PROGRAM PEMBANGUNAN KELUARGA, KEPENDUDUKAN dan KELUARGA BERENCANA (BANGGA KENCANA) DARI SISI HUKUM ISLAM

Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia disebabkan oleh ketidakseimbangan dimana tingginya angka kelahiran di satu pihak dan lebih cepatnya kematian di lain pihak. Jumlah penduduk yang banyak dan tidak disertai dengan ketersediaan lapangan kerja yang mampu menampung semua angkatan kerja bisa menimbulkan pengangguran, kriminalitas yang bersinggungan pula dengan rusaknya moralitas masyarakat. Ledakan penduduk ini terjadi karena laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Kondisi ini jelas menimbulkan dua sisi yang berbeda. Disatu sisi kondisi tersebut bisa menjadi salah satu kekuatan yang besar untuk Indonesia. Tetapi di satu sisi kondisi tersebut menyebabkan beban negara menjadi semakin besar. Selain menjadi beban negara juga menimbulkan permasalahan lain. Banyaknya jumlah penduduk yang tidak disertai dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang mampu menampung seluruh angkatan kerja bisa menyebabkan terjadinya pengangguran, kriminalitas yang bersinggungan pula dengan rusaknya moralitas masyarakat.

Karena berhubungan dengan tinggi rendahnya beban negara untuk memberikan penghidupan yang layak kepada setiap warga negaranya, maka pemerintah memberikan serangkaian usaha untuk menekan laju pertumbuhan penduduk agar tidak terjadi ledakan penduduk yang lebih besar. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menggalakkan program Bangga Kencana.

Program Bangga Kencana adalah pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana. Yang merupakan program dari BKKBN, yang berfokus untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas di Indonesia, salah satu tujuan dari program ini adalah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, untuk mengarahkan agar keluarga mempunyai rencana berkeluarga, punya anak, merencanakan mengatur jarak kelahiran, pendidikan dan sebagainya sehingga akan terbentuk keluarga – keluarga yang berkualitas.

Pelaksanaan program “Bangga Kencana” ini dilaksanakan adalah untuk mengurangi jumlah pernikahan dini atau pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berusia dibawah 20 tahun. Program “Bangga Kencana” tidak hanya mengajak para akseptor untuk memasang alat kontrasepsi, namun juga upaya peningkatan pendapatan yang bersinergi dan berkolaborasi dengan perangkat daerah berjalan bersama.

Meskipun demikian, masih banyak dari kalangan masyarakat yang menolak diberlakukannya program keluarga berencana, ini karena beberapa menganggap KB adalah hal yang tabu dan dilarang oleh agama. Khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam. Salah satu tujuan dari perkawinan adalah untuk mencapai suatu kebahagiaan dan mengembangkan keturunan dan tercapainya sakinah dalam keluarga. Mayoritas ulama ada yang membolehkan dan melarang tentu dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Tidak tanggung – tanggung, KB diberlakukan kepada seluruh lapisan masyarakat, dari lapasan bawah hingga lapisan atas dalam tatanan masyarakat.

Pembahasan

  1. Analisis Hukum Islam Terhadap Program Tribina  

a. BKB (Bina Keluarga Balita) dalam Hukum Islam

Program ini merupakan upaya peningkatan kesadaran para ibu dan anggota keluarga lainnya dalam memaksimalkan “usia emas balita” yakni masa ketika otak bayi sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat melalui bina tumbuh kembang anak balita. Upaya ini dapat dilakukan melalui kegiatan rangsangan fisik, mental, emosional, intelektual, dan sebagainya.

Pendidikan terhadap balita bisa dilakukan semenjak anak dalam kandungan, dengan cara ibu menjaga kesehatannya dengan nutrisi yang cukup, membiasakan perilaku yang karimah, menjaga emosinya dan lain sebagainya.

Terdapat dua aspek penting yang harus ditanamkan kepada anak – anak usia dini, baik laki – laki maupun perempuan, yakni aspek iman dan akhlak. Oleh karena itu, beberapa isyarat dan petunjuk tentang pendidikan anak sebagaimana yang dikisahkan dalam al-Qur’an QS. Al – Luqman : 13, bahwa yang pertama diajarkan adalah tauhid (mengenal Tuhan) disusul kemudian dengan pendidikan akhlaq (QS. Al – Luqman :14 – 17) menemukan relevansinya dengan potensi yang dimiliki anak.

Demikian juga Nabi Muhammad s.a.w sendiri ketika pertama kali mendidik umatnya juga menekankan aspek akidah baru disusul akhlak. Dengan pembiasaan yang baik sejak anak usia dini, akan sangat mempengaruhi dan bahkan membentuk pribadi muslim sebagaimana dicitakan oleh Islam. Dalam konteks inilah, maka orang tua berkewajiban untuk menggali dan mengembangkan potensi rohaniah anak melalui pendidikan shalat ketika anak usia (7) tahun dan memberikan peringatan keras bagi mereka ketika sudah berusia (10) tahun namun meninggalkannya, serta memisahkan ranjang antara anak laki – laki dan perempuan (HR. Al – Tirmidzi). Dalam konteks hadits ini membiasakan dan mendidik kedisiplinan anak sejak usia dini menjadi penting dilakukan. Di samping itu, melatih anak agar potensi jasmaniahnya berkembang juga diisyaratkan agar orang tua mengajari anaknya (baik laki – laki maupun perempuan) berenang dan memanah (HR. Al–Baihaqi). Dengan orientasi pendidikan yang demikian, diharapkan kedua aspek (jasmaniah – rohaniah) tersebut bisa berkembang secara beriringan.

Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa mendidik anak – anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Nabi Muhammad s.a.w dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak – anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.

Berdasarkan hal tersebut, maka program bina keluarga balita sudah sesuai dengan hukum Islam. Orang tua dan keluarga berkewajiban merawat dan mendidik balitanya. Dengan mengetahui cara mendidik balita yang baik, orang tua diharapkan mampu merawat balitanya dengan baik, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pendidikan balita.

b. BKR (Bina Keluarga Remaja) dalam Hukum Islam

Usia remaja yang berlangsung sekitar 9 tahun 14 tahun, adalah masa – masa dimana mereka sesungguhnya tengah mengalami sejumlah problema internal, baik dari aspek fungsi – fungsi reproduksinya maupun mentalnya. Banyak orang menyebut masa remaja sebagai masa transisi, masa mencari identitas diri dan sebutan lainnya. Masa transisi ini ditandai dengan perubahan – perubahan fisik, perubahan hormonal dan mulai berfungsinya organ – organ reproduksi yang segera mengantarkannya pada proses menstruasi, mimpi basah, jerawatan, bau badan, dan sebagainya.

Perubahan – perubahan ini hampir selalu menjadi problem internal mereka yang tidak banyak diketahui orang lain. Ada ketakutan – ketakutan, kecemasan, keresahan, dan sebagainya yang menghinggapi mereka. Sangat disayangkan, banyak orang tua yang tidak memahami mereka pada saat – saat ini, remaja tengah membutuhkan perhatian, membutuhkan orang yang bisa menjadi wadah bagi keluh kesah dan keresahan mereka. Mereka butuh dipahami orang lain, terutama orang tuanya, bukan dimarahi dan disalahkan. Ketika orang tua tidak memahami problema tersebut dan ketika orang tua tidak bisa menjadi tempat mengadu dan menumpahkan keresahan dan kesulitan anak – anaknya, para remaja mencari pelarian ke ruang dan waktu yang lain. Hal yang membahayakan adalah manakala ruang dan waktu pelarian mereka tidak kondusif untuk menciptakan perilaku – perilaku positif dan produktif.

Bersama dengan hal di atas, ada pula problem di mana wacana keagamaan yang berkembang di sekitarnya juga memberikan tekanan – tekanan psikologis. Pada sisi lain, anak – anak, termasuk remaja, wajib berbakti kepada orang tuanya, mereka harus menurut, dan taat kepada orang tuanya. Wacana keagamaan ini selalu diinterpretasikan sendiri oleh orang tuanya sesuai dengan kehendak dan kepentingannya tanpa memperdulikan hak – hak anak. Ini boleh jadi merupakan bentuk lain dari kekerasan terhadap mereka atas nama agama.

Dalam Islam, keluarga berperan penting dalam pembinaan remaja. Pengajaran tentang konsep bulugh dan implikasinya dalam ibadah, aurat, dan berinteraksi sesama manusia sebaiknya diajarkan melalui keluarga. Karena itu program KB yang berkaitan dengan bina keluarga remaja sesuai dengan prinsip hukum Islam. Dengan berperannya keluarga dan masyarakat dalam memperhatikan dan membimbing remaja dengan baik, diharapkan mampu menciptakan generasi bangsa yang unggul dan berkualitas.

c. BKL (Bina Keluarga Lansia) dalam Hukum Islam

Orang tua memiliki jasa yang sangat besar terhadap anak – anaknya. Begitu besarnya jasa orang tua terhadap anaknya, maka Allah mewajibkan kepada anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Bahkan dalam QS. Lukman ayat 14, berbakti kepada orang tua menempati kedudukan kedua setelah pengagungan kepada Allah SWT. Begitu juga dalam QS. Al- Isra’ ayat 23, Allah menjelaskan tentang larangan melakukan perbuatan dan perkataan yang buruk kepada kedua orang tua.

Banyak cara dilakukan anak sebagai wujud berbakti kepada kedua orang tua, di antaranya : mentaati keduanya selain, berbuat baik, tawadhu’, berkata halus, memberi makan, meminta izin ketika bepergian untuk jihad, memberi harta ketika mereka meminta, tidak bermuka buruk atau masam di hadapan keduanya.

Berbakti kepada kedua orang tua memiliki keutamaan, yaitu : termasuk amalan yang mulia, merupakan salah satu sebab diampuninya dosa – dosa, salah satu penyebab masuk surga, merupakan sebab keridhoan Allah, merupakan sebab bertambahnya umur, dan merupakan sebab barokahnya rizki.

