GENERASI MILENIAL DALAM ERA BONUS DEMOGRAFI DAN ERA INDUSTRI 4.0

Akhir akhir ini kerap kita mendengar dan sepertinya  tidak asing lagi bagi kita, kata kata Bonus Demografi, Generasi Milenial dan Revolusi Industry 4.0

Ya ….. Indonesia sedang memasuki era baru demografi yang lebih dikenal sebagai era bonus demografi yang terjadi akibat berubahnya struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio perbandingan antara jumlah penduduk non produktif (usia kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap jumlah penduduk produktif (usia 15-64 tahun) atau yang disebut sebagai rasio ketergantungan (dependency ratio). Bonus demografi merupakan fenomena langka karena hanya akan terjadi satu kali dalam sejarah suatu bangsa. Bonus Demografi terjadi ketika proporsi jumlah penduduk usia produktif berada di atas 2/3 dari jumlah penduduk keseluruhan, atau dengan kata lain bonus demografi terjadi ketika rasio ketergantungan angkanya berada di bawah 50.

Perubahan struktur penduduk yang memicu terjadinya bonus demografi di Indonesia pada hakekatnya merupakan hasil penurunan fertilitas jangka panjang.  Jika dicermati, angka fertilitas total (Total Fertility Rate – TFR) selama lima dasawarsa terakhir terus mengalami penurunan. Pada tahun 1971, TFR Indonesia sebesar 6 yang menunjukkan perkiraan jumlah anak yang dilahirkan oleh wanita selama masa reproduksi sebanyak 6 orang anak. Angka ini terus mengalami penurunan, tahun 1999 menjadi sekitar 2,59, tahun 2012 sekitar 2,44, dan tahun 2017 sekitar 2,33.

Penurunan angka fertilitas ini mengakibatkan turunnya jumlah anak yang berusia kurang dari 15 tahun. Selain terjadi penurunan fertilitas, Indonesia juga mengalami

penurunan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate – IMR). Pada tahun 1971, IMR Indonesia sebesar 145 yang berarti sekitar 145 diantara 1000 bayi yang lahir akan meninggal sebelum mencapai ulang tahun pertama. Angka ini terus mengalami penurunan, tahun 2012 menjadi sekitar 26 dan tahun 2017 sekitar 25.

Penurunan kematian bayi mengakibatkan meningkatnya jumlah bayi yang tetap hidup ke usia dewasa. Pola menurunnya TFR dan IMR tersebut menggambarkan terjadinya transisi demografi yang secara jangka panjang berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk usia produktif yang tercermin dari menurunnya rasio ketergantungan. Fenomena menurunnya angka ketergantungan yang terus berlanjut hingga mencapai bonus demografi pada titik terendah secara tidak langsung akan meningkatkan suplai angkatan kerja (labor supply), tabungan (saving), dan kualitas sumber daya manusia (human capital). Pada era ini, juga diikuti berkurangnya biaya untuk pemenuhan kebutuhan penduduk usia tidak produktif, akibatnya sumber daya yang ada akan dapat dialihkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan penduduk. Dengan kata lain, pada periode bonus demografi akan terbuka sebuah kesempatan/ jendela peluang (window of opportunity) yang dapat dimanfaatkan untuk meraih keuntungan ekonomis yang lebih besar. Jendela peluang ini diperkirakan akan terjadi sekitar periode tahun 2019-2024, yaitu ketika rasio ketergantungan mencapai sekitar 45,4.

Bonus demografi diibaratkan pedang bermata dua, dapat menjadi berkah atau bencana untuk bangsa Indonesia. Artinya dalam menghadapi bonus demografi kita harus kembali kepada sumber daya manusia. Jika sumber daya manusia berkarakter sehat, cerdas, dan produktif akan membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi penduduknya. Meningkatnya  jumlah penduduk produktif tentunya menjadi peluang emas untuk  menggerakkan roda perekonomian.

