Mengajak Ibu-ibu untuk Rasional dalam Memilih Alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi merupakan temuan penting dalam sejarah ummat manusia untuk ikhtiarnya membatasi jumlah kelahiran. Tak terbayangkan seandainya tidak ada alat atau metode itu, maka populasi manusia menjadi tak terbendung dengan berbagai konsekuensinya.

Dalam hal ini alat kontrasepsi moderen yang dipakai untuk menunda, menjarakkan ataupun untuk berhenti melahirkan (tidak ingin anak lagi) sekarang ini, dilihat dari segi jangka waktu pemakaiannya dibagi menjadi 2 jenis.

Yang pertama adalah metode kontrasepsi jangka pendek (short acting method) yaitu kondom, pil dan suntikan. Kondom pemakaiannya hanya sekali pakai, setelah itu dibuang. Lalu pil waktunya setiap hari diminum dan berulang-ulang dari hari kehari pada waktu yang sama. Dan suntikan yang dipakai setiap bulan dan 3 bulan sekali tergantung jenisnya. Pil dan suntikan tidak boleh lupa dalam pemakaiannya agar bisa efektip mencegah kehamilan.

Kemudian yang kedua adalah metode kontrasepsi jangka panjang atau yang sering disingkat dengan; MKJP (long acting method), yang terdiri dari steril untuk wanita dan pria, lalu ada IUD atau spiral dan Implan. Steril wanita dan pria merupakan cara ber-KB yang jangka waktunya permanen (selamanya). Sedangkan IUD tergantung jenisnya ada yang 5 tahun sampai 10 tahun. Dan implan yang efektip dipakai untuk jangka waktu 3 sampai 4 tahun.

Kalau secara medis, untuk pemakaian alat kontrasepsi dalam jangka panjang (lebih dari 2 tahun) selama ini disarankan kepada calon akseptor untuk memakai MKJP, baik itu steril wanita dan pria, IUD ataupun Implan. Metode Steril direkomendasikan adalah karena kalau sudah memakai metode itu maka tidak akan berpikir lagi untuk punya anak lagi, sifatnya permanen. Sedangkan yang kedua adalah IUD atau spiral karena jangka waktu pemakaiannya yang cukup lama  ada yang sampai 10 tahun untuk bisa dibongkar dan dipasang lagi. Dan ketiga implan yang waktu pemakaiannya bisa 3 sampai 4 tahun.

Pemakaian MKJP terutama disarankan kepada pasangan yang sudah tidak ingin anak lagi. Hal itu karena bagi PUS yang tidak ingin anak lagi, lamanya waktu sejak memutuskan tidak ingin menambah anak lagi sampai dengan kondisi monopause bisa sampai puluhan tahun. Misalnya saja seorang ibu memutuskan tidak akan menambah anak lagi pada usia 30 tahun (karena sudah punya anak 2 atau 3 orang), lalu usia monopause (tidak haid lagi) adalah umur 50 tahun, maka ada jarak waktu sampai 20 tahun dalam pemakaian alat kontrasepsi.

Maka selama masa 20 tahun itu, ibu-ibu disarankan untuk memakai MKJP, baik itu steril, IUD, maupun implan. Sehingga dengan praktek seperti itu akan membuat ibu-ibu menjadi nyaman karena praktis dari segi waktu, satu kali pakai untuk selamanya bagi steril dan  sampai 10 tahun untuk IUD dan 4 tahun untuk implan. Kalau saran ini diikuti maka ibu yang bersangkutan disebut dengan peserta KB yang rasional dalam memilih alat kontrasepsi.

Sebaliknya untuk yang memakai alat kontrasepsi jangka pendek yaitu suntikan dan pil. Dalam masa 20 tahun itu maka jelas sangat tidak praktis, karena dengan suntikan terpaksa harus bolak balik ke fasilitas kesehatan dari bulan ke bulan, atau terus minum pil KB untuk masa yang sangat panjang itu. Lain lagi dengan efek samping dari suntikan dan pil KB untuk pemakaian jangka panjang yang menurut medis salah satunya adalah akan mengurangi gairah seksual dari seorang ibu.

Kemudian selain dari sisi medis, pemakaian MKJP juga menguntungkan dari sisi program Kepedudukan. Karena MKJP bersifat stabil, digunakan dalam jangka panjang sehingga bisa meminimalisir faktor lupa pada pemakainya.