Berdasarkan hal tersebut, maka program bina keluarga lansia tidak bertentangan dengan hukum islam. Karena menghormati orang tua dan merawatnya dengan baik merupakan bagian dari kewajiban anak terhadap orang tuanya.

  1. Analisis Hukum Islam terhadap Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UUPKS)

Islam telah mengajarkan bahwa motivasi dan alasan bekerja adalah dalam rangka mencari karunia Allah SWT. Tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan harta agar seseorang dapat memenuhi kebutuhannya, menikmati kesejahteraan hidup dan perhiasan dunia. Pekerjaan yang dilakukan tersebut haruslah pekerjaan yang halal agar aktifitas bekerja ini juga bernilai ibadah.

Tentunya dalam pandangan Islam agar harta yang didapatkan dari bekerja tersebut menjadi kepemilikan yang sah. Bekerja bukan merupakan sebab mendapatkan harta melainkan perwujudan dari pelaksanaan perintah syara’. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S al – Jumu’ah ayat (10) : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak – banyak supaya kamu beruntung”.

Dalam perspektif Islam, sistem perekonomian mengandung aturan – aturan Syara’ yang dapat mengatur kehidupan perekonomian suatu rumah tangga, masyarakat, dan umat Islam secara keseluruhan. Ketentuan perekonomian Islam mencakup peraturan tentang pendapatan, pengeluaran (pembelanjaan), penyimpanan, penabungan dan pemilikan. Ketentuan – ketentuan itu mengatur perekonomian rumah tangga muslim agar dapat mewujudkan tujuan – tujuan umum hukum Islam, yaitu memelihara akal, agama, keturunan, kehormatan, dan harta disamping agar dapat mewujudkan pemenuhan kebutuhan spritual dan pemenuhan kebutuhan material.

Keuangan rumah tangga sedikit banyak berasal dari kontribusi laki – laki atau suami sebagai kepala rumah tangga yang bertugas sebagai pencari nafkah, sedangkan adakalanya wanita hanya berperan sebagai pengelola keuangan. Namun, dewasa ini banyak wanita yang memainkan peran ganda dalam kehidupan rumah tangga yaitu sebagai pengelola dan juga sebagai penghasil keuangan baik itu sebagai wanita karier ataupun sebagai pengusaha. Sebagian perempuan menyatakan persamaan hak sebagai alasan mengapa mereka bekerja. Dalam kerangka emansipasi perempuan, sebagian istri bekerja menganggap bahwa peranan mereka dalam pembangunan bangsa dan negara tidaklah optimal kalau hanya sebagai ibu rumah tangga. Secara umum alasan perempuan bekerja adalah untuk membantu ekonomi keluarga. Keadaan perekonomian yang semakin tidak menentu, harga – harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat, pendapatan keluarga yang cenderung tidak meningkat akan berakibat pada terganggunya stabilitas perekonomian keluarga.

Dalam agama Islam, perempuan dibolehkan bekerja selama pekerjaannya itu tidak menyampingkan keluarga, telah dijelaskan dalam kitab al – Qur’an (al-rijalu qawwamuna ala an – nisa’). Dalam al – Qur’an dijelaskan bahwa “kaum laki – laki memperoleh bagian dari hasil usaha mereka dan kaum perempuan memperoleh pula bagian dari usaha mereka.” Al – Qur’an menegaskan bahwa laki – laki dan perempuan sama – sama berhak memperoleh pekerjaan yang layak, sehingga mereka juga memperoleh upah kerja yang layak pula.

Selain bekerja, suami istri dalam rumah tangga hendaknya pandai mengelola keuangan. Keuangan keluarga yang dikelola dengan baik akan menciptakan keharmonisan dan keluarga yang memuliakan Allah SWT. Terkait dengan hal tersebut, al – Qur’an telah menyatakannya dalam beberapa ayat, antara lain dalam : (1) Q.S 4(an – Nisa’) : 9, dinyatakan bahwa hendaklah takut orang – orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. (2) Q.S. 2 (al-Baqarah): 240, dinyatakan bahwa orang – orang yang akan mati di antara kamu dan meninggalkan istri – istri, hendaklah membuat wasiat untuk istri – istrinya, yaitu nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah). (3) QS. 59 (al-Hasyr): 18, dinyatakan bahwa orang – orang yang beriman hendaklah bertakwalah kepada Allah, juga setiap orang hendaklah memperhatikan apa – apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. (4) QS. 5 (al – Maidah): 2, dinyatakan bahwa hendaklah kalian tolong – menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong – menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.

Hal – hal tersebut di atas adalah dasar – dasar hukum yang dapat digunakan untuk memberikan suatu solusi alternatif terhadap pengelolaan keuangan keluarga berdasarkan prinsip – prinsip Islam. Jika keuangan keluarga tidak dikelola dengan baik maka keluarga tersebut secara finansial akan mengalami berbagai keterbatasan, dan tentunya akan mengakibatkan tekanan emosional, mental, sosial, hubungan spritual, dan malas meningkatkan potensi dan keterampilan, bahkan dapat menyebabkan perceraian dalam rumah tangga.

