Malthus dan Thanos

Orang-orang yang mempelajari tentang kependudukan pasti pernah mendengar nama Thomas Malthus, seorang pakar demografi dan ekonomi politik dari Inggris. Meskipun Malthus terlahir pada abad ke 18, pemikirannya tetap menjadi rujukan ketika membahas banyak persoalan kependudukan hingga saat ini.

Salah satu teorinya yang sering dikutip adalah pertambahan penduduk akan mengikuti deret ukur dan pertambahan bahan makanan mengikuti deret hitung. Teori ini  menyatakan bahwa jumlah penduduk akan tumbuh lebih cepat dari pertumbuhan pasokan makanan. Hal ini akan mengarah pada ledakan penduduk yang tidak disertai dengan kemampuan untuk mendapatkan makanan. Hasil akhirnya adalah kelaparan dan kemiskinan.

Pendapat Malthus ini punya kemiripan dengan tokoh antagonis di salah satu film Marvel yang popular beberapa tahun yang silam, Thanos. Tokoh ini dikisahkan menghapus setengah dari populasi alam semesta dengan kekuatan yang dia milki. Pada salah satu adegan, dia menjelaskan bahwa alasan di balik tindakannya adalah sumber daya alam semesta yang terbatas sehingga populasi yang akan menggunakannyapun perlu dibatasi.

Terdengar familiar kan?

Ada beberapa kemiripan yang dari keduanya, tidak hanya dari pemikiran dan paradigma yang mereka gunakan, tapi juga kekeliruan merekapun juga sama.

Untuk Thanos yang memang merupakan tokoh antagonis, maka kekeliruannya sudah bisa dilihat dari plot film tersebut. Lantas bagaimana dengan Malthus? Apakah tidak berlebihan menyebut seorang pemikir hebat memiliki kekeliruan yang sama dengan seorang supervillian?

Tanpa bermaksud mengesampingkan kontribusi Malthus terhadap pembahasan kependudukan, perlu diakui bahwa teori yang diajukan Malthus itu memang mengandung beberapa kelemahan yang cukup fatal. Kesalahan-kesalahan tersebut telah disampaikan oleh para pakar demografi baik yang semasa dengan Malthus ataupun setelahnya.

***

Malthus memunculkan teori ini sekitar abad ke 18 di mana kondisi tersebut masih berada dalam banyak keterbatasan sumber data. Dari hal ini banyak yang kemudian menganggap bahwa Malthus melandaskan teorinya lebih banyak pada prediksi yang subyektif dan data yang under coverage.

Pada perkembangan selanjutnya terlihat bahwa formulasi matematika yang digunakan Malthus dalam doktrinnya tidak sesuai dengan keadaan senyatanya. Teori yang menyebut persediaan makanan bertambah sesuai deret hitung dan populasi bertambah sesuai deret ukur tak bisa dibuktikan secara empiris. Bahkan pada kenyataannya pertumbuhan bahan makanan bertumbuh jauh melampaui analogi deret hitung sementara pertumbuhan populasi sangat jarang mengikuti model deret ukur.

Sebagai contoh , Malthus memprediksi jumlah penduduk akan menjadi dua kali lipat dalam kurun waktu 25 tahun. Akan tetapi hal ini berbeda dengan kenyataan. Periode waktu yang dibutuhkan agar populasi bisa menjadi dua kali lipat berbeda pada masing-masing negara dan wilayah. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, standar kesejahteraan dan perkembangan teknologi.

Sebagai contoh, populasi Bangladesh, Iran, Nigeria dan Mexico membutuhkan kisaran 32 tahun untuk mencapai dua kali lipat. Sementara Amerika butuh 120 tahun, Inggris 300 tahun, Jepang 350 tahun.

Sementara untuk Swedia, Denmark Finlandia dan Norwegia bisa lebih dari 350 tahun. Bahkan Rusia, Ukraina, Austria dan Jerman dengan tingkat fertilitas negara-negara tersebut saat ini dianggap tidak akan bisa mencapai populasi dua kali lipat.

Hal ini kemudian berkaitan dengan kritik berikutnya terhadap teori tersebut yaitu kegagalan Malthus melihat era baru perkembangan manusia. Masa kolonisasi atau pembukaan area-area baru termasuk daerah seperti Amerika, Australia, dan beberapa wilayah lainnya kemudian memberi peluang datangnya sumber alam yang melimpah untuk dikelola manusia. Kemungkinan-kemungkinan seperti ini seakan luput dari pembahasan yang disampaikan Malthus.

Bahkan salah satu perkembangan terbesar dalam peradaban manusia yang juga terjadi pada abad 18  tidak menjadi bagian dari pembahsan teori ini yaitu Revolusi Industri. Era ini adalah masa di mana terjadi perbaikan yang signifikan dalam hubungan tata kelola manusia dan sumber daya. Produksi massal, perbaikan kualitas kesehatan dan peningkatan kesejahteraan semuanya merupakan factor yang mempertegas kekeliruan doktrin dari teori Malthus ini.

Jika ingin membandingkan kembali dengan Thanos, maka sepertinya ada nuansa pesimis yang mendasari cara pendang kedua tokoh ini. Keduanya terkesan mengabaikan potensi manusia untuk menghadapi tantangan relasi manusia dan sumber daya.

Thanos melihat manusia sebagai makhluk primitif yang tidak mampu menemukan solusi sendiri untuk menjaga keharmonisan dengan alam.  Sementara Malthus melihat bahwa populasi yang besar akan membawa ancaman yang lebih besar pula bagi kemanusiaan.

Ada sebuah kutipan popular yang sering digunakan untuk mengkritik cara pandang pesimistis seperti di atas:

“A baby comes to the world not only with a mouth and a stomach, but also with a pair of hands”

“Seorang bayi lahir di dunia tidak hanya membawa satu mulut dan satu perut saja, tapi juga dengan membawa sepasang tangan.

***

 

Oleh: Ahmad Nurhalim