Sedangkan penggunaan alat kontrasepsi jangka pendek bersifat labil, karena sering terjadi lupa pada pemakainya, sehingga kehamilan yang tidak diinginkan sering juga terjadi. Ini akan menaikkan angka drop out, dalam pemakaian alat kontrasepsi.

Karena pentingnya pemakaian MKJP itu, maka pemerintah Indonesia melalui BKKBN terus mengkampanyekan penggunaan MKJP dari tahun ke tahun, bahkan diberikan pelayanan tanpa biaya bagi ibu-ibu yang mau memakai IUD, steril dan implan.

Suntikan masih tertinggi

Walaupun pihak BKKBN terus berupaya mengkampanyekan pemakaian MKJP selama ini, akan tetapi ternyata faktanya masih sebagian besar  dari Pasangan Usia Subur (PUS) lebih nyaman dan senang melindungi dirinya dari kehamilan dengan alat kontrasepsi suntikan dan Pil.

Data sampai dengan tahun 2021 yang didapat dari hasil Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK21) yang dilaksanakan oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)  memperlihatkan sebagian besar dari PUS yang aktip melindungi dirinya dengan salah satu alat kontrasepsi menggunakan Suntikan.

Berdasarkan hasil PK21 itu, dari 21.897.849 pasangan yang aktip memakai kontrasepsi secara nasional, sebanyak 16.991.069 pasangan diantaranya atau 77,59% yang memakai metode jangka pendek yaitu Suntikan, Pil, Kondom dan Mal. Metode Mal adalah Metode Amenore Laktasi yaitu metode menyusui bayi ekslusif, yang secara tradisional bisa mencegah kehamilan. Adapun rinciannya adalah;

No Jenis alkon Jumlah pemakai Persentase
1 Suntikan 13.119.689 59,91
2 Pil 3.458.659 15,79
3 Kondom 402.321 1,84
4 Mal 10.400 0,05
  JUMLAH 16.991.069 77,59

Sumber; PK21, BKKBN

Hasil PK21 itu memperlihatkan khusus untuk suntikan saja, pemakainya hampir 60% dari peserta KB aktif, dan menjadi alat kontrasepsi terbanyak dipakai. Bahkan ada temuan di lapangan mengenai suntikan ini, seorang ibu yang sudah monopause, masih datang ke Bidan untuk minta dilayani suntik KB. Katanya dia merasa lebih sehat setelah suntik KB itu.

Kemudian untuk MKJP, menurut hasil PK21, ada sebanyak 4.906.780 pasangan yang menggunakannya dari        21.897.849 pasangan yang aktip memakai kontrasepsi, atau 22,4% dari total peserta KB aktif. Adapun rinciannya adalah;

No Jenis alkon Jumlah pemakai Persentase
1 Steril Wanita (MOW) 916.575 4,19
2 Steril Pria (MOP) 49.208 0,22
3 IUD 1.750.257 7,99
4 Implan 2.190.740 10,00
  JUMLAH 4.906.780 22,4

Sumber; PK21, BKKBN

Dari data itu, pemakai Implan adalah terbanyak untuk MKJP yaitu 10% baru kemudian IUD 7,99%.

Walaupun belum menjadi yang terbesar porsinya, akan tetapi ikhtiar BKKBN untuk meningkatkan porsi pemakaian MKJP menunjukkan keberhasilan. Hal itu terlihat dari data sebelumnya yaitu data hasil SDKI 2012 memperlihatkan MKJP masih 10.60% dari peserta KB aktif, kemudian SDKI 2017 MKJP meningkat lagi menjadi 13.40% dari peserta KB aktif. Dan pada tahun 2021 menurut PK21, persentasenya meningkat lagi menjadi 22,4%.

Akan tetapi untuk penggunaan MKJP di Indonesia, ternyata masih jauh tertinggal dengan tren global, dimana tingkat penggunaan MKJP di seluruh dunia menurut data dari UN DESA Population Division (2019), sudah berada pada angka 45.2 persen, sementara Indonesia baru setengah dari itu yaitu 22,4 persen. Dan ini menjadi tantangan serius kedepan ini.