Namun jika sebaliknya, akan terjadi bencana demografi yang akan membuat orang-orang di usia produktif menjadi pengangguran mengingat lapangan kerja yang terbatas dan akan terjadi peningkatan persaingan antar pencari kerja

Generasi millenial sangat erat kaitannya dengan Bonus demografi  dan Revolusi Industri 4.0 atau Revolusi Industri Generasi ke empat. Dimana revolusi ini menitikberatkan pola digitalisasi dan otomasi disemua aspek kehidupan manusia  yang sangat perlu dipersiapkan dengan skill masa depan (future skill), dimana Revolusi Industri 4.0 muncul dengan menekankan pembaharuan serba teknologi di antaranya lewat poladigital economy (digitalisasi ekonomi)artificial intelligence (kecerdasan buatan)big data (data dalam skala besar)robotic (pemakaian robot) sebagai tenaga kerja                

Investasi pada generasi milenial saat ini juga sebagai kesiapan untuk menghadapi ledakan lansia pada 30 tahun mendatang. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas, mereka akan bekerja keras di saat masa muda dan mempersiapkan masa tuanya dengan baik.

Generasi muda saat ini boleh disebut sebagai generasi Milinial, Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar, Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Generasi Millennial( Generasi Y ) adalah generasi anak muda yang lahir dalam rentang tahun 1980-an sampai 2000. Sehingga boleh dikatakan, yang berada di usia 19-39 tahun merupakan generasi millennial yang dianggap mengalami transformasi life style drastis, terutama sejak berkembangnya teknologi digital yang semakin pesat.

Dan sebagian dari kebiasaan generasi milennial saat ini yang dapat dilihat dan dirasakan adalah diantaranya :

  1. Minat membaca secara konvensional kini sudah menurun karena Generasi Y lebih memilih membaca lewat smartphone mereka
  1. Millennial wajib memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi
  1. Millennial pasti lebih memilih ponsel daripada televisi. Menonton sebuah acara televisi kini sudah tidak lagi menjadi sebuah hiburan karena apapun bisa mereka temukan di telepon genggam
  1. Millennial menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambil keputusan mereka

Perubahan life style yang drastis tersebut  dan sebagian dari kebiasaan mereka   membawa perubahan terhadap sikap perilakunya yang diantaranya adalah cenderung bersifat konsumtif,  ya … memang kebutuhannya semakin meningkat yang terkadang membuat para orang tua harus berfikir ekstra untuk memenuhinya

Penduduk penduduk milenial  yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000 yang dapat dikatakan sebagai penduduk produktif dengan kisaran usia 16 sampai dengan 64 tahun  sebesar 33.75%, dengan jumlah yang hampir berimbang antara laki-laki dan perempuan.  Generasi milenial merupakan modal utama dalam fenomena  bonus demografi. Potensi generasi milenial yang dapat dimaksimalkan  akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, peran  generasi milenial yang merata tanpa adanya kesenjangan gender juga  akan mengoptimalkan manfaat dan potensi yang ada.

Generasi milenial memiliki peluang dan kesempatan berinovasi yang sangat luas. Terciptanya ekosistem digital berhasil menciptakan beraneka ragam bidang usaha tumbuh menjamur di Indonesia. Terbukti dengan semakin menjamurnya perusahaan/usaha online, baik di sektor perdagangan maupun transportasi. Dengan inovasi ini, generasi milenial Indonesia berhasil menciptakan sebuah solusi untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar dengan transportasi onlinenya.

Selain itu berhasil memberi dampak ekonomi yang besar bagi tukang ojek yang terlibat di dalamnya. Sementara kehadiran bisnis e-commerce karya millennials Indonesia mampu memfasilitasi millennials yang memiliki jiwa wirausaha untuk semakin berkembang. Berbagai contoh inovasi inilah yang membuktikan bahwa generasi millennials Indonesia mampu mewujudkan kemandirian secara ekonomi.

Dari sisi pendidikan, generasi milenial juga memiliki kualitas yang lebih unggul. Generasi ini juga mempunyai minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka menyadari bahwa pendidikan merupakan prioritas yang utama. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia patut optimis terhadap berbagai potensi yang dimiliki oleh generasi milenial. Pola pikir yang terbuka, bebas, kritis, dan berani adalah suatu modal yang berharga. Ditambah penguasaan dalam bidang teknologi, tentu akan menumbuhkan peluang dan kesempatan berinovasi.