Berdasarkan hal tersebut, maka program mengembangkan ekonomi keluarga diperbolehkan dalam Islam. Namun, yang perlu diperhatikan adalah usaha tersebut terhindar dari hal – hal yang diharamkan dalam bisnis Islam, seperti riba dan gharar.

  1. Analisis Hukum Islam terhadap Program PIK- R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja)

Ada sejumlah definisi yang diberikan orang untuk remaja. Departemen kesehatan, misalnya, memberikan rumusan bahwa remaja adalah mereka yang berusia 10 – 19 tahun dan belum kawin atau nikah. Akan tetapi, belakangan rumusan tersebut berubah, karena usia 19 tahun ternyata tidak menjamin remaja telah menonjol kondisi yang sehat secara fisik, mental dan sosial untuk proses reproduksi, WHO (world health organisation) kemudian meningkatkan cakupan usia remaja menjadi sampai berumur 24 tahun.

Ada sejumlah pandangan yang perlu dikemukakan guna memberikan jalan keluar bagi problematika remaja di dalam keluarganya. Pertama, memberikan informasi yang benar kepada mereka sehubungan dengan proses – proses perubahan yang sedang terjadi pada tubuh dan emosi mereka. Untuk hal ini, maka diperlukan pengetahuan yang cukup dari orang tua untuk dapat memahami fungsi – fungsi reproduksi dan hal – hal yang berkaitan dengan seksualitas mereka serta ada keterbukaan untuk membicarakannya.

Kedua, memberikan penghargaan, karena mereka sudah bukan anak – anak lagi, dan karena mereka merasa mampu berfikir dan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Yang diperlukan orang tua adalah memberikan arah bagi kecenderungan positif mereka dengan argumen yang dapat dipahami.

Ketiga, memberikan perhatian yang sungguh – sungguh, karena mereka tengah mengalami perubahan – perubahan transisional pada aspek emosi yang tidak mereka sadari. Pada sisi lain, mereka juga tengah mencari kepribadian atas diri mereka sendiri. Yang diperlukan dalam hal ini adalah komunikasi yang baik dan terbuka dengan mereka, tidak melayaninya dengan cara emosional.

Keempat, memberikan pendampingan dan panutan yang mampu memberikan keteladanan bagi mereka. Keteladanan merupakan cara paling efektif dari orang tua terhadap anaknya.

Kelima, menciptakan ruang – ruang keluarga yang familier, ramah dan ruang religius. Religiusitas tidak hanya dibatasi pada aktifitas keagamaan personal atau ritual semata, tetapi juga relasi antar personal di bawah kerangka kemanusiaan (akhlak karimah).

Berdasarkan hal tersebut, maka program PIK – R sudah sesuai dengan hukum islam. Bahwa para remaja harus mengerti apa yang sudah boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilakukan. Karena itu, demi kemaslahatan bersama maka pendampingan bagi para remaja sangat dianjurkan agar mereka menjadi generasi yang unggul, yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

  1. Analisis Hukum Islam Terhadap Program Keluarga Berencana

Pada dasarnya keluarga berencana juga mempunyai arti sama dengan istilah Arab (Pengaturan keturunan/kelahiran) bukan pembatasan kelahiran. Program KB  merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera. Sesuai dengan UU Nomor 10 Tahun 21992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, disebutkan bahwa program KB adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (UU 10/1992). Keluarga berencana juga berarti mengontrol jumlah dan jarak kelahiran anak, untuk menghindari kehamilan yang bersifat sementara dengan menggunakan kontrasepsi sedangkan untuk menghindari kehamilan yang sifatnya menetap bisa dilakukan dengan cara sterilisasi.

Dalam kaitannya dengan keluarga berencana, sesungguhnya al – Qur’an tidak berbicara langsung tentang keluarga berencana, namun hanya membicarakan kerangka etis bagi isu yang muncul. Menurut kalangan islam yang mendukung KB, sikap diam al – Qur’an terhadap isu KB merupakan simbol persetujuan Islam. Tokoh yang berpandangan demikian antara lain adalah Fazlur Rahman. Menurutnya, ayat – ayat al –Qur’an yang perlunya mengontrol tingkat populasi kita dan perlunya mempersiapkan masa depan kita bersama tidak lain pada dasarnya adalah isyarat pentingnya dilaksanakan program KB.

Peran program KB sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan reproduksi seseorang, baik itu untuk kesehatan reproduksi wanita maupun kesehatan reproduksi pria. Peran KB bagi kesehatan reproduksi wanita diantaranya yaitu menghindari dari bahaya infeksi, komplikasi masa puerpureum (nifas), serta terjadinya pendarahan yang disebabkan karena sering melakukan proses persalinan. Selain itu program KB juga bertujuan untuk mengatur umur ibu yang tepat untuk melakukan proses persalinan, sebab jika umur ibu terlalu muda atau terlalu tua ketika persalinan, hal ini akan sangat beresiko mengakibatkan pendarahan serius yang bisa mengakibatkan kematian bagi ibu maupun bayi.

