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh anak di masa remaja dengan mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif dan informasi pentingnya menata masa depan dengan baik, salah satunya dengan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh remaja.

 

DARTAR PUSTAKA

 

Fagan. (2006). Psikologi Remaja. PT Gramedia

Gunarsa, D dan Gunarsa,. 1989. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan. Jakarta : Gramedia.

Hurlock, Elizabeth B. 1981. Developmental Psychology Life Span Approach. Fifth

Edition. New Delhi : Tata Mc. Graw Hill.

Hurlock, E. B. 1992. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga Khatimah, T. 2002. Merawat lansia, Tanggung Jawab Siapa? Diperoleh dari http // www. e-psikologi.com

Monks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan:

Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press

Monks, dkk. 2006. Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya.

Yogyakarta: UGM Press

Santrock. (2007). Perkembangan anak jilid 2. Jakarta: Erlangga.


Oleh: Yenni Erliza Mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas  Teknologi Sumbawa