Menurut Yoris Sebastian dalam bukunya Generasi Langgas Millennials Indonesia, ada beberapa keunggulan dari generasi milenial, yaitu ingin serba cepat, mudah berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, kreatif, dinamis, melek teknologi, dekat dengan media sosial, dan sebagainya.

Generasi milenial memiliki karakter jauh lebih kreatif dan informatif. Generasi tersebut juga memiliki cara pandang yang berbeda dengan generasi sebelumnya

Dari sisi pola pikir, generasi milenial memiliki perbedaan dengan generasi sebelumnya. Generasi ini dilahirkan dan dibesarkan pada saat gejolak ekonomi, politik, dan sosial melanda Indonesia. Deru reformasi mampu memberikan dampak yang mendalam bagi generasi millennials. Generasi tersebut tumbuh menjadi individu-individu yang open minded, menjunjung tinggi kebebasan, kritis dan berani. Hal tersebut juga didukung dengan kondisi pemerintahan saat ini yang

lebih terbuka dan kondusif.

Dalam aspek bekerja, Gallup (2016) menyatakan para milenials dalam bekerja memiliki karakteristik yang jauh berbeda dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, diantaranya adalah;

  1. Para milenials bekerja bukan hanya sekedar untuk menerima gaji,

tetapi juga untuk mengejar tujuan (sesuatu yang sudah dicita citakan

sebelumnya),

  1. Milennials tidak terlalu mengejar kepuasan kerja, namun yang lebih,

milenials inginkan adalah kemungkinan berkembangnya diri mereka

di dalam pekerjaan tersebut (mempelajari hal baru, skill baru, sudut

padang baru, mengenal lebih banyak orang, mengambil kesempatan

untuk berkembang, dan sebagainya)

  1. Milennials tidak menginginkan atasan yang suka memerintah dan mengontrol
  2. Milennials tidak menginginkan review tahunan, milenials menginginkan on going conversation
  3. Milennials tidak terpikir untuk memperbaiki kekuranganya, milenials lebih berpikir untuk mengembangkan kelebihannya.
  4. Bagi milennials, pekerjaan bukan hanya sekedar bekerja namun bekerja adalah bagian dari hidup mereka.

Karakteristik khas dari milennials ini kemudian perlu dipahami pihak pemerintah maupun swasta. Ketika ada kesesuain antara keduanya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kerja generasi milenial, kemudian mempercepat putaran roda produksi, sehingga pemaksimalan bonus demografi lebih mudah tercapai.

Strategi lain memaksimalkan potensi generasi milenial adalah dengan membentuk para wirausaha baru sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan saat bonus demografi sedang terjadi, meningkatkan kompetensi tenaga keja melalui pelatihan dan pengembangan (kepemimpinan, pengambilan keputusan, berpikir strategis, berpikir analis), dan sebagainya.

Berbagai karakteristik yang dimiliki oleh generasi milenial merupakan modal untuk berkompetisi dalam bonus demografi Indonesia. Generasi millennials akan mampu menghadapi tantangan bonus demografi sekaligus mewujudkan kemandirian bangsa dengan catatan mereka harus menyadari akan potensi-potensi yang dimilikinya. Jika generasi ini mampu menyadari berbagai potensi yang dimiliki akan timbul sikap optimis. Sikap tersebut sangat penting guna menghadapi gejolak bonus demografi yang akan terjadi dalam waktu dekat. Selain itu, upaya ini akan mubazir jika pemerintah dan berbagai komponen pendukung tidak turun tangan. Peranan pemerintah melalui berbagai kebijakan dan regulasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kepemudaan sangat diperlukan. Dengan demikian, generasi milenial akan semakin berkembang dan berkompeten untuk menghadapi tantangan ini. Hal tersebut akan semakin efektif apabila setiap pihak mampu bersinergi untuk mewujudkan apa yang kita upayakan bersama.

Keluarga memegang peranan yang sangat penting bagi  generasi milenial untuk  menghadapi tantangan bonus demografi yang kecendrungannya bahwa generasi milenial  tetap dihadapkan dengan permasalahan, tuntutan pendidikan yang semakin tinggi, lapangan pekerjaan yang semakin sulit, serta mahalnya biaya hidup (belum lagi biaya kuliah yang semakin melangit) membuat banyak millenials mengalami depresi karenanya.