Program KB juga berperan bagi kesehatan reproduksi pria antara lain untuk mencegah terkena Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti : sifilis, gonorhea, dll. Selain itu program KB juga dimaksudkan untuk membantu pria yang mengalami gangguan disfungsi seksual serta membantu pasangan yang telah menikah lebih dari setahun tetapi belum juga memiliki keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.

Para ulama memiliki pandangan bahwa hukum KB dalam Islam adalah “haram” jika tujuannya untuk membatasi kelahiran, karena di Islam tidak ada pembatasan kelahiran. Allah SWT memberikan perintah agar para perempuan dan keluarganya bisa memiliki keturunan yang banyak dan kuat untuk Islam. Akan tetapi hukum KB bisa menjadi “mubah” atau boleh apabila dengan kehamilan dapat membahayakan.

Menurut Abu Zahrah, Islam menganjurkan pernikahan dan dalam proses pernikahan seorang laki – laki hendaknya mencari seorang wanita yang subur, yang bisa memiliki banyak keturunan. Hal tersebut tertera dalam al – Qur’an dan hadis.

Dengan perkembangan zaman, selain azl terdapat penggunaan alat kontrasepsi untuk mengatur atau membatasi keturunan, ulama pun berselisih pendapat mengenai hal tersebut, begitu juga dengan ulama di tanah air. Mayoritas ulama membolehkan KB dengan menggunakan alat kontrasepsi selain vasektomi dan tubektomi.

Ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) membatasi bolehnya penggunaan alat kontrasepsi selama tidak mematikan fungsi keturunan secara mutlak. Jika proses penjarangan (jarak) kelahiran merusak atau menghilangkan bagian tubuh yang berfungsi, itu hukumnya haram. Dengan mengambil hukum bolehnya kontrasepsi sementara, ulama NU pada dasarnya juga memperbolehkan penggunaan spiral (IUD). Namun, syarat penggunaan IUD sangat ketat.

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam keputusannya tentang KB memberikan pandangan secara umum. Beberapa poin yang mesti diperhatikan menurut Majelis Tarjih adalah pencegahan kehamilan yang berlawanan dengan ajaran Islam jika niatnya memang segan memiliki anak. Selain itu yang dilarang juga merusak atau mengubah fisik, seperti memotong, mengikat dan sebagainya. Melakukan penjarangan (jarak) kelahiran diperbolehkan menurut Muhammadiyah jika ada kondisi darurat atas pertimbangan kesehatan. Namun, itu harus dengan persetujuan suami – istri dengan sudah meminta pertimbangan dokter ahli dan ahli agama. Kondisi darurat yang dimaksud diatas dijabarkan Majelis Tarjih dengan dua hal. Pertama, mengkhawatirkan kesehatan ibu karena mengandung atau melahirkan sesuai keterangan dokter. Kedua, mengkhawatirkan keselamatan agama akibat faktor kesempitan kehidupan, termasuk ekonomi, sehingga dikhawatirkan kaum Muslimin jatuh dalam menerima hal – hal yang haram dengan alasan memenuhi kebutuhan anak.

ANALISIS PENULIS MENGENAI PEMBAHASAN TERSEBUT

 Program Tribina

Setelah penulis menguraikan dan memaparkan materi diatas. Dalam program Tribina : Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia sudah sesuai dengan hukum Islam. Karena mendapatkan pelatihan dalam merawat balita sangatlah dianjurkan dalam agama Islam supaya menjadikan anak – anak yang sholih dan sholihah sehingga menjadi remaja yang berilmu dan berpendidikan sesuai dengan apa yang dianjurkan dalam al – Qur’an. Memang diperlukan pengetahuan ibu mengenai stimulasi perkembangan anak sangat diperlukan, dalam rangka pelaksanan program Bina Keluarga Balita, para kader kesehatan dan kader posyandu bisa melakukan kegiatan rutin pertemuan kelas Ibu dan Balita dengan memberikan materi penyuluhan kepada para ibu akan pentingnya gizi bagi pertumbuhan balita. Gizi yang baik akan menunjang pertumbuhan balita secara normal. Akan tetapi gizi yang buruk dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan balita. Hal ini juga yang memungkinkan atau penyebab potensi adanya stunting (pertumbuhan kerdil) bagi si balita. Oleh karenanya wawasan para ibu yang memiliki balita harus diperbanyak agar ketika di rumah para ibu dapat memberikan perhatian penuh pada si buah hatinya akan asupan gizi yang berkualitas untuk mencegah timbulnya stunting pada diri si anak tersebut. Sehingga program yang diadakan oleh pemerintah dengan mengadakan program tribina sangat diperlukan agar pendidikan seorang anak mulai dari balita sampai remaja bisa diperhatikan dan dipantau oleh orang tua. Hal tersebut harus didukung dengan pemahaman orang tua tentang cara merawat dan mendidik anak dengan baik. Selain memperhatikan balita dan remaja, keluarga juga harus memperhatikan orang tua yang sudah lanjut usia, menurut Islam, jika sudah menginjak lanjut usia maka usia sudah tidak produktif lagi untuk melakukan hal yang biasa dilakukan pada waktu muda. Maka dari itu, kesehatan dan kegiatan para lansia butuh diperhatikan dengan tujuan supaya kondisi para lansia bisa dipantau dengan adanya pelaksanaan tribina yang ada di desa masing – masing. Karena menurut Islam merawat orang tua adalah kewajiban bagi anak untuk berbakti kepada orang tua.