Demikian pula dari segi penggunaan kontrasepsi menurut jenisnya, Indonesia masih didominasi oleh suntikan (60%), sementara di tingkat global, suntikan KB hanya dipakai oleh 8% dari peserta KB aktif (current user).

Pada tingkat global untuk per mix kontrasepsi, steril wanita merupakan pilihan terbanyak dari ibu-ibu yaitu yang mencapai 219 juta pengguna yang merupakan 24% dari peserta KB aktip seluruh dunia sebanyak 922 juta pasangan. Kemudian yang kedua kondom pria 189 juta (21%) dan ketiga IUD sebanyak 159 juta (17%). Selengkapnya terlihat pada gambar berikut;

Sumber; UN DESA Population Division (2019), “Contraceptive Use by Method 2019”

 

Masih sulit diarahkan

Sepertinya memang masih cukup sulit untuk dirubah, tren ataupun kecendrungan pasangan usia subur (PUS) di Indonesia dalam penggunaan alat konrasepsi. Untuk kedepan ini, pola masih tetap sama dimana suntikan dan pil yang paling mendominasi dan diminati.

Lalu pertanyaannya adalah; mengapa PUS di Indonesia lebih menyukai penggunaan suntikan dan pil daripada MKJP?

Dari berbagai hasil peneltian yang ada serta pertanyaan yang diajukan langsung kepada ibu-ibu yang hadir di posyandu tentang alasannya tidak mau steril, atau menggunakan IUD dan Implan, maka ada beberapa penyebab yang diungkapkannya yaitu;

  1. Takut

Ini khusus untuk metode steril serta pemasangan implan, yang dipasang melalui proses operasi kecil. Sebagian besar ibu-ibu mengatakan takut untuk melakukan operasi, baik melalui perut untuk steril maupun sekedar goretan kecil di lengan untuk implan. Padahal pada saat pemasangan metode itu dilakukan pembiusan lokal (anastesi) sehingga tidak terasa sakit.

Demikian pula walaupun ada testimoni atau bujukan dari teman-temannya sesama ibu-ibu yang sudah memasang implan dan operasi steril tentang rasanya yang tidak sakit, tidak banyak berpengaruh menghilangkan rasa takutnya.

  1. Malu

Rasa malu kalau untuk pemasangan alat kontrasepsi spiral, karena akan dipasang melalui vagina, walaupun yang memasangnya adalah sesama perempuan yaitu Bidan. Bahkan Bidan tempatnya melahirkan juga mereka tetap mengatakan malu.

“Ya lainlah dengan waktu melahirkan, kita dalam posisi setengah sadar. Sedangkan untuk pemasangan IUD, kan kita sadar, dan pasti muncul rasa tidak enak dan malu”, jelas seorang ibu di tempat Posyandu.

  1. Suami tidak Setuju

Seringkali istri sudah berkomitmen untuk pemakaian salah satu dari MKJP tetapi ujung-ujungnya gagal karena suaminya tidak mengizinkan. Bukan karena  suaminya seorang yang paham tentang alat kontrasepsi, melainkan lebih banyak disebabkan karena ketidak tahuannya tentang metode kontrasepsi lalu ngotot dan otoriter.

  1. Rumor

Ternyata alkon IUD dan implan juga mengalami berita hoax ataupun rumor sama seperti berita politik. Sayang banyak yang percaya dengan rumor itu sehingga berpengaruh terhadap pemahaman masyarakat terhadap alkon itu.

Untuk IUD dikatakannya bisa berjalan-jalan ke organ tubuh yang lain, bahkan konon katanya bisa nyampai di jantung. Sedangkan implan dikatakan pemakainya tidak akan bisa kerja keras, tidak bisa mengangkat-angkat.

Dari fakta sikap ibu-ibu dan masyarakat pada umumnya terhadap alat kontrasepsi itu bisa disimpulkan, bahwa kedepan ini dibutuhkan adanya revolusi mental dari ibu-ibu agar bisa rasional dalam memilih alat kontrasepsi. Demikian pula perlu adanya kesabaran dari para pengelola program.@

 

Oleh : Agus Netral, SE.

Penyuluh KB Desa Santong dan Embung Raja Kecamatan Terara Lombok Timur. Bisa dihubungi di; agusnetral06@gmail.com