Generasi milenial cenderung menjadi egosentris dan cuek dengan keadaan sekitar

Karena semakin tingginya persaingan atau kompetisi baik di lingkungan pertemanan, sekolah, ataupun lingkungan kerja, membuatnya cenderung  mementingkan diri sendiri agar selalu lebih unggul daripada yang lain.  Apalagi dengan adanya smartphone dan media sosial yang menjadi dunianya  sendiri yang membuat mereka cenderung lebih cuek dengan berpikir bahwa kita dapat menghubungi orang-orang yang kita kenal lewat media sosial, padahal kenyataannya dengan terhubung ke semua orang sepanjang waktu membuat mereka kurang memperhatikan orang-orang yang paling disayangi.

Karena itu perlu diingat oleh generasi millenials untuk lebih berusaha mengendalikan diri dengan kemajuan teknologi saat ini  agar tidak terlena dengan melupakan realita hidup yang sebenarnya. tidak bermalas-malasan dengan semua kemudahan yang ada, dan sedapat mungkin  menjadikannya modal untuk terus berkarya.

Peran keluarga pada upaya tersebut sangat ditentukan oleh komunikasi keluarga pada saat kumpul bersama. Sediakan waktu yang sesungguhnya untuk bersama membahas arah karakter keluarga, antara ayah, ibu dan anak-anak. Keluarga Tetap dijadikan ladang persemaian nilai nilai kehidupan yang diwujudkan melalui optimalisasi fungsi  keluarga yaitu fungsi Agama, fungsi Sosial Budaya. fungsi Cinta dan Kasih Sayang. fungsi Perlindungan, fungsi Reproduksi. fungsi Sosialisasi dan Pendidikan fungsi Ekonomi, dan fungsi Lingkungan

Keluarga perlu mempertahankan nilai dan fungsi keluarga yang menjadi indikator ketahanan suatu keluarga, karena ketahanan  keluarga akan menggambarkan kualitas kepribadian dan pola perilaku anggota keluarga dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Indikator ketahanan keluarga berdasarkan nilai dan fungsi keluarga dibedakan menjadi tiga kategori yaitu ketahanan fisik, ketahanan social dan ketahanan psikologis agar dapat tercipta keharmonisan dan ketahanan dalam keluarga.

Generasi milenial  dalam menghadapi tantangan  bonus demografi ini tentu memerlukan keluarga yang berkualitas, sehat, gizi cukup, pendidikan memadai, dan sejahtera. Pemerintah sudah memiliki program menghindari 4 T, yakni melahirkan Terlalu muda, Terlalu banyak (anak), Terlalu rapat (jarak kelahiran) dan Terlalu tua, akan tetapi jika masyarakat abai dan tidak memiliki kesadaran yang cukup, maka hasilnya akan sulit dicapai.

Generasi Milenial butuh pendidikan yang lebih baik dengan metode pembelajaran yang tepat. metode pembelajaran yang menarik dan inovatif. orang tua memiliki peranan krusial dalam membimbing anak anaknya. Sebab orang tua yang lebih dekat dengan mereka, satu rumah dengan mereka, setiap saat berinteraksi dengan mereka. Jika orang tua salah dalam membimbing maka secara tidak langsung orang tua telah membiarkan generasi milenial hancur masa depannya.

Generasi Milenial harus dapat menolak nikah muda dan memiliki perencanaan untuk membentuk keluarga kecil bahagia Sejahtera (KKBS). terhindar dari Seks Bebas dan Terhindar dari penyalahgunaan Napza

Dengan melihat kondisi yang ada, oleh karenanya kepada seluruh penyelenggara pemerintahan, filantropi  dan masyarakat untuk bersama menciptakan lingkungan yang kondusif guna membangun sumber daya manusia yang sehat, cerdas dan produktif serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan dan kebudayaan. Kita patut berbangga dan optimis  terhadap  berbagai potensi yang dimiliki oleh generasi milenial.. Oleh karena itu, generasi milenial  adalah modal besar untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam segala aspek untuk menghadapi tantangan bonus demografi dalam memasuki era industry 4.0.

 

Oleh : Drs. Rahyudin ( Penyuluh KB Ahli Muda )