Menurut hasil beberapa penelitian, kondisi generasi remaja pada dewasa ini menunjukkan pergaulan yang sudah sangat bebas dan sangat berpotensi mengarah ke perilaku negatif seperti seks bebas dan penggunaan narkoba. Hal inilah yang mendasari diselenggarakannya kegiatan Pelayanan Komunikasi Informasi dan Edukasi oleh PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) di masing – masing daerah.

Isu yang cukup besar saat ini kaitannya dengan remaja, yaitu kasus Kehamilan Tidak Diinginkan atau sering disingkat dengan KTD. Hal ini juga menjadi salah satu yang mempengaruhi cukup tingginya tingkat perceraian. Pernikahan di usia muda dengan belum adanya kesiapan kehidupan berkeluarga menjadikan keluarga rentan terhadap permasalahan yang bisa mengarah pada perceraian. Pengajuan permohonan cerai cukup besar jumlahnya pada beberapa waktu ini, dimana hampir ada satu permohonan cerai di beberapa minggunya.

Mengenai hal tersebut, bahwa perlu adanya peran serta kita, orangtua dan tentunya masyarakat untuk memberikan pengarahan yang tepat kepada remaja-remaja disekitar kita. Oleh karena itu BKR diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk permasalahan seputar remaja tersebut.

Bahwa terdapat adanya program Genre (Generasi Berencana). Program ini merupakan upaya dalam rangka mewujudkan tegar remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko Triad KRR (tiga resiko yang dihadapi oleh remaja, yaitu Seksualitas, HIV/ AIDS dan Napza -red), menunda usia pernikahan, mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera serta menjadi contoh, model, idola dan sumber informasi bagi teman sebayanya. Program Genre ini terdiri dari PIKR/PIKM yang dipusatkan pada golongan remaja/mahasiswa dan BKR yang dipusatkan pada keluarga yang memiliki remaja

BKR sendiri merupakan wadah kegiatan yang beranggotakan keluarga yang mempunyai remaja usia 10 – 24 tahun dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang remaja, dalam rangka meningkatkan kesertaan, pembinaan, dan kemandirian ber-KB bagi anggota kelompok.

 UUPKS

Bahwa program UPPKS ini memang berguna sekali dalam mensejahterahkan masyarakat dari bidang ekonomi, karena dengan adanya program UPPKS banyak warga atau masyarakat di daerah masing – masing yang memiliki usaha terbantu, dan yang tidak memiliki usaha mulai berfikir untuk membuka usaha, guna untuk membantu perekonomian keluarga.

Tidak lain salah satu tujuan dari program ini adalah untuk mengembangkan dan mensejahterakan ekonomi masyarakat. Yang mana didalam hukum Islam hal tersebut merupakan bagian dari saling tolong menolong sesama umat. UPPKS berkaitan dengan kajian mu’āmalah māliyyah (hubungan ekonomi) di antara masyarakat. Tujuan dari mu’āmalah māliyyah adalah untuk mengaitkan dunia dan agama, menegakkan keadilan, menjaga persaudaraan, menjamin kestabilan, menolak bahaya dan menjaga kemaslahatan di antara manusia. Prinsip-prinsip mu’āmalah adalah prinsip tidak diperbolehkan memakan harta orang lain secara batil (QS. Al-Baqarah [2]:188), prinsip suka sama suka (tarāḍin) (QS. Al-Nisa’ [4]: 29, prinsip tidak mengandung praktik eksploitasi dan saling merugikan yang membuat orang lain teraniaya (QS. Al-Baqarah [2]: 279, dan prinsip tidak mengandung riba (QS. Al-Baqarah [2].

 PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja)

Tujuan dari kegiatan PIK-RM yakni agar para remaja tidak terjerumus pada pergaulan bebas, memiliki keterampilan, memiliki kegiatan yang positif, memiliki semangat dalam mengejar pendidikan serta berprilaku baik dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Adanya PIK-R/M pada ruang lingkup remaja memiliki peran yang sangat penting, artinya untuk membantu remaja memperoleh informasi dan layanan konsultasi yang memadai dan benar tentang mempersiapkan kehidupan keluarga bagi remaja. Adanya pelaksanaan PIK-R diharapkan menjadi salah satu ujung tombak Pembangunan Keluarga dari sisi remaja.

Adapun PIK-R sudah sesuai dengan hukum Islam, karena membimbing remaja menuju kebaikan merupakan sebuah kebaikan dan menasehati dalam kebenaran sangat dianjurkan dalam Islam sesuai dengan QS. Al-Ashr : 3.

