MENUJU 14 % STUNTING TAHUN 2024

Sejak awal tahun 2021 Pemerintah telah menunjuk  Kepala BKKBN sebagai  Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting. Dengan penunjukkan ini maka semua jajaran BKKBN baik dari pusat sampai kelini lapangan akan bekerjama untuk menurunkan angka stunting ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional. Komitmen ini terwujud dalam masuknya stunting ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024 dengan target penurunan yang cukup signifikan dari kondisi 27,6 persen pada tahun 2019 diharapkan menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Prevalensi stunting diindonesia

Tahun  2007            36,8 persen

Tahun 2010             35,6 persen

Tahun 2013              37,2 persen

Tahun 2018              30,8 persen

Tahun 2019              27,6 persen

Diantara 5 juta kelahiran bayi setiap tahun, sebanyak 1,2 juta bayi lahir dengan kondisi stunting  (.Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG. (K) ).Angka Prevalensi adalah perbandingan dari jumlah  bayi balita dengan jumlah anak yang stunting.Target Penurunan Stunting Rata –rata 2,5 % dalam setahun ,berarti sejak tahun 2020 sampai tahun 2024 target  penurunan mencapai 10 %.Dalam mengatasi stunting, BKKBN siap mengerahkan dukungan 13.734 tenaga PKB/PLKB dan satu juta kader yang tersebar di seluruh Indonesia. PLKB nantinya akan menjalankan pendampingan kepada keluarga .Tim Pendampingan Keluarga akan memberikan edukasi kepada keluarga baik itu calon pengantin,pasangan usia subur maupun remaja khususnya remaja putri yang akan menikah dan hamil serta melahirkan.

Apa itu stunting ??

“Stunting disebabkan oleh kurangnya nutrisi sejak bayi dalam kandungan dan masa awal setelah lahir sehingga mengakibatkan masalah kesehatan sepanjang hayat.

“Pengertian stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah rata-rata untuk usianya

“Stunting merupakan bentuk kekurangan gizi kronis berkepanjangan. Anak Indonesia pada umumnya tidak kekurangan makan, tetapi rendahnya kesadaran akan gizi seimbang mengakibatkan mereka hanya mendapat asupan makanan pokok dengan sedikit protein atau sayuran. Banyak orang tua juga tidak memahami pentingnya ASI, sebaliknya mengandalkan susu formula bagi bayi.

“Stunting sering dimulai di dalam rahim karena pola makan ibu yang buruk, tetapi gejalanya biasanya tidak muncul sampai anak berusia sekitar dua tahun, ketika menjadi jelas bahwa anak tersebut tidak tumbuh secepat yang seharusnya. (Dari berbaga sumber )

Penyebab Stunting

1.Gizi buruk pada ibu hamil

2 Kurangnya Akses air bersih

3.Terbatasnya Akses layanan Kesehatan

Dampak Individual

1.Tumbuh kembang Terganggu

2.Resiko rentan penyakit

3.Kapasitas intelektual rendah

4.Produktivitas rendah

5.Daya saing menurun

 

Penanganan Stunting di Lombok Timur

Data Terakhir menunjukkan Prevalensi stunting di Lombok Timur sekitar 20,48 % keberhasilan penurunan stunting itu dapat dilihat dari hasil elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) yang dilakukan setiap tahun. Pada tahun 2019 dari 64,09% balita diukur dan diverifikasi, ditemukan sebanyak 26,10% menderita stunting. Pada tahun 2020 dari 85,24% balita diukur dan diverifikasi, ditemukan sebanyak 20,59% yang mengalami stunting dan sampai bulan Mei 2021 dari 88,57% balita diukur dan diverifikasi, ditemukan sebanyak 20,48% menderita stunting.Program Percepatan Penurunan Stunting di 62 desa lokasi fokus kegiatan  berjalan dengan baik ( sumber ntb news) .Kalau dilihat penurunan ini sangat signifikan melihat pada tahun 2019 prevalensi stunting berkisar 26,10, berarti selama kurun waktu 2 tahun  turun sampai angka 6 % , Meskipun ada penambahan lokasi pokus kegiatan baru sebanyak 29 Desa /Kelurahan tapi tidak akan meninggalkan lokasi pokus lama sebanyak 62 Desa/Kelurahan. Hal ini dapat dicapai sebagai hasil kerja sama semua pihak. Sementara itu  Untuk mengejar target 14 %  tahun 2024 ,Dinas Pemberdayaan Perempuan  Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB ) kabupaten Lombok Timur sedang  gencarnya membuat Tim Pendampngan Keluarga ( TPK ) yang direkrut dari PKK,Kader dan dari unsur Kesehatan. Jumlah Tim yang dibentuk sebanyak 1021 Tim dengan personil 3063 orang,setiap Tim beranggotakan 3 orang. Setiap Tim akan mendampingi 350 keluarga dimasing masing Desa maupun Kelurahan walaupun tidak termasuk dalam lokasi pokus stunting. Hal ini dimaksudkan  untuk melakukan pencegahan sedini mungkin agar tidak bertambah jumlah angka stunting.Target Keluarga sebanyak 439.248, tapi yang terdata 372.332 jadi selisih sekitar 66,916 keluarga yang tidak mendapatkan pendampingan.

Hal hal yang akan dilakukan oleh Tim pendampingan

  1. Mendeteksi dini faktor resiko stunting
  2. Pendampingan dan survei
  • Penyuluhan
  • Fasilitasi pelayan rujukan
  • Penerimaan bantuan sosial

Tim pendampingan keluarga secara umum melakukan pendampingan kepada keluarga dengan cara mengidentifikasi faktor resiko stunting dan melakukan komunikasi,informasi dan edukasi,serta pelayanan kesehatan untuk pencegahan stunting.

Tim Pendampingan secara khusus yaitu

  • Melakukan scerening kepada calon pengantin ( Catin ).
  • Melakukan pendampingan kepada semua ibu hamil.
  • Melakukan pendampingan pasca salin.
  • Melakukan pendampingan pengasuhan dan tumbuh kembang anak balita.
  • Memastikan keluarga mendapatkan bantuan sosial yang dimanfaatkan dengan benar.

Jangan terlalu muda untuk hamil kurang dari 20 tahun, jangan terlalu tua untuk hamil lebih dari 35 tahun dan terlalu sering  hamil lagi dan terlalu banyak. Berencana itu Keren..

 

Oleh : Iva Nirmala ,PKB Madya Kec Selong