 Keluarga Berencana

Pada awalnya program keluarga berencana dilaksanakan pada masa pemerintahan Soeharto yaitu saat Orde Baru. Secara umum, tujuan dari Program Keluarga Berencana ini yaitu untuk mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, dan mengatur kehamilan. Sebagai salah satu kebijakan dari pemerintah, tanpa tanggung – tanggung program ini diberlakukan pada seluruh lapisan masyarakat, baik dari keluarga dengan ekonomi yang tinggi maupun rendah, yang beragama Islam maupun non muslim. Namun banyak yang menolak mengenai program ini tentunya dengan berbagai pendapat, terlebih dilarang oleh agama.

KB menjadi persoalan yang polemic. Ada beberapa ulama yang menyatakan bahwa perbuatan ini termasuk membunuh keturunan. Firman Allah dalam QS. Al-Isra/ 17:31:

“Dan janganlah kamu membunuh anak – anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

Dan juga dalam Q.S al – An’am/6: 151 : “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu/bapak, janganlah kamu membunuh anak – anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan – perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar, demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).”

Menurut penulis ayat ini bisa dipahami sebagai upaya aborsi, yaitu pengguguran kehamilan. Hal ini dilarang oleh syariat Islam karena sebagai bentuk pembunuhan anak yang sudah ada wujudnya. Kecuali ada alasan medis yang dapat diterima secara syar’i.

Bahwa pada dasarnya KB adalah mubah (boleh), dan ia bisa berubah menjadi haram dan wajib tergantung pada apakah ia dapat melahirkan kemaslahatan dan mencegah munculnya kemudharatan karena esensi hukum Islam adalah mewujudkan kemaslahatan bagi umatnya, kaidah fiqih jelas menyatakan :

“Dimana ada mashlahat maka disitulah ada hukum Allah”.

Akan tetapi ada juga ulama yang memperbolehkan keluarga berencana dengan alasan bahwa hal ini juga dijelaskan dalam Q.S an-Nisa/4: 9 :

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang – orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak – anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Dilihat dari tujuannya, menentukan halal dan haram dalam Islam tentu saja sangat berbeda. Keluarga Berencana memiliki orientasi yang berbeda – beda. Tentu saja tujuan ini juga menentukan bagaimana hukum keluarga berencana dalam islam sesuai dengan dampak yang ada. Islam tidak pernah memberikan aturan atau pelarangan yang tidak ada dampaknya. Seluruh aturan Islam berorientasi agar manusia selamat dari keterpurukan.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi semakin menjadi permasalahan yang serius, dan apabila tidak segera mendapat pemecahannya, maka laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali akan memberikan dampak hampir pada semua hal, mulai dari masalah ekonomi, maupun masalah kekeluargaan yang berdampak pada keharmonisan keluarga. Sampai saat ini program Keluarga Berencana telah diyakini dapat menekan dan mengatasi masalah kependudukan.

Dalam masalah keluarga, agama islam memiliki ajaran yang komprehensif yang terperinci. Agama Islam tidak pernah membebankan hal yang tidak dapat disanggupi umatnya. Segala peraturan dan anjurannya tidak terlepas dari tujuan demi kemaslahatan umat. Ada puluhan ayat Al-qur’an dan ratusan hadits Nabi yang memberikan petunjuk sangat jelas menyangkut persoalan keluarga, mulai dari pembentukan keluarga, hak dan kewajiban masing – masing unsur dalam keluarga hingga masalah warisan dan perwalian. Islam memang memberikan perhatian besar kepada penataan keluarga.

Mayoritas ulama berpendapat hukum KB harus dikembalikan kepada hukum asal sesuai dengan kaidah fiqih yang berlaku bahwa “Pada dasarnya segala sesuatu/perbuatan adalah boleh kecuali ada dalil yang menunjukkan keharapannya”. Tidak ada ayat Al – Qur’an dan Hadits Nabi yang secara tegas berbicara tentang KB. Kebanyakan dari mereka yang menolak Program KB karena menganggap hal itu dapat membatasi keturunan dan menyalahi qodrat Allah SWT. Dimana kenyataan bahwa banyak anak akan mendatangkan banyak rezeki. Padahal yang menjadi tujuan utama dalam program KB adalah menekan laju kependudukan, dengan membantu pasangan dalam pembinaan keluarga untuk menghasilkan keturunan yang sesuai dengan apa yang diharapkan dan dapat menjadi generasi yang terjamin dan bermanfaat.

Bahwa sejatinya tujuan utama dari program KB adalah menekan laju kependudukan bukan memaksa masyarakat untuk membatasi keturunan. Pada masa sebelumnya tag line dari keluarga berencana adalah “dua anak cukup” , tetapi sekarang ini telah diubah menjadi “dua anak lebih baik”. Artinya setiap pasangan bisa saja memiliki lebih dari dua anak, asalkan mampu memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi keluarga dan keturunannya kelak. Lalu sejak 3 tahun terakhgir tagline BKKBN menjadi “ Berencana Itu Keren”, yang berarti bahwa segala sesuatu harus direncanakan seperti kapan harus menikah, kapan harus mempunyai anak, berapa jumlah anak dsb. Hal itu yang kemudian menjelaskan bahwa program KB ini tidak melarang untuk melahirkan anak, tetapi membantu untuk mengatur dan mewujudkan keluarga yang diinginkan terkhusus lagi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.

Sayyid Sabiq dalam kitabnya fiqhus Sunnah sebagaimana dikutip Syaikh Kamil Muhammad “Uwaidah dalam Kitab fiqh wanita menyatakan, “diperbolehkan membatasi keturunan, jika keadaan suami banyak mempunyai anggota keluarga, sehingga dikhawatirkan tidak mampu memberikan pendidikan kepada putra – putrinya sehingga jika si istri dalam keadaan lemah atau terus menerus hamil, sementara suami dalam keadaan miskin. Pada kondisi, pembatasan kelahiran pada kondisi seperti itu diperbolehkan bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa pembatasan kelahiran pada kondisi seperti itu bukan hanya diperbolehkan, akan tetapi disunnahkan.

Penutup

Bangga Kencana adalah upaya penguatan Program BKKBN yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat dalam memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan total program KB, sebagai upaya mewujudkan keluarga yang berkualitas. Program Bangga Kencana memiliki beberapa program, yaitu Keluarga Berencana, Tribina yang meliputi Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga Lansia, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UUPKS), dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Berdasarkan analisis hukum Islam, program KB secara umum telah sesuai dengan hukum Islam.

Dalam program Tribina; Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia sudah sesuai dengan hukum Islam, karena merawat, memberikan makanan bergizi dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk balita dan remaja merupakan bagian dari kewajiban orang tua. Hal tersebut harus didukung dengan pemahaman orang tua tentang cara merawat dan mendidik anak dengan baik. Selain memperhatikan balita dan remaja, keluarga juga memperhatikan orang tua, khususnya yang sudah lansia, yang dalam Islam merupakan kewajiban bagi anak untuk berbakti kepada orang tua.

Dalam program KB, ulama berselisih pendapat mengenai penggunaan alat kontrasepsi, yang mayoritas membolehkan penggunaan alat kontrasepsi yang tidak menghalangi kehamilan secara permanen dengan syarat – syarat tertentu, khususnya yang membutuhkan keahlian khusus dalam pemasangannya seperti Implant, KB suntik, atau IUD. Adapun alat kontrasepsi yang bersifat permanen seperti vasektomi dan tubektomi, mayoritas ulama tidak membolehkannya.

UUPKS merupakan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera. Dalam hukum Islam, melakukan usaha sangat dianjurkan, apalagi untuk membantu ekonomi keluarga. Usaha peningkatan ekonomi keluarga juga sangat dianjurkan sebagai bagian dari tolong menolong. Namun yang perlu diperhatikan dalam bisnis Islam adalah usaha harus memenuhi syarat dan rukun yang sesuai dengan bisnis tersebut. Dalam bisnis Islam dilarang melakukan usaha yang mengandung riba dan unsur gharar. Maka selama UUPKS tidak mengandung unsur yang haram, maka hukumnya diperbolehkan.

Adapun PIK-R sudah sesuai dengan hukum Islam, karena membimbing remaja menuju kebaikan merupakan sebuah kebaikan dan menasehati dalam kebenaran sangat dianjurkan dalam Islam sesuai dengan QS. Al-Ashr : 3.

 

Daftar Pustaka

Al- Hukama, “The Indonesian Journal of Islamic Family Law”, Vol 8 No. 2 Tahun 2018. Agus Purnomo, “Pendidikan Anak Dini Usia (Padu) dalam Islam: Sebuah Analisis Gender”, Egalita, Vol.2 No. 2 Tahun 2007.

Arif Faturrahman “Konsep badan kependudukan dan keluarga berencana nasional (BKKBN) tentang keluarga berencana (KB) ditinjau dari hukum islam dan hukum positif, UIN syarif hidayatullah, Jakarta, 2011.

Astri Alviani, “Implementasi Program Bina Keluarga Remaja oleh Badan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera (BKBKS) di Kecamatan Sungai Pinang Kota Samarinda”, eJournal Administrasi Negara, Vol 5, No 3, 2017.

Hanafi, Hartanto 2003, Keluarga Berencana dan Alat Kontrasepsi, Nuha Medika, Yogyakarta.

Junadi, “Penyuluhan Bina Kelompok Lansia (BKL) guna Mewujudkan Keluarga Lansia Tangguh di Kecamatan Malo Kabupaten”, Jurnal Ilmiah Administrasi Negara.

Nur Lailatul Musyafa’ah, “Analisis Program Kampung Keluarga Berencana Perspektif Maqasid Al- syari’ah”, Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, Vol. XIII No. 2 Tahun 2019.

  1. Samad Usman, “Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Pendidikan Anak dalam Perspektif Islam”, Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak, Vol 1 No. 2 Tahun 2015.

Sri Reskianti, “Peran Istri dalam Upaya Meningkatkan Perekonomian Rumah Tangga ditinjau dari Ekonomi Islam”, Skripsi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2017.

Syafiq Hasyim, “Keluarga Berencana dalam Islam”, dalam Abdul Moqsit Ghozali, Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan, Yogyakarta: Lkis, 2002.

 

Oleh : Fatin Liyana, Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram

Jln. Gajah Mada Jempong Baru Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 83116.

Fatinliyana111200@gmail.com Tahun 2021